Sabtu, 07 Agustus 2010

Cinta selamanya

Kari waktu itu masih berusia 9 tahun ketika istriku meninggal akibat kecelakaan mobil. Dia begitu kehilangan waktu itu, tugaskulah menghiburnya dengan baik. Segala sesuatu yang dilakukan mama Kari sebagai ibu harus saya lakukan, saya menjadi ibu sekaligus bapak bagi Kari. Kesepian selalu melanda diriku, kadang aku berpikir untuk menikah dan mengakhiri kesepian ini, hal ini selalu terpikir ketika aku mau tidur.

Saya sangat sulit sekali untuk tidur, kadang saya habiskan malam mengerjakan pe-kerjaan kantor, yang menaikkan karir saya tetapi saya tetap sendirian. Masturbasi merupakan kegiatan seksual yang nyata bagiku. Aku tak punya waktu untuk kencan, dan lokalisasi bukanlah pilihanku untuk ini karena lebih banyak waktuku bersama Kari. Malam hari setelah dia pergi tidur, aku memutar video X dan masturbasi sendiri. Aku selalu bisa tidur beberapa jam setelah melepaskan hasrat biologis tersebut, dan ini jadi kebiasaan.

Kejadian ini berlangsung kira-kira lebih setahun sejak kematian istriku karena kecelakaan. Waktu itu kira-kira jam 2 dan aku dalam keadaan bugil di kursi menonton adegan video seks di TV. Kesalahan fatalku adalah melakukan masturbasi saat itu Si pirang dalam film sedang mengisap penis si lelaki dan aku bayangkan betapa nikmatnya. Si lelaki membaringkan cewek tersebut dan menindihnya, dengan pelan menjilat selangkangannya sampai ke celah indahnya hingga mengeluarkan cairan. Ah, ingin rasanya aku menikmatinya! Si wanita berguling dan mengarahkan lubangnya ke wajah lelaki, dan lelaki tersebut mulai mengisapnya lagi. Aku merasa hampir mau ejakulasi. Ah.. Ah.. Ah.. Mau muncrat..

Tiba-tiba terdengar...

"Papa! Papa?" Ya Ampun, itu suara anakku 10 thn, Kari! Waktu terasa berjalan lambat, aku terkejut bukan kepalang dan tak sanggup bergerak.
"Papa.. Apa yang Papa lakukan?"

Aku tak kuasa berhenti. Terlambat untuk itu. Burungku meledak dan menumpahkan cairan pada paha dan perutku, muncrat banyak sekali, kemudian menetes ke tanganku, di mana anakku melihat tidak sampai enam kaki jaraknya.

"Papa, apa Papa baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Wajahku bersemu merah saat kejang terakhir melanda dan sperma meleleh di ujung penisku. Aku ambil handuk dan coba menutupi diriku. Rasa malu menyelimuti diri ku atas apa yang terjadi.
"Tak ada apa-apa Kari, kamu takut sesuatu terjadi padaku?" Alasan lemah tetapi aku tak mampu berpikir saat itu. Akhirnya muncul pertanyaan yang kutakuti. Hanya seorang wanita dewasa yang pantas bertanya tentang itu, tapi ini, anak yang tak tahu apa-apa.
"Kenapa Papa telanjang? Apa yang Papa lakukan? Sedang apa mereka di TV?"

Astaga, TV! Lelaki itu menggosok-gosokkan penisnya pada memek si wanita dan siap untuk menyetubuhinya. Aku merebut remote untuk mematikannya tapi aku terlambat ka-rena si lelaki sudah membenamkan burungnya, langsung kumatikan TV. Saya menoleh ke arah anak manisku.

"Papa telanjang karena baru siap mandi dan Papa kira tak ada orang melihat".
"Untuk apa sayang keluar dari kamar?" aku mencoba mengalihkan percakapannya. Aku merasa serba salah, duduk telanjang di kursi dengan handuk dan sisa sperma di perut, dada dan tangan.
"Kari haus mau minum. Sedang apa Papa?"
"Tidak apa-apa, pergilah tidur kembali.."
"Oke, tapi Kari masih haus.."
"Sebentar, Papa ambil air, tapi pergilah tidur."

Dia meninggalkan kamar dan aku merasa lega sedikit. Alangkah malunya! Ejakulasi di depan anak gadisku! Astaga, sekarang pasti akan terjadi trauma pada anakku tentang itu. Pasti akan diceritakannya kepada teman-temannya tentang aku.

"Aku yang telanjang di depan video jorok dan ejakulasi di situ".

Aku selesai membersihkan sisa-sisa sperma dan memakai celana dalam dan jubah mandi. Kuambilkan Kari segelas air dan pergi ke kamarnya, dengan ragu kuketuk pintu dan pasti akan ditanya lagi. Dengan meyakinkan diri aku masuk membawa segelas air dan duduk di bibir ranjangnya.

"Papa, tadi itu Papa ngapain? Apa itu, Pa? Kenapa badan Papa gemetar?"
"Oke, tidak ada apa-apa, itu karena aku rindu sekali Mamamu, juga seperti kamu tapi caranya lain. Kami melakukannya seperti kau lihat pada TV dan Papa me-ngingatnya. Itu namanya bercinta, dan Papa sangat mencintai mamamu dan ber-cinta dengannya. Papa rindu sekali.."
"Oh," katanya.
"Tapi apa yg terjadi pada Papa, cairan apa itu?"
"Itu namanya seorang pria bermain cinta dengan wanita, itu saja. Sebagai bukti seorang lelaki mencintai wanita." Aduh, Aku masih membela diri dan tak tahu mau berkata apa. Aku tak ingin membahas itu lagi.
"Oh," katanya lagi.
"Tapi kenapa Papa berputar seperti itu.. Apakah sakit?"
"Tidak, sayang. Itu hanya bagian dari bercinta. Papa berpura-pura main cinta dengan Mamamu, itu saja, dan kamu sepertinya takut waktu kamu masuk.."
"Maaf, Pa. Kari tak bermaksud begitu. Aku ingin Papa melakukannya secara nyata.."
"Oke. Kamu tidur sekarang. Jangan kawatirkan Papa, Papa baik-baik aja kok.."
"Malam Papa."

Aku bangun pagi esoknya dan membuat sarapan ketika Kari masuk ke dapur. Aku mengira akan ada 20 pertanyaan lagi tapi dia hanya diam saja.

Ketika sedang makan aku bertanya, "Mau Papa antar ke sekolah, atau kau pergi dengan Trisha?"

Trisha tinggal beberapa blok dari rumah dan dia teman Kari. Aku berharap dia pergi dengan Trisha shg aku tidak terlambat.

"Aku pergi dengannya, Pa. Trisha mau cerita rahasia dengan aku.."
"Baiklah, nanti pulangnya biar Papa jemput dan membahas kemana kita habiskan akhir pekan ini!"
"Oke, Papa. Bye."

Kari menyandang tas punggungnya dan langsung pergi dengan Trisha. Kari sedang menunggu di sekolah ketika aku menjemputnya, dan Trisha juga menunggu bersamanya.

"Pa, bolehkah Trisha ikut kita bersama pulang?"
"Tentu! Ayo Trisha, masuk. Papa kamu tidak menjemputmu hari ini?"
"Tidak Pak. Dia suruh saya sendiri pulang karena dia takut terlambat.."
"Baiklah, nanti kami antar."

Mereka mengobrol sampai aku antar Trisha ke rumahnya.

Ketika aku menyetir Kari mulai bertanya," Pa, seringkah Papa pura-pura main cinta?" Oh, Astaga mulai lagi, pikirku.
"Baik sayang, itu semacam hal pribadi, tapi Papa sering lakukan. Kenapa kamu tanya? Apa kamu takut? Papa tak izinkan kamu melihatnya.."
"Tidak Pa. Pertamanya aku takut, kusangka ada sesuatu yang salah sampai Papa bilang itu pura-pura.."
"Baik, itu tak boleh dilakukan di depan umum. Itu sangat pribadi dan alamiah.."
"Apa Papa sungguh menyayangi Kari?"
"Tentu saja sayang! Kok tanya begitu?"
"Ya, Kari cuma berpikir. Karena Papa cinta Mama, dan Papa rindu bercinta dengannya, jadi jika Papa cinta Kari, kenapa Papa tak mau lakukan sama Kari?".

Kerongkonganku rasanya tercekat, kepalaku pusing! Tahukah dia apa yang dikatakannya!? Dia minta aku menyetubuhinya, tapi dia tak tahu tentang seks. Anak gadisku ini sangat mencintaiku dan dia mau melakukannya karena ingin membuatku bahagia.

"Sayangku, itu tak boleh. Itu hanya boleh dilakukan Papa dan Mama." Aku berdalih lagi.
"Tapi kenapa, Pa? Tidak adil! Mama tak ada lagi, dan kami saling mencintai. Papa juga bilang begitu.."
"Papa tahu Kari, tapi itu tidak boleh.."
"Itu karena aku masih kecil, kan? Papa kira aku tak bisa melakukannya. Aku akan lakukan apapun untuk Papa.. Apapun yang Papa minta.."
"Tidak sayang, Kau juga bisa." Mampus, itu bukan jawaban yang kuinginkan.
"Apakah karena aku tak secantik Mama?"
"Tidak, kamu sungguh cantik!" Ini bukan kerjaan.. Aku harus berbohong.
"Lalu, kenapa tidak?"
"Karena menyalahi aturan hukum!"
"Oh," katanya saat aku masuk ke garasi.

Aku tak percaya akan percakapan kami saat itu! Kari keluar dari mobil dan berjalan ke pintu dengan lesu. Benarkah dia mengerti dengan apa yang diucapkannya? Aku tak tahu harus ber-buat apa.

"Pergi sana bersih-bersih dan nanti makan malam kita sama-sama," kataku saat dia dekat pintu.

Dia diam, langsung menutup pintu. Apakah dia masih memikir-kan tentang senggama itu? Hatiku bergalau. Muncul pikiran anehku, bahwa anakku ingin melakukan seks dengan ku, sangat ingin sekali. Sebaliknya aku sangat ragu mempertimbangkannya. Aku telah melihat video dan membaca buku tentang inses, dan onani membayangkan tentang itu.

Tapi kenyataannya itu bertentangan dengan batinku..! Ah, sekurangnya dia bisa memberiku blowjob dan aku bisa mengajarnya tentang seks. Aku menggeleng.. Dia baru 10 tahun, kataku dalam hati. Dia tak tahu apa yang dimintanya. Sementara punyaku yang 9 inci pasti akan menyakitinya, jika kupaksakan menyetubuhinya. Tapi, pasti nikmat merasakan tubuh hangatnya. Aku menggeleng lagi. Hentikanlah pikiran ngawurmu, kata hatiku, aku kembali sadar.

Aku masuk dan langsung ke dapur untuk makan malam. Kari datang membantu tapi tak banyak berkata. Kami makan dalam kesunyian. Dia pergi ke kamarnya setelah mandi, dan aku pergi pula ke kamarku. Aku berbaring dan mulai berpikir. Aku membayangkan ukuran 4'8, 88-lb. Yang telanjang, payudara kecilnya dengan putingnya yang menyembul. Seluruh celah memeknya yang tanpa bulu, dan bentuk lubang kecil pantatnya. Bibirnya yang mungil, dan lidahnya yang runcing saat mengisap burungku. Aku kagum alangkah nikmatnya rasa penisku! Ya Tuhan, apa yang kupikirkan? Aku tegang memikirkannya, membayangkan bagaimana rasanya bercinta dengan seorang gadis kecil. Bukan cuma gadis kecil, tapi malah anak sendiri. Tanpa sadar, aku mengeluarkan penisku dan onani membayangkan tubuh kecilnya mendekap erat tubuhku.

Tiba-tiba kudengar ketukan di pintu.

"Papa?" Astaga! Benar yang kuduga!? Aku kembali memasukkan kontolku ke celanaku.
"Ya, Kari.."
"Papa, apa Papa masih berpura-pura lagi?"
"Ya," kataku sambil memasang celanaku. Ampun! Apa yang kukatakan! Dengan kontol tegang di celana, Aku membuka pintu.
"Mau apa Kari?"
"Aku berpikir, jika melanggar aturan, tapi tak ada yang tahu Pa. Tapi Papa masih berpura-pura lagi."

