Minggu, 08 Agustus 2010

4 SEX - Asian sex video - Tube8.com

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

Carmen Electra Strip Poker - Strip sex video - Tube8.com

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

Sex education homework

Kami kehilangan keperjakaan dan keperawanan kami bersama-sama. Hal itu terjadi ketika usiaku baru menginjak 11 tahun, pada akhir sekolahku di kelas 5. Memang tidak terlalu mengejutkan kalau dipelajari karena pasanganku adalah tetanggaku Kathy, yang usianya setahun diatasku, dan duduk dikelas 6.

Kita berdua satu sekolah di pinggir kota Chicago dan kami sudah bersahabat sejak tiga tahun sebelumnya. Sampai kemudian aku menganggapnya lebih dari sahabatku lainnya. Kathy agak tomboy, dia biasa bermain mainan yang biasanya dikerjakan anak laki-laki. Sampai kemudian tubuhnya berkembang seperti selayaknya seorang gadis, dan akupun mulai kikuk kalau sedang bersamanya, tanpa kuketahui dengan jelas apa sebabnya.

Ibu Kathy telah cerai dan harus bekerja siang hari pada suatu rumah makan. Keadaan ini semakin menyenangkan buat kami, karena kami berdua biasa ditinggalkan sendirian berjam-jam pada siang hari. Biasanya kami hanya sebatas duduk bersama sambil berbincang-bincang seperti anak-anak lain pada umumnya. Tapi sore ini terjadi keadaan yang berbeda.

Hari itu kami baru mendapatkan pelajaran pendidikan-sex di sekolah. Pada jaman itu, setahun sekali anak laki-laki dan perempuan dipisahkan untuk mendapatkan 'pendidikan seks'. Sebenarnya pelajaran itu berupa pelajaran biologi dengan sedikit tambahan informasi tentang masalah sex. Informasi tersebut cukup rinci dengan dilengkapi pula dengan buku saku dengan judul 'Apa yang harus diketahui anak laki-laki' atau 'Apa yang harus diketahui anak perempuan'.

Disana tidak dijelaskan secara gamblang tentang aktivitas sex. Secara alami anak laki-laki selalu ingin tahu apa yang telah diajarkan kepada teman-teman perempuannya, demikian pula sebaliknya anak-anak perempuan ingin tahu apa yang telah diajarkan ke teman-teman laki-lakinya. Demikian pula yang kami perbincangkan hari itu.

Kami berdua berada di dalam kamar Kathy, di atas tempat tidurnya yang berukuran besar, terbuat dari kayu jati yang nyaman. Kami duduk berhadapan, Kathy membaca buku sakuku sedang aku membaca buku sakunya.

"Kathy, kamu mendapatkan bahan banyak banyak dari yang kuperoleh. Contohnya lihat ini, ada proses haid dan Kotex!"
"Tapi mereka tidak benar-benar menceritakan secara jelas. Aku pikir kita telah memiliki gambar atau semacam anu."

Aku benar-benar sangat mengharapkan, karena aku belum pernah melihat tubuh perempuan yang telanjang dan seperti apa bentuk anunya dibawah sana. Kathy memakai T-Shirt dan celana pendek, aku bisa melihat betuk lengkungan bukit dadanya yang kecil, dan samar-samar aku juga bisa melihat garis celah-celah diantara pahanya yang tertutup oleh celana ketatnya.

"Aku tidak mengetahui mengapa mereka menyebutnya pendidikan-seks. Padahal disini tidak menerangkan bagaimana cara melakukannya."
"Siapa bilang? Mari kutunjukan kepadamu," kata Kathy sambil membungkukkan punggung dan meletakkan buku dihadapanku.

Kucium keharuman shampo rambutnya yang membuatku terangsang. Aku pun merasakan ketegangan anuku didalam celanaku. Tapi aku mengharapkan semoga dia tidak menyadari apa yang sedang kurasakan.