Saat itu aku mengambil keputusan yang mengubah jalan hidupku. Dengan memandang anak gadisku yang cantik aku menyentuh pipinya yang lembut dan berkata..

"Papa tak akan berpura-pura lagi. Papa sangat mencintaimu, dan akan bermain cinta denganmu lebih dari segalanya. Dan tak seorangpun tahu. Janjilah dan percayalah Papa sayang.., oke?" Dia tersenyum manis.
"Oke, Papa! Apa yang harus kulakukan sekarang?"

Dia begitu berminat sekali tampaknya. Tak ada cerita harus mundur. Penisku begitu keras saat ini. Anak gadisku mau melakukan seks denganku saat ini dan mau melakukan apapun yang kuminta.

"Ada banyak hal yang harus kau tahu dahulu. Kamu harus tanggalkan pakaianmu, dan Papa akan membuka pakaian Papa, Ya?"
"Oke." Dia mulai membuka pakaiannya satu persatu tanpa ragu. Aku pun begitu, dan ketika sampai pada kolorku maka kontolku mencuat keluar. Kucoba memandang Kari. Dia sungguh telanjang dan persis seperti yang aku bayangkan! Dia melihat burungku dan berkata pelan.
"Wow.. Besarnya!" dengan sedikit keheranan di wajahnya.
Tanpa menunggu perintah dariku dia langsung meraihnya dan menggenggam dengan kedua tangannya. Ada 5 inci sisanya dari genggamannya.

"Kok jadi keras, Pa?" Kari bertanya, "Panas lagi.."
"Itu karena Papa sangat menyayangi Kari. Itu namanya kontol Papa.."
"Kontol?" Aku suka dia bilang kontol.
"Ya, sayang. Kontol Papa." Aku menarik tangannya dari kontolku dan duduk di ujung ranjang.
"Ini kontol Papa, dan ini buah pelir namanya, ya?" Dia melihat scrotumku dan bertanya..
"Kok dibilang buah pelir, Pa?
"Coba genggam, sayang," kataku. Dia coba menggenggam dengan tangan mungilnya dan dengan lembut merabanya..
"Oh, begitu!" katanya.
"Sekarang," kataku.
"Yang Papa maksud berpura-pura itu, namanya onani. Itu yang dilakukan seorang lelaki saat berpura-pura bercinta."
Dia mengulangi, "Onani." Ya Tuhan, seksi kedengaran dari mulutnya.

"Sini berbaring dekat Papa, sayang," kataku. Kemudian aku mencoba menyentuh celahnya.
"Ini namanya vagina. Tapi Papa lebih suka menyebutnya Memek. Ini tempat dimana Papa akan memasukkan burung Papa. Seperti pada video." Matanya jadi melebar.
"Pasti tidak muat, Pa.. Punya Papa, uhm.. Sangat besar.."
"Sekarang tentu tidak, itu akan menyakitkanmu. Tapi nanti. Kita dapat melakukan hal lainnya dulu hingga kamu siap," kataku.
"Tapi sungguh Kari ingin melakukannya dengan Papa," dia menimpali.
"Ada banyak cara untuk bercinta, sayang. Papa akan tunjukkan. Dan banyak orang mengatakannya bersenggama dari pada bercinta.."
"Senggama?" Aku suka dia mengatakan itu dari mulut mungilnya.
"Ya, dan kau ingat cairan putih yang keluar waktu itu?"
"Ya.."
"Itu namanya sperma."
"Sperma," Ulangnya.
"Bolehkah aku mengeluarkannya, juga?"
"Tidak sayang, itu lelaki. Sperma keluar dari burung Papa karena Papa mengalami orgasme. Itu sebabnya Papa gemetaran. Kamu bisa juga orgasme, tapi kamu tidak bisa mengeluarkan sperma.."
"Oh," katanya.

"Sekarang mari kutunjukkan yang lain." Aku berlutut ke depannya dan melebarkan pahanya sedikit.
"Coba lihat memekmu? Lihat ketika Papa buka ini kau akan lihat tonjolan kecil?"
"Ya, Pa. Mama mengajariku bagaimana membersihkannya ketika mandi.."
"Bagus, itu namanya klitoris. Itu yang membuatmu puas, atau bikin orgasme. Pernah kamu sentuh?"
"Jika saya mandi. Mama bilang jangan menggosoknya terlalu sering.."
"Itu karena waktu itu kau masih kecil. Kau bukan anak kecil lagi.."
"Ya aku tahu, Pa!" timpalnya.
"Oke, sayang. Papa benar-benar mau sekarang. Artinya burung Papa lagi keras untukmu dan rasanya sakit. Papa butuh kamu yang cantik untuk membuktikannya. Lihat betapa bengkaknya punya Papa? Itu tandanya Papa mau orgasme. Bisa kamu bantu Papa?" tanyaku.
"Ya! Katakan bagaimana caranya Pa!"
"Oke, Papa akan buat kamu enak nanti, tapi Papa butuh menikmatinya sekarang."

Aku berbaring di ranjang dengan penis raksasa yang mengacung tegak ke atas.

"Mari duduk sini Kari.. Dekat sini."

Kutepuk pinggulku. Dia bergerak ke arahku dan aku memintanya meletakkan tangannya pada penisku. Dia meraihnya dan menggenggam penisku tepat di bawah kepalanya. Kelihatannya sangat mesra.

"Kini, kau pegang kuat dan kocok ke atas dan ke bawah. Lihatkan, betapa punya Papa tersurut-surut?" Kutuntun tangannya mengocok penisku sambil kurangkul dia. Cairan pertamaku mulai keluar.
"Sayang, kalau Papa orgasme nanti jangan lepaskan tanganmu dari penis Papa ya. Tetap kau kocok, ya?"
"Oke, Pap. Aku akan buat Papa klimaks," katanya sambil menggoyangku.

Mendengar itu saya jadi terangsang. Penisku malah jadi bertambah besar, dan aku berkata..

" Aku cinta kamu Kari, Ohh yeah enaknya!" ujarku sambil menggoyang pinggulku.

Dia tetap mengocokku sampai permaku muncrat ke perutku. Sem-protan demi semprotan keluar dari penisku. Kuhitung ada sekitar 20 semprotan. Perutku berlepotan sperma dan meleleh ke sprei, tapi dia tidak jijik. Apa yang kulihat sungguh indah! Anak manisku dengan penis di tangannya masih memompa.

"Oh Kari," kataku.
"Papa tak pernah seenak ini! Walau dengan Mamamu." Dia puas ketika tahu bahwa dia menyenangkanku. Aku katakan bahwa dia sudah bisa berhenti dan melepaskan tangannya dari burungku.
"Sekarang apa, Pap?" tanyanya.

Aku ingin mendekapnya sekarang dan mengelus tubuh lugunya, tapi tidak mungkin saat ini, dia masih kecil. Aku coba dengan cara lain.

"Lihat cairan di tanganmu Kari? Mamamu biasanya menjilatnya sebagai bukti cintanya padaku." Padahal, mamanya tak pernah mau aku orgasme di mulutnya, tapi Kari tak tahu itu, dan aku benar-benar ingin memuaskan fantasi seksualku.

"Sungguh?" katanya dan aku mengangguk.

Tanpa ragu dia langsung menjilat sisa sperma di tangannya, menjulurkan lidah mungilnya dan mulai menjilat dan menghisap spermaku dari jarinya. Oh, betapa indahnya! Aku terangsang kembali. Dia sungguh cepat mengerti. Dia mengelus perutku dan dengan manja menjilatnya.

"Papa sungguh sayang sama Kari, kan?!"
"Tentu, sayang," kataku saat dia selesai menjilat sisa spermaku.
"Rasanya enak sekali, Pa! Sungguh licin ya Pa?"
"Ya.. Kamu suka?" tanyaku.
"Ya, Papa! Apa Papa mau di-onanikan lagi?" tanyanya. Sangat mesra sekali kedengarannya suara anakku memintaku onani lagi.
"Nanti saja sayang, Aku ingin membuatmu nikmat sekarang," kataku.

Aku berguling dan kemudian merangkak. Kari masih di ranjang dan kusuruh dia berbaring. Aku berlutut disamping ranjang.

"Kari, Papa ingin buat kamu nikmat dengan menjilat memekmu. Jika kamu nanti tidak suka, tolong bilang sama Papa, ya?
"Oke, Papa."

Aku menariknya lebih dekat ke ujung ranjang hingga pantatnya persis di bibir ranjang dan meletakkan bantal di bawah kepala dan bahunya. Dia sungguh cantik berbaring di sana! Kulit mulusnya dan celah tanpa bulunya kelihatan le-bih indah dari yang pernah kulihat. Aku jongkok, dengan lembut, kucium puting baru tumbuhnya. Kemudian perutnya, vaginanya dan terakhir pahanya.

"Kau menyukainya, sayang?" tanyaku.
"Rasanya enak, Pa. Agak geli."

Aku gunakan jari dan dengan lembut membuka celahnya, kemudian menyentuh kli-torisnya dengan jemariku.

"Bagaimana rasanya?" tanyaku.
"Sangat geli, Pa!
"Baik, sayang, Papa akan buat kamu nikmat seperti Papa."

Aku berbaring dan mencium memek tanpa bulunya sambil tanganku merangkul punggungnya. Aroma gadis bau kencur ini memang sungguh aneh! Aku tahu bahwa aku bisa saja orgasme tanpa menyentuh kontolku jika kuteruskan, tapi tidakk. Aku sedang menikmati memek imut gadisku! Kugunakan lidahku menguakkan bibir vaginanya dan coba menjolok-jolok lubangnya. Aku menjilat dari bawah ke atas dan kemudian konsentrasi pada klitorisnya. Saat ini dia mulai menjepitkan pahanya sedikit dan aku coba menjilat sampai ke gundukannya dan mengisapnya.

Dia mengangkat-angkat pantatnya hingga vaginanya makin rapat ke mulutku dan aku terus menggu-nakan lidahku. Dia merintih dengan suara lirih halus dan aku tahu pasti akan membuat gadis kecil 10 tahunku ini orgasme. Kembali dengan gemas kukulum gundukannya dan berkonsentrasi pada klitorisnya dengan lidahku. Dia semakin meracau nikmat dan bergerak ke kiri dan kanan. Ini seperti singa betina kecil! Kemudian kurasakan tubuhnya mengejang dan bergetar hebat serta meraung nikmat sejadi-jadinya.

"Mmnnggnn Papaa!" Anak gadisku orgasme di mulutku!

Dia terus menghentak-hentak mulutku dan kemudian terkulai lemas. Kulihat wajah indahnya dan matanya yang tertutup dengan nafasnya yang sesak.

"Apa tadi enak, sayang?" Kataku sambil menyapu memeknya dengan lidahku.
"Oh, Papa.. Rasanya enak sekali! Apakah kita akan lakukan lagi?"
"Oh ya, sayang. Lagi dan lagi. Kita habiskan akhir pekan bersama! Jika kau mau, Papa akan tembakkan sperma Papa dalam mulutmu. Kau suka itu sayangku?"
"Ya, Papa, itu membuktikan kamu sangat mencintaiku, sungguh membuatku sangat bahagia."

Siapa yang ingin mengecewakan anak? Aku jadi punya banyak kegiatan akhirnya. Setiap ada kesempatan kami selalu melakukannya, sore, siang dan malam kami se-lalu melakukannya. Kadang aku yang minta dan kadang dia yang datang merayu. Hal ini kami lakukan selama 2 tahun. Sampailah suatu saat ketika dia 12 tahun, terjadi sesuatu yang sangat bersejarah dalam hidupnya. Saat itu kami seperti biasa melakukan seks oral dan akhirnya terbersit di pikiranku untuk merasakan enaknya memek kecil gadisku ini.

"Sayang, Papa akan berikan Kari rasa yang paling nikmat yang belum pernah Kari rasakan, mau nggak?" tanyaku.
"Tentu saja mau Pa, kan Kari sayang sama Papa", katanya.
"Bagaimana kalau kita coba memasukkan milik Papa ke milik kamu?" tanyaku memancingnya.
"Itu pasti terasa enak, dan kita bisa sama-sama orgasme" tambahku lagi.
"Pa, apakah muat punya Kari, sedangkan milik Papa besar sekali?" tanyanya.
"Tapi dulu Papa pernah bilang kalau lama-lama jadi muat, asalkan dirangsang dulu", kataku.
"Tentu Kari mau Pa, tapi pasti enak ya Pa, dan Papa tetap sayang sama Kari, kan?", katanya meyakinkanku.
"Oh, tentu saja. Sini ke kamar Papa. Kita pasti akan merasakan yang paling enak", tambahku lagi dengan senang hati.

Betapa senang rasa hatiku saat itu. Pasti sebentar lagi aku akan menikmati celah kecil nan perawan itu. Selama ini belum pernah aku mendapatkan hal itu. Aku menikah dengan mamanya Kari waktu itu saat dia berumur 22 tahun. Dia sudah tidak perawan lagi, karena diserahkannya pada pacar pertamanya saat berusia 17 tahun. Kini adalah saat-saat yang kutunggu-tunggu dalam hidupku. Akh, tidak sabar rasanya aku membayangkan kejadian yang sebentar lagi itu. Tiba-tiba kudengar.

"Pa, ini Kari sudah siap. Kok, Papa masih melamun?", katanya.
"Wow. Oh, ya, Kari. Papa, membayangkan alangkah nikmatnya nanti punya Kari kalau Papa masuki. Oh, rasanya tak tahan Papa, Kari. Cepat Papa mau sekarang." kataku.

Segera kutanggalkan seluruh pakaianku sampai bugil dan aku melihat dia sudah ber-baring di ranjangku dengan seksinya. Betapa terangsangnya aku melihat bentuk vaginanya yang sudah berkembang sedikit karena selalu kuhisap dan kuemut-emut. Pa-yudaranya pun sudah agak berisi, karena selalu kupelintir-pelintir setiap hari. Aku sungguh geram, tak terkira nafsunya aku untuk menyetubuhinya saat itu.

"Oh, Kari, sayangku. Papa, bahagia sekali hari ini. Pasti akan menjadi hari yang indah bagi kita." rayuku lagi sambil merangkak ke atasnya.

Batang rudalku pun sudah tegang keras seperti pentungan yang terayun besar di ba-wahku. Aku memandang gadisku ini dengan penuh perasaan dan nafsu yang membara. Sebentar lagi dia akan merasakan aku memasuki tubuhnya lewat perwakilan batang ke-sayanganku itu. Aku mulai mencium bibirnya dengan lembut, seperti biasa kulakukan. Kemudian setelah puas bermain lidah dengannya. Dia pun sudah kuajari bersilat lidah di mulut tersebut. Aku teruskan ke leher mungilnya yang indah. Oh, alangkah nikmatnya.

Sambil kurendahkan tubuhku sehingga ujung pentunganku menyentuh lututnya, karena tubuhku lebih panjang dari tubuhnya. Aku rebahkan dadaku ke perutnya dan terasa hangatnya tubuh kecilnya itu. Dia merintih kesedapan, seperti yang biasa dia lakukan. Tanpa sadar aku merasa tangannya sudah bergerak mencari-cari rudalku dan menyentuh ujungnya dengan jemari mungil kecilnya. Aku mulai mengeksplorasi payudara gadisku ini. Puting kirinya kukulum dan kugigit-gigit kecil, sedangkan puting kanannya kuremas-remas dengan jemariku. Aku lakukan semesra mungkin dan dengan sangat bernafsu serta dibarengi dengan suara nafasku yang cepat.

"Ah.. Ah.. Papa, enak.. Pa. Papa hari ini kok sangat semangat sekali?", katanya seperti berbisik.
"Tentu, sayangku. Hari ini Papa merasa seperti pengantin baru, sayang. Papa akan berikan kamu rasa paling nikmat." Kataku lagi sambil berbisik mesra.
"Dulu waktu Papa melakukannya pertama kali dengan mamamu, dia sudah tidak perawan lagi", kataku padanya.
"Pa, perawan itu seperti apa?" tanyanya sembari merintih. Rupanya dia belum tahu, dan aku pun belum pernah memberitahunya.
"Oo, perawan itu adalah seorang gadis yang seperti kamu yang belum pernah dimasuki oleh milik seorang lelaki. Artinya, memek kamu itu belum pernah dimasuki oleh burung laki-laki seperti burung Papa ini." jawabku sambil berbisik.

Aku tunda mencumbunya. Aku memandangnya dengan mata penuh gelora, dari kepala sampai ke bawahnya. Aku terhenti saat memandang gundukan indah vaginanya, celah mungilnya yang merekah merah seperti mawar yang sedang mau mekar. Aku semakin te-rangsang. Aku berguling kesamping dan berjongkok di sampingnya. Kuselipkan tangan kiriku di bawah lehernya dan tangan kananku di bawah kedua lututnya. Aku mengangkatnya dan menggendongnya, sementara itu mulut dan lidahku kukonsentrasikan pada payudaranya yang putingnya sudah tegak terpacak.

Akh, sekali lagi aku semakin gemas dan geram dengan keadaan ini. Nafsu birahi telah menyelimutiku. Uh, betapa nikmatnya saat itu. Kembali dia kurebahkan di ranjang. Aku menjilat dari keningnya dan terus ke bawah sampai ke dadanya. Kuulangi beberapa kali dan akhirnya kumuarakan di gundukan indahnya. Dia merintih kegelian sedangkan aku semakin bersemangat saja. Sekali sekali ujung lidahku kubenamkan ke celah vagina nya yang kecil itu.

"Ss.. Ss.." rintihnya saat ujung lidahku menerobos celahnya.
"Kari, Papa mau bikin memekmu basah ya" kataku sambil terus dengan rakus melumat vaginanya.

Aku tak peduli lagi racauan yang keluar dari mulutnya. Aku teruskan lumatanku pada memeknya sampai dia orgasme.

"Pappaa.. Ohh ohh papapa, aku.. Enak Pa" teriaknya.

Dia merasakan orgasmenya. Aku masih menjilat memeknya yang sudah licin. Kemudian aku angkat wajahku dan dengan senyum manis kubisikkan padanya.

"Papa, sayang kamu Kari. Papa akan merasakan seenak yang kamu rasakan tadi, se-karang kamu sudah siap", kataku sambil berbisik.

Tibalah saat eksekusi indah ini. Aku merangkak ke atasnya, perlahan kuulurkan lidahku ke mulutnya dan mulai mencumbunya. Kuteruskan cumbuanku ke bawah sampai ke dadanya. Kemudian aku berhenti dan aku mengatur posisi agar penisku tepat pada celah memek gadisku ini.

"Papa akan masukkan milik Papa ya, jika sakit nanti bilang!" kataku meyakinkannya.
"Pelan-pelan Pa ya!", jawabnya.

Mulai kuatur dan kugesekkan ujung milikku pada bibir liangnya yang basah. Sangat kecil sekali, sampai aku berpikir apa mungkin masuk, sedangkan milikku yang besar ini seperti pentungan yang sedang pada kondisi keras luar biasa. Matanya merem-melek dan bibirnya dikatupkan rapat sekali menunggu milikku memasuki dirinya. Aku menggesek-gesekkan penisku dan terasa hangat basah.

"Enak rasanya Pa, masukkan lagi Pa", pintanya.
"Oke, kalau pedih tahan dan katakan Papa ya", balasku sambil terus menekan dan mempaskan posisi ujung penis raksasaku pada lubang guanya.

Aku dapat merasakan celahnya yang hangat dan kumulai menekan dengan kuat. Seketika meleset dan kuposisikan lagi dan meleset lagi. Aku rasanya tak sabar. Akhirnya kuminta Kari menuntun kontolku ke miliknya.

"Sayang, pegang punya Papa dan arahkan masuk, ya! Papa tidak tahan lagi", pintaku.

Kari menggenggamnya dan mengarahkannya ke liang surga itu. Perlahan kutekan dan kutekan lagi. Terasa sudah kelopak batangku menyentuh bibir liangnya.

"Oh, sebentar lagi berhasil", kata hatiku sambil berhenti sebentar.

Kuatur posisi tanganku hingga bertumpu pada sikuku. Kemudian dengan hati-hati ku tekan lagi penisku dan sudah masuk satu senti dari kondisi tadi. Aku merebahkan diri dan merasakan dadaku menyatu dengan dada Kari. Aku memeluknya dengan lembut dan membisikkan di telinganya.

"Kari.. Papa akan masukkan semuanya ya, dan sebentar lagi Papa akan memutus ke-perawananmu. Kamu siap ya, akan sedikit sakit. Tapi Papa sudah sangat lama mengidamkannya", bisikku.
"Lakukanlah Pa, dan Papa dapat menikmati punya Kari sepuas-puasnya", katanya.

Aku bahagia sekali dan bertubi-tubi kucium bibirnya, pipinya, lehernya, hidungnya, dan semuanya tak lepas dari ciumanku. Dia betul-betul terangsang dan mengerang sejadi-jadinya.

"Pa.. Uehhenak Pa terus Papa ohhohh", racaunya.

Sementara dia merasakan kenikmatan akibat cumbuanku, maka aku siap-siap untuk menekan lagi dan dengan satu hentakan aku menekan agak keras.

"Akh.. Sakiit Pa", jeritnya.
"Oh, maaf Kari Papa sangat berlebihan", jawabku sambil menenangkannya.

Kulihat sudah 3 cm batangku tenggelam namun aku belum memutuskan perawannya. Aku tenangkan dulu dan kutarik pelan kemudian dorong sedikit begitu berulang-ulang beberapa menit. Gundukan memeknya tampak terangkat-angkat ketika aku menarik penisku dan seperti tenggelam ketika aku menekannya. Aku semakin syur saja melihatnya.

"Enak Pa, teruskan kayak gitu", pintanya.

Aku teruskan sodok tarik tersebut beberapa kali dan aku sudah bersiap untuk menekan lagi. Sementara dia merintih keenakan aku tekan lagi dengan kuat sekali.

"Ow, oo, oo, pedih Pa," jeritnya.

Aku merasa membelah tubuhnya dan penisku terasa terjepit oleh sesuatu yang kuat sekali. Ketika kulihat ke bawah, ternyata darah sudah mengalir pada penisku yang tenggelam separohnya. Artinya aku telah memerawaninya. Aku berhasil memerawani perawan tulen yang mungil dan kecil, idamanku sejak lama. Penisku masih terjepit kuat dalam memek yang kecil ini, terasa kedutan-kedutan otot vaginanya seperti denyut-denyut kecil seiring dengus nafasnya. Dia masih merintih dan airmatanya menetes. Aku menghiburnya.

"Kari, sebentar lagi kamu akan merasakan nikmatnya, sabar dan santai serta tenang saja dulu".

Aku mendiamkan penisku beberapa saat, dan dengan lembut kucium bibirnya serta pipinya berulang-ulang. Aku jilat-jilat lidahnya dan dengan manja tetap kucumbu dia mesra. Setelah dia agak tenang, aku minta tanggapannya.

"Apa, Papa masih boleh meneruskannya, sayang?", tanyaku.
"Lakukanlah Pa, asalkan Papa bahagia, sekarang sakitnya sudah berkurang", jawabnya.

Lampu hijau yang diberikannya itu membuatku semakin bersemangat saja dan kumulai lagi adegan sorong tarik pelan-pelan. Sesenti kutarik sesenti kutekan, sesenti kutarik dua senti kutekan. Dia menggelinjang dan merintih tidak karuan antara enak ber campur pedih. Ketika aku menambah kedalaman penisku dia menjerit dan ketika aku menariknya dia merintih. Beberapa saat aku lakukan itu dan kadang-kadang aku ren-dahkan tubuhku memeluknya, kadang-kadang aku tumpukan pada telapak tanganku.

"Pappaa.. Terus.. Terus.. Enakk..", racaunya.