"Lihat! Disini dikatakan penis laki-laki akan tegang kaku dan keras. Sehingga bisa dimasukkan ke vagina perempuan, yang lembut dan mudah mengembang. Ketika dia ejakulasi, cairan sperma yang berisi jutaan sel masuk ke vagina perempuan dan membuahi telur."
"Itu sudah ceritakan banyak kepadaku," katanya dengan menyindir,"Seperti dimana letak liang vagina itu? Bagaimana cara penis memasukinya?"

Sebenarnya aku agak malu mendengar secara fulgar kata-kata itu di depan seorang gadis, sehingga wajahku menjadi merah padam dan penisku semakin menonjol keluar celanaku. Kathy membuka lagi lembar lainnya dan menunjukkannya kepadaku suatu baris gambar.

"Disini tempatnya," katanya sambil menunjuk kesuatu gambar.
"Sudah jelas apa yang kumaksudkan? Tidakkah sudah cukup jelas yang kamu cari?" kata Kathy.

Tiba-tiba sebuah ide masuk keotakku dan aku harus memutuskan untuk mengambil resiko.

"Dimana milikmu?"

Aku hampir tidak percaya bahwa aku benar-benar berani mengucapkannya. Aku tahu aku telah melakukan sesuatu yang bodoh, yang bisa diceritakan Kathy kepada teman-temanku disekolah.
Kathy melirikku dengan ekor matanya beberapa saat. Dia kibaskan rambutnya kebelakang dan menyisihkan rambut yang menutupi wajahnya. Kemudian merebahkan punggungnya dan tangannya digerakkan ketempat diantara kedua pahanya. Aku hampir tidak berani memandang ke arah bagian tersebut. Kemudian disusupkannya disuatu tempat di celananya.

"Disini tempatnya."

Waktu terus berjalan dengan cepat dan aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku Cuma tertawa dan berkata, "Itu bukan sangat dekat seperti apa yang dikatakan di buku!"

Kathy juga tertawa, dan aku bisa merasakan 'anuku' semakin membesar. Kami berdua melanjutkan membuka lembar lainnya sambil memperbincangkan lebih lanjut. Aku jadi grogi ketika Kathy kemudian berkata,"Jadi bagaimana penis bisa muat kalau dimasukkan kesana? Seperti yang dikatakan buku ini. Apa betul?"

Ya ampun! Dia sedang memperbincangkan 'anuku'! Aku menelan ludah beberapa kali sambil berkata,

"Kecuali, ketika penis sudah keras dan tegang."

Aku merasa jantungku berdebar semakin keras. Aku hampir tidak percaya apa yang sedang terjadi! Itu tidak seperti yang sering aku impikan. Aku belum mulai onani, dan proses ke arah sana terus berlangsung dengan cepat.

"Aku masih tidak paham bagaimana caranya penis bisa masuk kesana. Si perempuan mestinya tidur di atas meja atau apa saja sedang laki-laki dalam posisi berdiri."
"Aku sempat menyaksikan 'Wild Kingdom' semalam dan melihat dua singa melakukan itu. Cukup menarik."
"Bagaimana cara mereka melakukan itu?" Tanya Kathy penasaran.
"Singa betina duduk sana dan singa jantan duduk dibelakangnya. Kukira ia menaruh penisnya dari belakang."
"Mana bisa?" kata Kathy dengan nada meremehkan yang membuatku marah. Kami memang selalu bersaing dan saling mencintai.
"Benar, Aku melihatnya dengan jelas."
"Tidak masuk akal, lihat" kata Kathy sambil tubuhnya memberangkang dengan perut menyentuh kasur.
"Dengan posisi seperti ini bagaimana bisa masuk?"
"Singa betina bukan berbaring seperti itu. Kakinya ada dibawahnya," kataku sambil memperagakan posisi singa betina setengah berjongkok dengan tangan bertumpu pada kasur.
"Sama saja tetap tidak bisa. Lihat?" Kathy memposisikan kakinya dan sikutnya berada dibawah dadanya. Pantatnya diangkat, sehingga bulatan pinggulnya nampak jelas dibungkus celananya yang ketat.
"Vaginaku tepat disini." Tangannya digerakkan diantara kedua pangkal pahanya dan kulihat cembungan ditempat tersebut.
"Jika penis ditusukkan kesini, tidak akan bisa menjangkaunya."

Aku yakin bahwa aku yang benar, dan aku harus membuktikannya.
"Kenapa tidak, coba lihat," kataku sambil memposisikan tubuhku dibelakang Kathy seperti singa jantan, dan penisku kutempelkan dibulatan pantatnya.
"Hey, apa yang kau lakukan??" tanya Kathy dengan wajah merah padam.
"Membuktikan bahwa aku benar. Begini." kataku sambil mendorong dan menggesekan tonjolan penisku pada bulatan pantatnya. Kurasakan sensasi kehangatan menyentuh bagian tonjolan penisku.
"Penis akan ditusukkan dari sini, begini." Kuletakkan jari telunjukku mengacung diposisi penisku, kemudian kugerakkan pinggulku kedepan sehingga ujung telunjukku menusuk kepangkal pahanya.

"Ya, tapi tetap saja tidak bisa," kata Kathy tidak puas.
"Hey, aku tahu! Tunggu, jangan bergerak. Pindahkan posisi kakimu diantara kakiku, nah sekarang gerakkan maju."

Dengan berlandaskan lutut aku berdiri diantara kedua paha Kathy, kugerakkan pinggulku kedepan sehingga ujung jari telunjukku menyentuh cembungan dipangkal paha Kathy.
"Ohh," desah Kathy. Pinggulnya terjungkit ketika ujung jariku menusuk tepat di vaginanya.
"Begitu sudah tepat di vaginanya, singa jantan kemudian menindih tubuh singa betina, sambil menusukkan penisnya kedepan."

Kurebahkan tubuhku dipunggung Kathy sambil menggerakkan pinggulku maju mundur. Jariku kutusuk-tusukkan ke vagina Kathy. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kulakukan, kenyataannya jari telunjukku sedang menusuk dan menggosok bagian paling rahasia Kathy! Penisku jadi semakin tegang dan kalau diteruskan lagi sepertinya aku bisa orgasme. Aku tak tahu apa yang Kathy rasakan, yang pasti tubuhnya ikut menggeliat-geliat setiap kali kusentuh vaginanya. Akhirnya Kathy sadar akan keadaan kami, tubuhnya kemudian dibalikkan dan menjauh.

"OK, aku tahu yang kau maksudkan. Kau mungkin benar. Tapi kupikir manusia tidak melakukan dengan cara seperti itu."

Aku terduduk dengan wajah merah padam, sejenak kutenangkan diriku agar Kathy tidak tahu apa yang sedang bergolak pada diriku."Aku tidak mengatakan begitu, aku hanya mengatakan bahwa dengan cara seperti itu bisa dilakukan. Disamping itu apa ada cara lain untuk melakukan itu.

"Aku pernah melihat sesuatu di TV dengan Mamaku, tapi dia segera merubah channel sebelum aku sempat melihatnya dengan jelas." kata Kathy
"Apa itu?"
"Mereka berada dibawah selimut sehingga aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tetapi perempuannya jelas sedang berbaring terlentang, seperti ini," kata Kathy sambil berguling terlentang, dengan kedua pahanya direnggangkan.
"Dan ada seorang laki-laki menindihnya dari atas."
"Tidak, dia tidak akan bisa berbuat sesuatu!" kataku penasaran.
"Kenapa tidak?. Mari kita coba!"