Ini membuat aku semakin bernafsu sekali. Aku sudah tidak peduli lagi. Aku harus tuntaskan ini secepatnya. Nafsuku sudah diubun-ubun. Sekali aku tarik kemudian aku hentakkan kuat sekali dan seketika dia terpekik keras, namun aku sudah tak peduli. Aku dorong tarik semauku dan aku dendam pada kenikmatan ini. Sudah kandas dan masuk semua milikku, mungkin aku telah menyodok perutnya dengan 8 inci milikku ini. Aku mendengar jeritan dan rintihan gadisku dengan terus memompa dan memompa lagi.

"Aduhh.. Pa.. Sakit.. Pedih.. Ampun tolong", jeritnya.

Aku tak tahu lagi entah berapa kali dia menjerit dan meronta menahan pedih pada bagian dalam vaginanya. Aku memang selama ini merasa sangat menikmati sekali gesekan penisku dengan vagina yang masih agak kering, hal ini sering kulakukan dahulu dengan mamanya Kari. Kadang-kadang aku diprotes oleh istriku itu, tetapi semakin lama dia juga menikmatinya. Setelah beberapa menit aku tak mendengar lagi rintihannya. Dia diam membisu dan hanya menggeleng kiri kanan.

Mungkin sakitnya sudah hilang atau dia menikmati gerakan-gerakanku. Vaginanya sudah basah dan penisku sudah lancar keluar masuk. Aku terus saja memompanya dengan mengerang nikmat. Pompa dan pompa terus, sambil sesekali kukulum bibirnya dengan rakus. Aku sudah hilang kesadaran dan diliputi dendam kenikmatan. Aku merasakan hampir mencapai klimaks. Penisku terasa mau meledak, dan aku sema-kin cepat menggenjot memek sayangku ini. Genjotan demi genjotan semakin cepat kuhajarkan pada memeknya dan akhirnya..

"Akh.. Akhh.. Akhh cret.. Cret.." tumpah semua spermaku ke dalam milik gadisku ini.

Aku lemas, aku terkapar di atas tubuhnya. Aku telah membuahinya banyak sekali. Kesadaranku pun mulai pulih. Muncul sedikit rasa sesalku atas semua ini. Namun kubuang rasa itu kembali.

"Kari, maafkan Papa. Mungkin Kari tidak merasakan nikmat seperti yang dib-yangkan. Itu karena yang pertama kali. Maafkan Papa ya?" pintaku padanya.
"Ya, Pa. Kari senang melihat Papa puas", jawabnya lirih.

Aku gerakkan penisku sedikit demi sedikit untuk memudahkan mencabutnya, karena kalau langsung dicabut akan menimbulkan sakit pada vaginanya. Aku geser ke kiri dan kemudian ke kanan sambil kutarik dan akhirnya tercabut semuanya.

Kulihat cairan merah bercampur putih meleleh seiring keluarnya penisku dari vaginanya. Terus terang aku merasa puas sekali, aku membuang pikiran akan kehamilan yang akan terjadi pada gadisku ini. Jika memang dia hamil, apa boleh buat. Aku akan mencari solusinya nanti.. Begitulah, hampir setiap hari pada minggu pertama kami melakukan itu. Kari sudah mengerti bagaimana cara menikmatinya. Kami seperti pasangan suami istri yang saling mencintai.

Hal ini terus kami lakukan sampai dengan Kari menikah pada usianya yang ke-19 tahun. Saya sangat bersyukur karena Kari tidak pernah hamil. Mungkin ada kelainan pada anatomi kelaminnya hingga menjadi mandul. Setelah dia menikah, aku menjadi kehilangan dan aku juga sering curi-curi kesempatan untuk bercinta dengannya.

TAMAT

Aku dan ibu mertuaku

Perkawinanku yang telah berusia tujuh tahun tergolong mulus dan memberi banyak kebahagiaan. Tetapi tidak sejak enam bulan lalu, tepatnya setelah istriku Neni terkena kanker payudara dan terpaksa salah satu miliknya itu harus diangkat. Neni menjadi sangat murung dan kehilangan gairah hidup. Bahkan ia memutuskan keluar dari tempatnya bekerja di sebuah perusahaan swasta.

Kuakui, dengan hilangnya salah satu payudara di tubuh Neni, ada sebagian pesonanya yang hilang. Bila ia telanjang, kurasakan ada sesuatu yang hilang. Sepasang buah dadanya yang sangat montok dan selalu menjadi pelampiasan gairahku kini tinggal satu. Bagian yang lain menjadi rata dan bahkan ada semacam luka parut yang sangat mengganggu. Namun karena aku tak mau menyakitinya, kuanggap itu bukan masalah. Bahkan kerap kuyakinkan bahwa aku tak pernah berpikir untuk meninggalkannya.

Tetapi tidak bagi Neni. Kehilangan payudara menjadikannya hilang rasa percaya diri. Setiap hari hanya berbaring di tempat tidur. Tidak mau mengerjakan apa pun termasuk mengurus Lani, putriku yang berusia 3 tahun anak kami satu-satunya. Untung ada ibu mertuaku yang memutuskan tinggal bersama kami setelah Neni menjalani operasi. Dan karena ibu mertuaku itulah segala pekerjaan rumah menjadi beres termasuk memasak dan mengurus Lani.

Malangnya, Neni sama sekali menolak diajak berhubungan intim sejak mulai sakit dan sampai payudaranya diangkat. Ia malah selalu menyuruhku untuk mencari wanita pengganti karena menurutnya ia sudah tidak pantas lagi melayaniku. Maka sebagai laki-laki berusia 33 tahun (istriku berumur 28 tahun), yang masih sangat potens dalam soal seks, aku sering merasa puyeng. Mau mencari kepuasan ke WTS aku merasa jijik. Di samping dipakai banyak orang, pasti membawa penyakit berbahaya.

Pernah melintas pikiran buruk untuk merayu ibu mertuaku. Usia ibu mertuaku sudah 53 tahun dan telah menjanda sejak kematian suaminya tiga tahun lalu. Pikiran ngeres itu muncul setelah aku sempat memergokinya mengenakan pakaian yang sangat minim. Suatu hari ia sedang mandi. Tiba-tiba dari arah dapur tercium bau gosong nasi yang sedang ditanak. Aku yang sedang memberi makan burung di dekat dapur jadi berteriak.

"Bau gosong apa nih Bu, nasi yah?" ujarku saat itu karena tidak tahu ibu mertuaku ada di kamar mandi.

Ibu mertua yang mendengar teriakanku langsung lari keluar dari kamar mandi. Tubuhnya yang masih basah kuyup, karena belum selesai mandi, hanya dililit handuk yang berukuran tak cukup lebar. Hanya menutup dada dan sedikit di bawah pangkal pahanya. Dengan tergesa ia segera mengangkat panci, mematikan kompor dan memindahkan nasi ke magicjar agar nasi tidak berbau gosong semua.

Saat itulah, saat ibu mertuaku melakukan segala aktivitas itu, aku bisa melihat sebagian tubuh ibu mertuaku yang belum pernah kulihat. Kulit ibu ternyata lebih bersih dibandingkan kulit Neni, istriku. Buah dadanya kurasa juga lebih besar dibanding kepunyaan Neni. Hanya mungkin sudah agak kendur. Aku tidak bisa memastikan karena belum pernah menyentuhnya dan saat itu terbelit oleh handuk yang dililitkannya.

Namun, yang lebih membuatku panas dingin, adalah saat ia membungkukkan badan. Karena handuknya kelewat kekecilan, saat membungkuk handuknya menjadi tambah terangkat. Jadilah aku bisa melihat pahanya yang membulat sampai ke pangkalnya. Juga pantatnya yang besar dan pinggul yang mengundang pesona. Bahkan, ah, aku juga bisa melihat memek ibu mertuaku yang terlihat mengintip di antara kedua pangkal pahanya. Kemaluan ibu mertuaku terlihat gundul tanpa rambut. Tampaknya habis dicukur.

Melihat itu, gairahku langsung naik cukup tinggi. Jakunku menjadi turun naik dan denyut jantung menjadi tidak teratur. Maklum sudah cukup lama tidak mendapat layanan istri di tempat tidur. Saat itu aku nyaris nekad memeluk ibu mertuaku dari belakang dan melampiaskan hasrat yang menggelegak. Namun takut dianggap kurang ajar dan bisa mengundang masalah bila ibu mertuaku tidak berkenan, aku pendam keinginan itu. Juga karena penampilan ibu selama ini sangat pendiam dan rajin menasehati hingga aku tidak berani kurang ajar.

Dari waktu ke waktu, sikap istriku bukannya membaik tetapi semakin buruk. Ia hanya keluar kamar saat makan atau mandi dan selebihnya dihabiskan untuk tidur atau nonton TV yang juga tersedia di kamar. Ia juga menolak bila diajak berhubungan badan. Jadilah kami sering bertengkar seperti yang terjadi malam itu.

"Kalau kamu tetap dingin, biar nanti aku mencari pelacur untuk menggantikanmu," kataku dalam nada tinggi karena tak bisa menahan emosi.

Gairahku malam itu memang sudah naik ke ubun-ubun. Tetapi Neni hanya menjawab santai.

"Aku kan sudah minta Mas Hen mencari wanita lain yang bisa melayani. Aku nggak apa-apa kok," ujarnya enteng.

Emosiku meledak. Sambil keluar kamar pintu kututup kencang hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Ingin rasanya aku menstater motor keluar untuk mencari pelacur di pinggir jalan atau ke hotel yang menyediakan wanita panggilan. Tetapi kemana, aku tidak punya pengalaman? Dan lagi malam sudah sangat larut. Untuk meredam emosi, kuambil sebotol air dingin dan kubawa ke kandang ayam di belakang rumah. Tempat yang paling kusenangi untuk melamun dan mengurangi rasa gundah.

Benar emosiku mulai reda setelah beberapa tegukan air dingin membasahi kerongkonganku. Terlebih setelah sebatang rokok kunyalakan dan kuhisap. Berteman asap rokok, anganku mengembara memikirkan nasib perkawinanku yang porak-poranda gara-gara kanker yang diderita istriku. Namun saat aku hendak menyalakan batang rokok berikutnya, suara ibu mertua mengagetkanku.

"Bertengkar lagi ya Hen," lirih suara ibu mertuaku terdengar.

Wanita itu ternyata telah berdiri tak jauh dari tempat aku duduk di kegelapan kandang ayam.

"I.. Ibu belum tidur? Maafkan saya Bu," ujarku sedikit tergagap.


"Bukan kamu yang salah. Tetapi memang Neni yang keterlaluan. Padahal ibu sudah berkali-kali mengingatkan," katanya lagi seolah menyalahkan diri sendiri.

Ibu mertuaku mendekat dan duduk menjejeriku di kursi panjang. Mungkin ia tidak enak dengan sikap putrinya itu.

"Saya emosi karena Neni lebih senang kalau saya tidur dengan pelacur. Saya pusing sekali..,"


"I.. Iya Ibu tahu. Pasti kamu sangat pusing," ujarnya lirih mencoba memahami perasaanku.

Sasaat kami hanya diam membisu. Aku dengan pikiranku yang kesal dengan ulah istrik. Sedang ibu mertuaku? Entah menerawang kemana pikiranbnya. Sampai akhirnya, "Kalau mau ibu punya usul.., ta.. tapi," ibu mertuaku nampak ragu untuk menyelesaikan kalimatnya.


"Usul apa Bu? Katakan saja..,"


"Begini. Dulu, kalau ibu hamil muda, bawaannya enggan melayani bapaknya Neni. Bahkan dipaksa pun ibu menolak. Dan itu berlangsung sampai tiga bulan. Maka bapak jadi tidak kuat. Akhirnya sebagai jalan keluar, setiap ingin bapak minta itunya dikocok oleh tangan ibu sampai keluar," ujar ibu mertuaku.


"Saya sudah minta begitu Bu, tetapi Neni tetap tidak mau," kataku menukas.