Aku benar-benar khawatir. Aku tidak ingin melukai Kathy. Tapi aku ingat katika bermain bola, kathy pernah ditindih beberapa anak laki-laki yang ternyata tidak apa-apa. Tapi ada sesuatu yang membuatku berdebar-debar, dengan posisi itu aku akan bisa bergesekan lebih banyak dengan gundukan kecil di pangkal paha Kathy. Daerah itu terasa hangat dan telah menghipnotisku sehingga sempat bembuatku hampir orgasme.

"Sekarang berbaringlah di atasku," kata Kathy.

Aku merebahkan diri menindih tubuhnya dengan bertumpu pada kedua tanganku. Kurasakan sepasang bukit di dadanya menusuk dadaku! Desah nafasnya menyapu wajahku dan kucium keharuman rambutnya, demikian juga kehangatan yang terpancar dari pangkal pahanya. Aku benar-benar terangsang berat, apalagi ketika kedua tangannya merangkul leherku sehingga tubuh kami berhimpitan.

"Kamu menyukai posisiku seperti ini?" bisikku dengan suara bergetar.
"Yeah. Sepertinya nyaman," bisik Kathy. Mata kami saling pandang, 1001 perasaan bercampur aduk. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan sampai Kathy berbisik,
"Kamu pernah mencium seorang gadis?"
"T... Tidak pernah," jantungku berdebar keras, aku tidak pernah sedekat ini dengan Kathy. Wajahnya yang manis sekali tampak merah padam, tapi malah kelihatan semakin cantik. Tubuhnya yang harum, padat tapi lembut sekali.
"Aku juga," kata Kathy, kemudia kita tertawa bersama.
"Maksudku aku tidak pernah mencium seorang laki-laki, tapi..."

Tiba-tiba Kathy menarik wajahku dan... Bibirku bersentuhan dengan bibirnya... Kami berciuman sambil menutup mata, bibir kami saling bergesekan, saling menghisap dan lidah kami saling menyentuh dan membelai... Wow, sesuatu yang sangat luar biasa!!! Getaran sentuhan bibir kami sampai terasa kesekujur tubuh kami, terasa niimaaat sekali, sulit kami gambarkan dengan kata-kata. Ciuman itu terhenti karena kami kehabisan napas.

"Ohh, luar biasa, manis sekali," desahku.
Tapi tiba-tiba aku terkejut ketika Kathy malah tetawa genit.
"Mnnn... Mmmhmm." tawanya yang genit lagi.
"Apa yang sangat lucu?" tanyaku penuh tanda tanya.
"Aku dapat merasakan kamu." kata Kathy sambil tersenyum manis.
"Tapi? Aku dapat merasakan kamu juga." kataku masih bingung.
"Tidak, maksudku aku dapat merasakan anumu... Um... Penismu. Aku merasakan benar-benar sangat keras."

Aduh! Aku benar-benar telah melupakan! Aku benar-benar bodoh luar biasa, dan Kathy bisa ceritakan teman-temanku! Aku bisa sangat malu, tapi hal itu terjadi tanpa dapat kukendalikan.

"Oh... Aku... Minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja, itu terjadi dengan sendirinya, tanpa dapat kucegah." kataku terbata-bata, sambil bergerak mengangkat pinggulku.
"Hey, Aku tidak keberatan koq." kata Kathy, sambil melipat kakinya memeluk pinggulku, sehingga aku tidak bisa bangun, dan kurasakan tonjolan penisku semakin merapat erat dengan cembungan vaginanya.
"Aku... Aku tidak tahu. Itu kadang-kadang terjadi dengan sendirinya." kataku mencoba untuk menerangkan keadaanku.
"Benar? Bagus sekali." kata Kathy sambil menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga aku semakin terangsang.
"Seberapa besarnya?" bisik Kathy.
"Apanya?!" tanyaku agak panik.

Kathy tertawa genit, dia senang melihat kebingunganku.