Ibu mertuaku terdiam. Ia ingin menyampaikan sesuatu tetapi terlihat ragu. Wajahnya menunduk. Sampai akhirnya, "Hen, ibu kasihan sama kamu. Biarlah ibu yang bantu mengocok, biar pusingnya hilang," ujarnya lirih.

Sungguh aku sangat senang dengan tawaran ibu mertuaku. Daripada mengocok sendiri sambil membayangkan paha dan pantat besar ibu mertuaku. Kini dia yang malah menawarkan diri untuk mengocok kontolku. Pasti lebih asyik, pikirku.

"Te.. Terus kapan Bu? Saat ini kepala saya sangat pusing." Memang sejak tadi gairahku naik cukup tinggi.


"Sekarang juga boleh," katanya menawarkan.

Tadinya ibu mertuaku mau melakukannya di tempat kami duduk di dekat kandang ayam. Tapi kutolak dengan alasan kurang leluasa dan tempatnya kurang nyaman. Akhirnya kami sepakat melakukan di kamar tamu, karena di kamar yang ditempati ibu mertuaku ada Lani putriku. Ibu memintaku untuk lebih dulu mengecek apakah Neni sudah pulas apa belum. Katanya, nggak enak kalau sampai Neni tahu. Dan Neni ternyata sudah pulas mendengkur hingga aku langsung menyusul ibu mertuaku ke kamar tamu.

Di dalam kamar, ibu mertua menungguku duduk di tepian ranjang. Tapi ia nampak canggung, mungkin malu atau entah apa yang membersit di kepalanya. Namun aku tak peduli dan segera kulepaskan sarung dan baju kaos yang kukenakan. Dengan rudal yang telah tegak mengacung dan tubuh bugil telanjang bulat aku duduk merapat ke ibu mertuaku.

"Ayolah Bu, biar pusingku hilang. Katanya mau mengocok?" kataku sambil menarik tangan ibu mertuaku dan menempelkannya di penisku.

Melihat kontolku yang ukurannya lumayan besar dan telah tegak mengacung, wanita itu agak tertegun melihatnya. Wajahnya kian tertunduk tapi kuyakin ia mengagumi alat kejantananku itu. Mengagumi kepala penisku yang membonggol dan batangnya yang cukup besar dihiasi urat-urat menonjol.
"Dibandingkan milik ayah, besar mana Bu dengan punyaku?" Kataku mencoba menetralisir ketegangan.

Dengan reflek ibu mertua mencubit pahaku. Tapi ia tidak marah.

"Hushh.. Jangan ngomongin orang yang sudah meninggal. Tapi punya kamu memang jauh lebih besar. Sampai takut ibu melihatnya," ujar ibu mertuaku.


"Takut... apa seneng?" timpalku.

Ia mencubit lagi, tapi pelan saja dan tidak menimbulkan sakit. Selanjutnya, tangan ibu mertuaku mulai beraksi. Pertama kepala penisku dibelai-belainya dengan lembut, lalu usapannya turun ke kantung pelirku. Cara menyentuhnya benar-benar profesional dan menimbulkan sensasi luar biasa. Terlebih saat ia mulai menggenggam batang penis itu dan mengocoknya perlahan.

Disamping mengocok, terkadang tangan ibu mertuaku seperti meremas gemas batang penisku. Akupun mendesah, menggelinjang menahan nikmat.

"Ahh.. Sshh.. Enak sekali Bu..,. Oohh," rintihku tertahan.

Tanpa sadar aku telah mendekap ibu mertuaku. Wajahku yang membenam di lehernya membaui aroma wangi cologne yang biasa dipakai istriku hingga gairahku kian terpacu. Dan ah, ternyata ibu mertuaku tidak mengenakan BH. Aku tahu karena lenganku yang mendekap tubuhnya menyentuh bukit lembut di balik daster yang dikenakannya. Maka segera saja susu ibu mertuaku itu kugerayangi.

Meski aku menggerayang dari luar dasternya, tapi kuyakin buah dada ibu mertuaku lebih besar dibanding milik Neni istriku. Hanya agak lembek dan kendur. Bentuknya juga sudah merosot dan menggelantung karena putingnya berada agak di bawah. Sambil menahan nikmat oleh kocokkan dan elusan mengasyikkan tangannya pada kontolku, kubelai dan sesekali kuremas payudara ibu mertuaku. Bergantian kiri dan kanan.

Tak puas hanya menggerayangi dari luar bajunya, tanganku mulai mencari-cari kancing dasternya dan langsung kubukai. Namun ketika tanganku hendak menelusup merogoh masuk melalui bagian atas dasternya yang telah terbuka, ia seolah mencegah.

"Ibu sudah tua Hen, punya ibu sudah jelek dan kendur," katanya seperti mengingatkan tapi tidak mencoba mencegah tanganku yang telah menelusup masuk.

Dulu susu ibu mertuaku pasti sangat montok dan mancung bentuknya. Pasti almarhum ayah mertuaku senang membelai, meremas atau meneteknya. Kini di usianya yang telah 53 tahun, memang sudah agak kendur. Namun tetap tidak mengurangi gairahku untuk meremasinya. Apalagi putingnya juga besar menonjol, hingga aku jadi gemas untuk memilinnya dengan telunjuk dan ibu jariku. Nafas ibu mertuaku mulai memberat setiap aku memilin-milin putingnya. Dengus nafasnya menerpa wajahku yang berada sangat dekat dengan wajah ibu mertuaku.

"Hen, lama banget punya kamu keluarnya. Ibu sudah pegel nih mengocoknya," perlahan ibu mertuaku berujar.

Sebenarnya itu siasatku saja karena sejak tadi pertahananku sudah hampir jebol tetapi selalu kutahan.

"Kalau begitu ibu berhenti dulu deh, gantian aku yang kerja," kataku sambil turun dari ranjang lalu mengambil posisi berjongkok di depan kaki ibu mertaku yang menjuntai.

"Kamu mau apa Hen?!"

Ia sangat kaget ketika aku menyingkapkan dasternya dan mencoba merenggangkan posisi kakinya.

"Aku ingin lihat punya ibu," balasku.

Tadinya ibu mertuaku mencoba bertahan agar posisi kakinya tetap terhimpit. Namun karena aku memaksa, himpitannya mulai mengendor.

"Ibu nggak pakai celana dalam Hen. Jangan, ibu malu," katanya lagi tetapi membiarkan tanganku merenggangkan kedua kakinya.

Dari balik dasternya yang tersingkap sangat lebar, ternyata benar. Di samping tidak mengenakan BH, ibu mertuaku juga tidak memakai celana dalam. Di antara pahanya yang membulat putih montok, kemaluannya terlihat membusung lebar. Tetapi tanpa rambut, nampaknya ibu mertuaku rajin mencukur. Bibir kemaluannya agak tebal dan berwarna agak kecoklatan. Kontras dengan celahnya di bagian agak ke dalam yang berwarna merah muda. Pasti ayah mertuaku dulu sering mengentotnya dan dari lubang inilah Neni dilahirkan.

Jakunku turun naik dan berkali-kali aku meneguk air liur melihat pemandangan menggairahkan itu. Tak tahan cuma hanya melihatnya, aku mulai menyentuh dan menggerayangi kemaluannya. Kuusap-usap dan kubelai memeknya yang membukit dan menggairahkanku itu.

Sudah enam bulan lebih aku tak menyentuh bagian paling merangsang milik wanita ini atau sejak istriku selalu menolak kuajak berhubungan suami istri. Ternyata, memek gundul tanpa rambut juga lebih merangsang. Aku membelai memeknya sambil mulutku menciumi paha montok ibu mertuaku. Ibu mertuaku menggelinjang, mendesah menahan gairah. Dan sejauh itu, ia membiarkanku meluahkan gairahku yang telah cukup lama disapih dalam segala hal oleh Neni, istriku.

Namun ketika ciumanku mendekat ke selangkangannya, ibu mertuaku sedikit berontak. Tangannya menahan kepalaku agar mulutku tak menempel di bibir kemaluannya.

"Iihh... Mau diapain Hen? Jangan ah, kotor," katanya.

Apakah ia tidak pernah mendapatkan oral seks? Mungkin saja, karena ayah dan ibu mertuaku tergolong produk lampau. Berpikir begitu aku jadi nekad untuk memperkenalkan jilatan lidahku yang sering membuat istriku kelojotan bak cacing kepanasan. Kutekan keras kepalaku untuk mengalahkan penolakan ibu mertuaku sampai mulutku menyentuh memeknya.

Memek ibu mertuaku tidak berbau, nampaknya ia rajin merawatnya. Saat lidahku mulai menyapu bibir kemaluannya, penolakannya mulai mengendur. Bahkan kuyakin ia mulai menikmatinya ketika lidahku menelusup ke celah memeknya dan menjilati kelentitnya. Ia mengerang dan merintih tertahan.

"Gimana Bu, enak kan?" ujarku sambil terus menjilat dan menyapu lubang nikmat ibu mertuaku.

Bahkan sesekali kucerucupi dan kusedot-sedot kelentitnya. Ia terus mendesis dan mengerang menahan nikmat.

"Aahh..,. Sshh..,.. Enak sekali Hen, oohh. Ibu baru merasakan yang seperti ini Hen.., oohh..,.. Sshh..,.. Aakkhh," erangnya tertahan.

Lubang memek ibu basah, banjir oleh campuran ludahku dan cairan yang keluar dari vaginanya yang terasa asin. Rintihan dan erangan ibu mertuaku membuat gairahku kian terpacu. Aku juga takut ia mendahului mencapai klimaks dengan oral seks dan menjadikannya menolak untuk disetubuhi. Maka di tengah erangan dan rintihannya yang tak putus-putus, aku langsung berdiri.

Kakinya yang menjuntai ke bawah ranjang makin kurenggangkan dan kontolku yang tegak mengacung kuarahkan ke liang sanggamanya. Kepala penisku yang membonggol besar kugeser-geserkan di bibir kemaluannya yang merekah lalu perlahan kudorong masuk. Bblleess, sekali tekan amblas terbenam batang penisku. Karena di samping banyak cairan pelicin yang bercampur ludah, nampaknya lubang memek ibu mertuaku sudah cukup longgar.

Ibu mertuaku yang tadinya tiduran bangkit seperti terkaget dan seolah hendak memprotes tindakanku.

"Hen..,. Ja.. Jangan! Aa.. Aku ibu mertuamu Hen, ja.. Ja..,.. Aahh.. Oohh..,.. Sshh..,.. Akkhh," tetapi protesnya berubah menjadi erangan dan ungkapan kenikmatan setelah aku memaju mundurkan penisku di lubang vaginanya.

Susu ibu mertuaku yang besar ikut terguncang-guncang setiap kali penisku keluar masuk di lubang nikmatnya. Tubuhnya tergetar dan matanya membeliak-beliak dengan mulut yang terus mendesis. Tampaknya ia sangat menyukai sodokan-sodokan kontolku yang menghujami memeknya.

Sebenarnya aku ingin sekali meremasi susu ibu mertuaku yang terguncang-guncang menggemaskan itu atau mengulum putingnya yang mencuat coklat kehitaman. Ingin pula kulumat bibirnya yang membasah. Namun karena ingin memberi kesan yang baik padanya, aku berusaha sekuat tenaga untuk dapat memuaskannya. Hunjaman kontolku di lubang nikmatnya kadang kupercepat dan kadang kumainkan dalam tempo lambat.

Sambil terus menyodok-nyodok memeknya, sesekali kelentitnya yang mencuat kumainkan dengan jari telunjukku yang telah kubasahi dengan ludah. Variasi yang kulakukan membuat ibu mertuaku semakin kelabakan. Pinggulnya diangkat seperti hendak menyongsong sodokan kontolku. Rintihan dan erangannya semakin keras. Untung pintu kamar sudah kukancing dari dalam dan istriku pulas tertidur.

Akhirnya, tubuh ibu mertuaku mengejang.

"Ohh.. Ahh.. Shh.. Aakkhh enak sekali Hen, ibu nggak tahan mau keluar ahh.. Ahh," nampaknya ia hendak mendapatkan orgasmenya.

Maka dengan cepat kupacu sodokan dan hunjaman kontolku di memek ibu mertuaku. Hingga ia seperti melolong dan merintih menahan nikmat. Aku baru berhenti setelah kulihat matanya membeliak dan hanya terlihat bagian putihnya dan tangan ibu mertuaku mencengkeram keras kain sprei tempatnya berbaring. Kubiarkan ibu mertuaku terkapar menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru didapatnya dengan nafas yang masih memburu.

Aku keluar menuju kamar mandi. Aku ingin membersihku rudalku yang masih tegak mengacung selagi ibu mertuaku masih terkapar. Batang kontolku terasa lengket belepotan oleh lendir dari memek ibu mertuaku. Juga sambil menengok Neni di kamarnya, takut ia terbangun. Saat aku kembali, ibu mertuaku sudah berdiri dan bermaksud keluar kamar hingga aku mencegahnya.

"Bu saya masih ingin. Saya belum keluar nih," kataku berbisik sambil meremas pelan susunya.


"Iya.., ibu hanya ke kamar mandi sebentar kok," ujarnya sambil mencubit tanganku yang nakal.

Tidak begitu lama ia kembali masuk kamar. Tidak seperti di babak pertama dimana ibu mertuaku agak canggung, di babak kedua dia lebih santai. Ia sama sekali tidak menolak ketika tubuhnya langsung kupeluk dan kulepaskan handuk yang melilit tubuhnya.

Bahkan masih sambil berdiri, ketika tanganku menggerayangi pantatnya yang besar dan meremas-remasnya, ia membalas dengan meremasi dan mengocok kontolku yang mengacung. Pantat ibu mertuaku agak basah dan ada wangi sabun mandi yang merebak. Pasti ia telah menyabuni bagian bawah tubuhnya saat di kamar mandi.

Lepas dari pantatnya, aku mulai menggerayangi buah dadanya. Susunya yang bentuknya mirip pepaya menggelantung itu, kendati ukurannya cukup besar tetapi terasa lembek dalam remasan tanganku. Ia mulai mendesah saat mulutku mulai meneteknya. Putingnya yang berwarna coklat kehitaman terasa mengeras dalam hiasapan mulutku. Ah, sudah lama aku tidak menetek susu Neni istriku. Maka meski payudara ibu mertuaku sudah lembek, aku tetap dengan rakus meneteknya.

Saat tubuhnya kudorong ke ranjang, ia langsung tiduran telentang. Pahanya dibuka lebar mengangkang hingga kemaluannya yang besar membukit tempak merekah menanti batang zakarku. Tampaknya ibu mertuaku hanya mengenal posisi konvensional dalam bersetubuh.

"Ibu jangan mengangkang, nungging saja. Biar saya tusuk dari belakang," kataku.


"Memang bisa Hen? Ada-ada saja kamu," ia memang tampak kaget dengan posisi doggy style yang kuminta.

Tetapi tanpa menolak, wanita berusia 53 tahun itu langsung memenuhinya. Dalam posisi menungging, pantat ibu mertuaku tampak lebih merangsang. Besar dan menggunung. Lubang anusnya coklat kehitaman, sementara kemaluannya yang gundul nampak menyembul di bagian bawah di antara kedua pahanya.

Tanpa menunggu terlalu lama, aku yang memang sudah cukup lama menahan gairah langsung mengarahkan kepala penisku ke lubang nikmatnya dari belakang. Mula-mula hanya kugesek-gesekkan di bibir kemaluannya lalu sedikit demi sedikit kutekan, hingga kepala penisku yang membonggol besar mulai masuk. Setelah mendapatkan jalan, langsung kudorong hingga amblas terbenam sampai seluruh batangnya melesak ke dalam. Ibu mertuaku agak tersentak dan tubuhnya sedikit mengejang.

Mengentoti ibu mertuaku dengan menusuk dari belakang ternyata lebih menggairahkan. Sambil mengokocok-kocok lubang memeknya dengan batang penisku, aku bisa meremasi pantatnya yang besar. Sesekali kuulurkan tanganku untuk menggerayang dan meremas susunya yang menggelantung dan terayun-ayun. Wanita itu kembali mendesah dan terkadang merintih. Nampaknya ia mulai merasakan nikmatnya sodokan batang penisku. Aku jadi tambah bersemangat, sodokanku semakin kupercepat.

"Ahh.., ah.. Ah, Hen enak sekali punyamu Hen. Kontolmu enak banget, ah... ah..... Sshh.. aakkhh," mulut ibu mertuaku terus meracau.

Mendegar lenguhan dan desahannya yang bak orang kepedasan, aku kian bersemangat. Aku ingin ia benar-benar puas oleh layananku. Syukur kalau sampai ketagihan. Hingga tak perlu pusing walau Neni mangkir melayani kebutuhan biologisku. Kocokkan kontolku di memek ibu terus kupercepat sampai menimbulkan bunyi yang khas.

Cloop.. Cloop.. Cloop. Dan bunyi khas itu benar-benar ikut menyemangatiku untuk terus menancap dan menarik rudalku di dalam lubang nikmatnya. Sampai akhirnya, pertahannan ibu mertuaku kembali jebol. Kembali ia meraih orgasmenya hingga tubuhnya kembali mengejang dan akhirnya tubuh mertuaku ambruk tengkurap di kasur.

"Ibu capai Hen, istirahat sebentar yah. Kamu kuat banget dan punyamu juga besar banget, Neni beruntung bersuamikan kamu," di sela nafas beratnya.

Keringat terlihat mengucur di dahi dan tubuhnya. Ia pasti kelelahan. Selama ibu tengkurap melepas lelah, aku juga memanfaatkannya untuk memulihkan tenaga dengan tiduran di sampingnya. Aku tidak tega kalau harus memaksakannya terus melayaniku meskipun sebenarnya tadi hampir kuraih ejakulasiku.

Namun melihat ketelanjangan tubuh mertuaku, tanganku seperti tak mau diam. Bongkahan pantatnya yang besar membusung mengundangku untuk meremas-remas dengang gemas. Bahkan sesekali jari tengahku sengaja menelusup di antara buah pantatnya dan kumasukkan ke dalam lubang memeknya. Akibatnya ia menggelinjang dan membalikkan tubuh menjadi telentang.

"Geli Hen, tangan kamu nakal!" Ujarnya sambil memencet hidungku.

Kembali bagian tubuhnya yang mengundang gairahku langsung menjadi sasaran tanganku. Perut mertuaku yang sudah tidak rata bahkan sedikit bergelombang kuusap. Lalu susunya yang sudah agak kendur kuremas dan kupilin pentilnya yang besar. Namun saat aku bangkit dan hendak menindihnya ia mencegah.

"Kamu telentang saja. Sekarang giliran ibu yang melayani kamu. Tapi ibu ke kamar mandi sebentar," ia bangkit dan langsung keluar ke kamar mandi.

Saat mertuaku kembali, ia membawa termos yang biasa untuk menyimpan air panas, baskom plastik dan handuk kecil. Tidak mungkin ia akan membuatkan kopi dengan peralatan seperti itu. Tetapi untuk apa?

Pertanyaan itu terjawab setelah ibu mertuaku kembali telanjang dan mulai menjalankan aksinya. Ternyata, handuk kecil itu setelah dicelup air hangat digunakan untuk menyeka tubuhku seperti mengompres tetapi dilakukan di sekujur tubuh. Dimulai dari telapak kaki terus naik ke atas dan menyeka hampir seluruh permukaan kulitku. Hanya wajah dan rambutku yang tidak dikompresnya.

"Enak kan Hen? Ini membuat peredaran darahmu menjadi lancar dan menambah semangat," katanya sambil terus menyeka bagian-bagian tubuhku.

Aku merasa sangat dimanjakan olehnya.

"Dulu Bapak (maksudku almarhum ayah mertuaku) juga suka dibeginikan kalau main sama ibu?"


"Ini idenya malah dari bapak," jawab ibu mertuaku.

Tubuhku terasa sangat segar dan gairahku kian meninggi setelah diseka seluruh permukaan kulitku dengan handuk hangat. Terakhir, secara khusus ibu mertuaku mengompres cukup lama kontolku yang masih tegak mengacung. Bahkan biji-biji pelirku pun ikut disekanya juga sampai ke lubang duburku.

Dan puncaknya, setelah handuk dan baskom diletakan di meja, giliran mulutnya yang digunakan untuk mengerjai kontolku. Dijilat-jilatnya kepala penisku yang membonggol besar, lalu dikulum dan dimasukannya ke mulutnya. Hanya setengah batang penisku yang berhasil masuk ke mulut ibu mertuaku. Mungkin terlalu panjang ukurannya. Tetapi terasa sangat nikmat saat ia mulai menghisap-hisapnya.

"Aakhh..... Enak sekali Bu. Sshh.. Oohh," rintihku tertahan.

Hisapan dan jilatan mulut Neni tak sampai senikmat ibu mertuaku. Tidak hanya batang penisku yang disosor dengan mulutnya. Namun biji pelirku pun ikut dikulum dan diseka dengan lidahnya. Bahkan, lidah ibu mertuaku bergerilya menyeka sampai ke lubang duburku. Nikmatnya tak terkira. Aku menggelinjang, tubuhku meliuk-liuk menahan nikmat.

"Aahh, sshh.. Aahh, enak sekali Bu. Ouuhhkhh.. Sa... sa.. Saya mau keluar Bu," rintihku akhirnya karena tak mampu menahan gairah lebih lama.

Ibu mertuaku langsung tanggap. Dihentikannya kuluman dan jilatan pada penisku. Diambilnya posisi berjongkok persis diatas pinggangku dengan kedua kaki berada diantara tubuhku yang telentang. Kulihat memeknya yang ukurannya cukup besar nampak membuka lubangnya lalu ia mulai menurunkan pantatnya.

Kurasakan bibir kemaluannya menyentuh kepala penisku yang tegak mengacung. Dan akhirnya, bblleess.. Batang kontolku masuk ke kehangatan lubang memeknya. Aku kembali mengerang menahan nikmat yang kudapatkan.

Terlebih saat ibu mertuaku mulai menaik turunkan pantatnya. Nikmat yang kurasakan terasa semakin menggila. Mungkin juga karena sudah cukup lama aku tidak bersetubuh sejak Neni istriku menolak melayani. Hanya yang pasti memek ibu terasa lebih mantap, kesat dan lebih menjepit.

Sesekali ibu mertuaku berhenti menaik turunkan pantatnya berganti gerakan dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya secara memutar. Sepertinya ia ingin mengeluarkan semua jurusnya untuk memuaskan dahagaku. Aku semakin kelimpungan dibuai kenikmatan yang diberikan.

Satu hal yang tidak kutemukan pada Neni, istriku, memek ibu mertuaku terasa lebih legit. Dinding bagian dalam kelaminnya mampu meremas dan mengempot batang kontolku, setiap kali ia menggoyang pantat dan menekannya. Puncaknya, ketika goyangan pantat mertuaku semakin cepat, gairahku semakin tak tertahan.

Tubuhku mengejang dan batang kontolku berkejut-kejut di lubang nikmat ibu mertuaku menyemburkan mani dalam jumlah sangat banyak. Di saat bersamaan, nampaknya ibu mertuaku juga kembali mendapatkan orgasmenya yang ketiga sampai akhirnya kami sama-sama terkapar.

Sejak itu, aku dan ibu mertuaku selalu mengulang permainan panas yang memabukkan. Aku tak lagi harus menahan derita pusing kepala karena Neni tak mau memberi jatah layanan ranjangnya. Dan ibu mertuaku, nampaknya juga sangat menikmati. Layaknya suami istri, kadang bahkan ibu mertuaku yang meminta.

"Punya kamu marem banget sih Hen, jadi ibu suka ketagihan," ujarnya memberi alasan.

Tetapi ia tetap berusaha keras untuk selalu bersikap wajar di hadapan Neni hingga perbuatan kami lancar-lancar saja dari waktu ke waktu.

Seperti malam itu, aku harus lembur sampai malam dengan komputerku. Karena besok sejumlah laporan harus sudah tersaji di meja pimpinan. Namun baru saja aku mau mulai menyelesaikan berkas terakhir yang harus kukerjakan, pintu kamar tamu tempatku bekerja kudengar dibuka. Ibu mertuaku masuk, membawa segelas besar kopi panas dan pisang keju kegemaranku.

"Masih banyak lemburannya Hen, itu kopinya diminum dulu biar seger," ujar ibu mertuaku sambil memijat pundakku dari belakang.

Sikapnya yang lembut dan penuh perhatian layaknya istri yang berbakti kepada suami membuatku senang bermanja padanya. Sambil menyandarkan tubuh kunikmati pijatan tangannya yang lembut.

"Eehh kok malah kesenengan, nanti ketiduran. Itu kopinya diminum dan lanjutin kerjanya, nanti nggak selesai. Ibu mau lihat Lani di kamar," ujarnya lagi ketika melihatku terkantuk-kantuk karena pijatannya.

Namun sebelum ia keluar kamar aku sempat meraih tangannya. Kutarik dan kupaksa duduk di pangkuanku. Kupagut bibirnya dan tanganku langsung meliar ke bagian tubuhnya yang paling kusuka. Dibalik dasternya, mertuaku ternyata tidak memakai BH maupun celana dalam. Kuremas pelan buah dadanya dan kupilin-pilin putingnya. Sementara telapak tanganku yang lain telah berhasil menelusup ke selangkangannya dan menemukan kemaluannya yang tidak terbungkus CD.

"Ibu sudah kepingin ya. Kok nggak pakai BH dan CD?" ujarku berbisik di telinganya.

Jari tengah tanganku telah berhasil masuk ke lubang vaginanya. Terasa hangat dan basah. Ia menggelinjang dan kurasakan jemari tangannya telah mencengkeram penisku yang mulai bangkit. Aku memang hanya bersarung dan juga tidak pakai CD.

"Tapi kamu kan lagi kerja Hen," ia menjawab lirih sambil mendesah.

Besar juga nafsu ibu mertuaku ini, pikirku dalam hati.

"Sudah hampir rampung kok Bu. Biar pagi-pagi sebelum berangkat saya selesaikan," kataku.

Nafsu ibu mertuaku memang benar-benar besar. Tak kusangka wanita seusia dirinya masih memiliki gairah yang cukup tinggi. Terbukti, setelah melepas daster yang dikenakan ia langsung memerosotkan kain sarung yang kukenakan. Rudalku yang telah tegak mengacung dijadikan sasaran. Wanita yang kini bertelanjang bulat itu, sambil berjongkok mulai mengelus dan mengocok pelan penisku.

"Punya kamu besar banget dan kekar Hen. Ibu benar-benar ketagihan," katanya sambil mengagumi kejantananku yang notabene adalah menantunya.

Tak puas hanya meremas dan mengocok, ia mulai melumat batang penisku dengan mulutnya. Disapu-sapunya sesaat kepala penisku dengan lidahnya, lalu dikulumnya dengan nikmat tongkat komandoku itu. Luar biasa nikmat kuluman ibu mertuaku terlebih ketika ia mulai menghisap-hisapnya. Aku menggelinjang menahan gairah dan kenikmatan yang diberikan.

"Aakkhh.. Enak banget Bu. Oohh.. Ya.. Ya terus ahh terus.. Terus hisaapp aahh," rintihku sambil memegangi dan meremas rambut kepala ibu mertuaku.

Aksi mulut ibu mertuaku di selangkanganku semakin menjadi. Setelah melepaskan kulumannya pada batang penisku, ia mengalihkan sasarannya di kantong kemenyan kontolku. Biji-biji pelirku dicerucupinya dengan lahap. Bahkan, tanpa sungkan, lubang anusku ikut dijilatinya sekalian. Aku jadi kelabakan menahan nikmat tak terkira. Terlebih ketika ujung lidahnya seperti hendak menyodok menerobos masuk ke lubang duburku. Pertanahanku nyaris jebol kalau saja tak segera kuhentikan aksinya itu.

Kami berganti posisi, kuminta ia duduk mengangkang di kursi yang tadi kududuki. Kemaluan ibu mertuaku nampak besar dan cembung. Kelimis tanpa rambut, nampaknya baru habis dicukur. Bibir kemaluannya yang tebal coklat kehitaman nampak berkerut-kerut. Mungkin begitulah kalau memek sudah sering dipakai. Namun tidak menghalangi gairahku untuk segera melahapnya. Mulutku langsung menciumi dan mencerucupinya. Dan kugunakan lidahku untuk menyapu dan menjilatnya.

Ia menggelinjang, menahan nikmat akibat sentuhan mulut dan lidahku di liang sanggamanya. Lubang memek ibu mertuaku tambah basah akibat bercampur dengan ludah yang keluar dari mulutku. Sesekali kelentitnya kujepit dengan dua bibirku dan kutarik-tarik. Lalu kuhisap dan kusedot.

"Aauuww.. Hen, kamu apakan ibu? Ahh.. Enak banget Hen. Ibu nggak pernah merasakan yang seperti ini sayang. Ya.. Ya.. Terus.. Terus hisap dan jilat sayang. Ibu bisa gila Hen.... Ya.. Ya.. Aahh.. Sshh aahh..... Nikkhhmmaatt," rintih ibu mertuaku.

Reaksinya makin menjadi ketika lubang duburnya yang kujadikan sasaran jilatan lidahku. Ia menggelepar seperti cacing kepanasan dan mulutnya menceracau tak karuan.

"Oohh..,.. Ibu enak banget Hen, teruss.. Eenaakk.. Sshh. Terus jilat sayang..,.. Ya.. Ya.., terus jliat. Enakk sayang..,. Aahh.. Enak banget," ia merintih sambil menjambaki rambutku.

Aku takut suara ibu sampai membangunkan Neni di kamarnya. Maka untuk mengurangi suara berisiknya, kusodorkan jari telunjuk tangan kananku ke mulutnya agar ia menghisapnya.

Sesaat upayaku berhasil, setelah mulutnya tersumpal jari telunjukku. Mulutnya tidak lagi menceracau dan mendesis-desis seperti ular cari mangsa yang bisa membangunkan Neni. Bahkan ia mulai menghisap-hisap jariku yang membuatku semakin menikmati acara pemanasan itu. Tetapi ketika ujung lidahku mulai mencucuk lubang duburnya, reaksinya kembali menggila. Ia mengerang tertahan dengan suara yang cukup keras.

"Aakkhh..,.. Enaak bangeett Hen! Aakkhh, sshh ibu nggaak kuat..,.. Nggaakk kuat dan mau keluar Hen," rintihnya makin menjadi.

Aku tahu, itu pertanda ia tak dapat lagi membendung gairahnya. Tak ingin menyiksanya terlalu lama, segera kuhentikan jilatan lidahku di lubang anusnya. Lagian aku juga sudah ingin menikmati kelegitan vaginanya. Maka penisku yang telah tegak mengacung langsung kuarahkan ke kemaluan mertuaku. Kepala penisku yang membonggol besar kugesek-gesekkan di bibir kemaluannya dan lalu kutekan. Bblleess.., sekali dorong langsung amblas tertelan di lubang nikmat itu.

Posisiku yang berdiri sementara ibu mertuaku duduk mengangkang di kursi sangat memungkinkanku untuk melakukan berbagai manuver. Maka dengan semangat 45 segera saja kugenjot tubuh mertuaku. Batang penisku langsung menyodok-nyodok, keluar masuk di dalam liang sanggamanya.

Sebagian bibir dalam vagina ibu mertuaku seperti ikut tertarik keluar bersama penisku dan kembali masuk ke dalam saat aku mendorongnya. Mungkin karena ukuran kontolku yang kelewat besar atau karena bibir bagian dalam vagina ibu mertuaku yang telah menggelambir. Namun terus terang vagina ibu mertuaku lebih enak dibanding milik Neni, anaknya yang juga istriku.

"Kontolmu gede banget Hen..,. Aahh.. Sshh.. Oouukkhh.. Punya ibu seperti mau jebol. Tapi bener-benar enak sayaang..,.. Aakkhh terus sayang.. Enak banget," mulutnya kembali menceracau.


"Saya juga suka sama memek ibu. Sshh.., aakkhh.. Tebal, keset dan legit. Saya suka banget ngentot sama ibu," ujarku tak mau kalah.


"Jadi meskipun Neni nggak mau melayani kamu nggak akan cari wanita lain kan?" Katanya lagi.


"Pasti Bu, kan sudah ada ibu! Kalau ibu mau terus melayani, saya akan terus sayang sama Neni dan ibu,"


"Tentu sayang, tentu. Ibu suka banget dientotin sama kamu Hen. Aahh..,. Aahh.. Sshh.. Ookkhh.. Enak bangat. Aahh.. Aahh.. Sshh.. Sshh.. Ibu mau keluar sayang.. Ya.. Ya terus sayang," mata ibu mertuaku kulihat mebeliak-beliak dan mulutnya makin mendesis.

Aku jadi kian semangat melihat ia telah hampir menggapai puncak kenikmatannya. Sodokan penisku di lubang memeknya semakin kupercepat sambil tanganku meremas gemas buah dadanya yang terguncang-guncang.

Akhirnya, seiring dengan puncak kenikmatan yang kudapat, kurasakan tubuh ibu mertuaku mengejang. Lalu memeknya terasa mengempot dan menyedot penisku.

"Ibu keluar.. Hen.. Aahh.. Aahh ibu keluar sshh.. Aahh enak banget sayang.. Enaakk.. Banget," rintihan ibu mertuaku meninggi karena telah didapat orgasmenya.

Akupun tak mau kalah, penisku berkedut-kedut di lubang nikmat ibu mertuaku. Pertahananku ambrol setelah maniku menyembur di memek ibu.

"Saya juga keluaarrhh Bu.., aahh.. Sshh..,.. Ssh ayo jepit Bu terus jepit dengan memek ibu, aahh enakk banget.. Sshh.. Aahh.. Aakkhh."

Suasana hening sesaat. Karena kecapaian akhirnya kami pulas tertidur sambil berpelukan. Entah sampai kapan hubungan sumbang kami ini akan berakhir.

TAMAT

Anakku Tersayang

Marlina, 35 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak. Penampilan Marlina sangat menarik. Sebagai wanita yang tinggal di kota besar, Bandung, cara berpakaiannya selalu sexy. Tidak sexy murahan tapi berkelas dan menarik. Dengan tubuh tinggi semampai, dada 36, dan kulit yang putih, walau sudah menikah dan punya anak yang sudah cukup dewasa, tapi masih banyak lelaki yang selalu menggodanya.

Anaknya yang paling besar, Jimmy, 16 tahun, seorang anak yang yang baik dan penurut pada orang tuanya. Anak kedua, Yenny, 14 tahun, seorang anak yang sudah mulai beranjak dewasa. Sedangkan suami Marlina, Herman, adalah seorang suami yang cukup baik dan perhatian pada keluarga. Bekerja sebagai seorang PNS di suatu instansi pemerintah.

Kehidupan sexual Marlina sebetulnya tidak ada masalah sama sekali dengan suaminya. Walau banyak lelaki yang menggoda, tak sedikitpun ada niat dia untuk mengkhianati Herman.

Tapi ada sesuatu yang berubah dalam diri Marlina ketika suatu hari dia secara tidak sengaja melihat anak lelakinya, Jimmy, sedang berpakaian setelah mandi. Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, Marlina dengan jelas melihat Jimmy telanjang. Matanya tertuju pada kontol Jimmy yang dihiasi dengan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat.

Sejak saat itu Marlina pikirannya selalu teringat pada tubuh telanjang anak lelakinya itu. Bahkan seringkali Marlina memperhatikan Jimmy bila sedang makan, sedang duduk, atau sedang apapun bila ada kesempatan.

"Ada apa si Mam, kok liatin Jimmy terus?" tanya Jimmy ketika Marlina memperhatikannya di ruang tamu.


"Tidak ada apa-apa, Jim.. Hanya saja Mama jadi senang karena melihat kamu makin besar dan dewasa," ujar Marlina sambil tersenyum.


"Kamu sudah punya pacar, Jim?" tanya Marlina.


"Pacar resmi sih belum ada, tapi kalau sekedar teman jalan sih ada beberapa. Memangnya kenapa, Mam?" tanya Jimmy.


"Ah, tidak. Mama hanya pengen tahu saja," ujar Marlina.


"Kamu pernah kissing?" tanya Marlina.


"Ah, Mama.. Pertanyaannya bikin malu Jimmy ah..." ujar Jimmy sambil tersenyum.


"Yee.. Tidak apa-apa kok, Jim.. Jujur saja pada Mama. Mama juga pernah muda kok. Mama mengerti akan maunya anak muda kok..." ujar Marlina sambil menjewer pelan telinga Jimmy. Jimmy tertawa.


"Ya, Jimmy pernah ciuman dengan mereka," ujar jimmy.


"ML?" tanya Marlina lagi.


"ML apa sih artinya, Mam?" tanya Jimmy tidak mengerti.


"Making LOve.. Bersetubuh..." ujar Marlina sambil mempraktekkan ibu jarinya diselipkan diantara telunjuk dan jari tengah.


"Wah kalau itu JImmy belum pernah, Mam.. Tidak berani. Takut hamil..." ujar Jimmy. Marlina tersenyum mendengarnya.


"Kenapa Mama tersenyum?" tanya Jimmy.


"Karena kamu masih sangat polos, sayang..." kata Marlina sambil mencubit pipi Jimmy, lalu bangkit untuk menyiapkan segala sesuatunya karena Herman akan segera pulang.

Malam harinya, Marlina, Jimmy, dan Yenny asyik menonton TV, sedangkan Herman sedang mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.

"Ciuman rasanya gimana sih?" tanya Yenny ketika menyaksikan adegan ciuman di televisi.


"Ah, kamu.. Masih kecil! Tidak perlu tahu," ujar Jimmy sambil mengucek-ngucek rambut Yenny.


"Tidak boleh begitu, Jim.. Adikmu harus tahu tentang apapun yang dia tidak mengerti. Biar tidak salah langkah nantinya..." ujar Marlina sambil menatap Jimmy.


"Begini, Yen..." ujar Marlina.


"Ciuman itu tidak ada rasa apa-apa.. Tidak manis, pahit atau asin. Hanya saja, kalau kamu sudah besar nanti dan sudah merasakannya, yang terasa hanya perasaan nyaman dan makin sayang kepada pacar atau suami kamu..." ujar Marlina lagi.


"Ah, nggak ngerti..." ujar yenny.


"Mendingan Yenny tidur saja, ah.. Sudah ngantuk..." ujar Yenny.


"Ya sudah, tidurlah sayang," ujar Marlina. Yenny kemudian bangkit dan segera menuju kamar tidurnya.

Ketika menyaksikan adegan ranjang di televisi, Marlina bertanya kepada Jimmy, "Apakah kamu sudah itu dengan pacarmu?".


"Jimmy belum punya pacar, Mam.. Mereka hanya sekedar teman saja," jawab Jimmy.


"Tapi kok kamu bisa ciuman dengan mereka?" tanya Marlina lagi sambil tersenyum.


"Ya namanya juga saling suka..." jawab Jimmy sambil tersenyum juga.


"Sudah sejauh mana kamu melakukan sesuatu dengan mereka?" tanya Marlina.


"Tidak apa-apa kok, Jim.. Bicara terbuka saja dengan Mama," ujarnya Marlina lagi. Jimmy menatap mata ibunya sambil tersenyum.


"Ya begitulah..." kata Jimmy.


"Ya begitulah apa?" tanya Marlina lagi.


"Ya begiutlah.. Ciuman, saling pegang, saling raba..." ujar Jimmy malu malu. Marlina tersenyum.


"Hanya itu?" tanya Marlina lagi.

Jimmy melirik ke arah ayahnya yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.

"Mama jangan bilang ke Papa ya?" ujar Jimmy.

Marlina tersenyum sambil mengangguk. Jimmy lalu beringsut mendekati Marlina.

"Jimmy pernah oral dengan beberapa teman wanita..." ujarnya sambil berbisik.

Marlina tersenyum sambil mencubit pipi Jimmy.

"Nakal juga ya kamu!" ujar Marlina sambil tersenyum.


"Rasanya bagaimana?" tanya Marlina sambil berbisik.


"Sangat enak, Mam..." ujar Jimmy.


"Tapi Jimmy dengar, katanya kalau punya Jimmy dimasukkan ke punya wanita rasanya lebih enak.. Benar tidak, Mam?" tanya Jimmy.

Marlina kembali tersenyum tapi tidak menjawab..

"Kamu mau tahu rasanya, Jim?" tanya Marlina sambil tetap tersenyum. Jimmy mengangguk.


"Sini ikut Mama..." ajak Marlina sambil bangkit lalu pergi ke ruang belakang. Jimmy mengikuti dari belakang.

Sesampai di ruang belakang, Marlina menarik tangan Jimmy agar mendekat.

"Ada apa sih, Mam?" tanya Jimmy.


"Karena kamu sudah dewasa, Mama anggap kamu sudah seharusnya tahu tentang hal tersebut," ujar Marlina dengan nafas agak memburu menahan gejolak yang selama ini terpendam terhadap anaknya tersebut.


"Ciumlah Mama sayang..." kata Marlina sambil mengecup bibir Jimmy.

Jimmy diam karena tidak tahu harus berbuat apa. Marlina terus melumat bibir anaknya itu sambil tanggannya masuk ke dalam celana Hawaii Jimmy. Lalu dengan lembut diremas dan dikocoknya kontol anaknya. Karena tidak tahan merasakan rasa enak, Jimmy dengan segera membalas ciuman Marlina dengan hangat.

Sambil terus mengocok dan meremas kontol Jimmy, Marlina berkata, "Kamu ingin merasakan rasanya bersetubuh kan, sayang?".


"Iya, Mam..." ujar Jimmy dengan nafas memburu.


"Mama juga sama, Jim.. Mama ingin merasakan hal itu dengan kamu," ujar Marlina.


"Kapan, Ma?" tanya Jimmy sambil menggerakkan pinggulnya maju mundur karena enak dikocok kontol oleh Marlina.


"Jangan sekarang ya, sayang..." ujar Marlina sambil melepaskan genggaman tangannya pada kontol Jimmy.


"Yang penting kamu harus tahu bahwa Mama sangat sayang kamu..." kata Marlina sambil mengecup bibir Jimmy.


"Jimmy juga sangat sayang Mama," ujar Jimmy.


"Sekarang Mama harus tidur karena sudah malam. Nanti Papamu curiga..." ujar Marlina sambil meninggalkan Jimmy.

Jimmy menarik nafas panjang menahan suatu rasa yang tak bisa diucapkan.. Tak lama Jimmy masuk ke kamar mandi.. Onani. Besok paginya, Herman sudah siap-siap pergi kerja sekalian mengantar Yenni ke sekolah karena masuk pagi. Sementara Jimmy masuk sekolah siang. Dia masih tidur di kamarnya.

Setelah Herman dan Yenni pergi, dengan segera Marlina mengetuk dan masuk ke kamar Jimmy. Jimmy masih tidur dengan hanya memakai celana Hawaii saja. Marlina tersenyum sambil duduk di sisi ranjang anaknya tersebut. Tangannya mengusap dada Jimmy. Dimainkannya puting susu Jimmy. Jimmy terbangun karena merasakan ada sesuatu yang membuat darahnya berdesir nikmat. Ketika matanya dibuka, terlihat mamanya sedang menatap dirinya sambil tersenyum.

"Bangun dong, sayang.. Sudah siang," ujar Marlina sambil tangannya berpindah masuk ke dalam celana Hawaii Jimmy.

Diusap, dibelai, diremas, lalu dikocoknya kontol Jimmy sampai tegang dan tegak. Jimmy terus menatap mata MArlina sambil merasakan rasa nikmat pada kontolnya.

"Mau sekarang?" tanya Marlina sambil tetap tersenyum.


"Saya mau kencing dulu, Mam..." kata Jimmy sambil bangkit lalu bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai, segera dia kembali ke kamarnya.


"Lama amat sih?" tanya Marlina.


"Jimmy kan sikat gigi dulu, Mam..." ujar Jimmy sambil duduk di pinggir ranjang berdampingan dengan Marlina.


"Kenapa Mama mau melakukan ini dengan Jimmy?" tanya Jimmy. Marlina tersenyum sambil mencium pipi anaknya itu.


"Karena Mama sangat sayang kamu. Juga Mama ingin mendapat kebahagiaan dari orang yang paling Mama sayangi.. Kamu," ujar Marlina sambil kemudian melumat bibir Jimmy.

Jimmy membalasnya dengan hangat pula. Kemudian Marlina bangkit lalu melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Jimmy terus menatap tubuh ibunya dengan kagum dan nafsu.

"Buka celana kamu dong, sayang," ujar Marlina.


"Iya, Mam..." ujar Jimmy sambil bangkit lalu melepas celana Hawaiinya.


"Sini, Jim..." ujar Marlina sambil berjongkok.

Tak lama mulut Marlina sudah mengulum kontol Jimmy. Jilatan dan hisapannya membuat Jimmy bergetar tubuhnya menahan nikmat yang amat sangat.

"Mmhh.. Enakk, Mamm..." desah Jimmy sambil agak menggerakkan pinggulnya maju mundur.

Marlina melepas kulumannya, sambil tersenyum menatap wajah Jimmy yang tengadah merasakan nikmat, tangannya terus mengocok kontol Jimmy.

"Gantian, Jim..." ujar Marlina.


"Iya, Mam..." ujar Jimmy.

Marlina lalu naik ke ranjang anaknya. Lalu segera dibukanya paha lebar-lebar.. Jimmy langsung mendekatkan wajahnya ke memek Marlina. Lalu segera dijilatinya seluruh permukaan memek Marlina. Marlina terpejam menahan nikmat. Apalagi ketika jilatan lidah Jimmy bermain di kelentitnya.. Mata Marlina terpejam, tubuhnya bergetar sambil menggoyangkan pinggulnya.

"Ohh.. Enakk.. Teruss, Jimm..." desah Marlina.

Setelah sekian menit Marlina dijilati memeknya, tiba-tiba tubuhnya bergetar makin keras, ditekannya kepala Jimmy ke memeknya, lalu segera dijepit dengan pahanya.. Tak lama...

"Ohh.. Mhh.. Ohh..." desah Marlina panjang. Marlina orgasme.


"Ohh, enak sekali sayang.. Naik sini!" ujar Marlina.

Jimmy naik ke tubuh Marlina. Dengan segera Marlina melumat bibir Jimmy walau masih belepotan dengan cairan dari memek Marlina sendiri.

"Masukkin sayang..." bisik Marlina sambil menggenggam kontol Jimmy dan diarahkan ke memeknya.

Setelah itu, Jimmy langsung memompa kontolnya di memek Marlina. Mata Jimmy terpejam sambil terus mengeluarmasukkan kontolnya.

"Bagaimana rasanya, Jim?" tanya Marlina sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan Jimmy.


"Nikmat sekali, Mam..." ujar Jimmy.

Marlina tersenyum sambil terus menatap mata anaknya. Tak lama, tiba-tiba tubuh Jimmy mengejang, gerakannya makin cepat..

"Jimmy mau keluar, Mam," bisik Jimmy.


"Mmhh.. Keluarkan sayang, puaskan dirimu..." bisik Marlina sambil memegang pantat Jimmy lalu menekankan ke memeknya keras-keras.

Tak lama.. Crott! Crott! Crott! Air mani Jimmy muncrat banyak di dalam memek Marlina. Jimmy mendesakkan kontolnya dalam-dalam ke memek Marlina..

"Bagaimana rasanya sayang?" tanya Marlina.


"Sangat nikmat, Mam.. Lebih nikmat daripada oral..." ujar Jimmy sambil mengecup bibir Marlina.


"Jimmy sangat sayang Mama," ujar Jimmy.


"Mama juga sangat sayang kamu," ujar Marlina.

Lalu mereka berpelukan telanjang.

TAMAT

Senin, 02 Agustus 2010