"Seberapa besarnya mmm penismu? Aku merasakan cukup besar. Aku hanya tidak bisa memahami apakah anunya seorang gadis bisa dimasuki yang sebesar itu?
"Aku tidak tahu, aku juga tidak pernah memikirkan seberapa besarnya."
"Coba kulihat," kata Kathy.

Hatiku semakin berdebar-debar, Kathy ingin melihat penisku! Apakah aku harus telanjang bulat di depan seorang gadis? Tidak!

"Ayolah, biarkan aku melihatnya, please?"

Tunggu dulu. Ini adalah kesempatanku untuk melihat seorang gadis telanjang. Ini benar-benar sesuatu yang luar biasa! Tapi aku tidak yakin Kathy membolehkan aku melihatnya. Tapi ternyata Kathy mau! Kathy juga benar-benar ingin melihatku telanjang. Hanya untuk melihat, tanpa berbuat apa-apa lagi!

"OK, kamu dulu." kataku.
"Tidak, kita sama-sama." katanya.

Ini memang adil. Aku segera membuka bajuku, demikian pula Kathy. Detak jantungku terasa semakin cepat. Aku pernah melihat Kathy dalam pakaian renang, tapi ini benar-benar luar biasa. Sambil melepas bajuku, mataku tidak pernah lepas dari bra-nya yang berwarna putih, dan juga kulit tubuhnya yang kuning mulus. Aku benar-benar tidak pernah membayangkan begitu luar biasa, apalagi ketika Kathy membuka kaitan bra-nya dan melepaskannya... Jantungku seakan berhenti bertetak...

Akhirnya aku benar-benar melihat buah dada seorang gadis!!! Bulat, putih bagai cream, putting kecil berwarna pink yang mencuat indah sekali. "Mmm." Guman Kathy menyadarkanku. Kathy tersenyum-senyum malu melihatku terbengong-bengong melihat kemulusan buah dadanya.

Aku segera melepaskan sabukku, Kathy menyusupkan jarinya memegang elastik celana pendeknya dan berhenti menungguku. Aku segera melepaskan kancing celana dan terus melepas celana jeanku. Penisku yang tegang langsung tampak mencuat dari dalam celana dalamku. Tiba-tiba mukaku merah padam, ternyata Kathy belum melepas celana pendeknya.

"Hey! Ayoi! Kamu kan janji bersama-sama!"
"Oh, maaf. Aku lupa," kata Kathy sambil sorot matanya tidak lepas dari tonjolan penisku di celana dalamku.

Kathy kemudian berbaring sambil melepas celena pendeknya melewati pinggulnya yang bulat indah. Tubuh kami berdua sekarang tinggal dibalut oleh celana dalam. Aku benar-benar kagum dengan kemulusan kulit tubuhnya bagaikan kulit bayi, kuning kemerahan dan halus sekali.

"Siap," kata Kathy.
"OK," kataku mantap.

Aku benar-benar sudah tidak sabar lagi melihat tubuh seorang gadis yang telanjang bulat di depanku. Dan... Hal itu benar-benar menjadi kenyataan ketika Kathy pelahan-lahan melepas celana dalamnya, bersamaan dengan kuturunkan celana dalamku melewati kakiku.

Dan kemudian kami berdua sama-sama terbengong-bengong melihat tubuh telanjang di depannya. Kulit tubuh Kathy benar-benar mulus, lekukan tubuhnya benar-benar mempesona. Ketika sudut mataku melihat ke Kathy, kulihat wajahnya merah padam dan sorot matanya menjelajahi seluruh tubuhnya. Sepertinya wajahnya jadi semakin cantik dan oohhh... Sepasang bukit dadanya benar-benar mengagumkan dan menggetarkan hatiku, tapi... Bagian bawahnya... Kulihat rambut kecil-kecil halus berwarna pirang menutupi cembungan dipangkal pahanya. Tapi tidak ada lagi yang bisa kulihat, sepertinya semuanya tersembunyi dibalik rambut halus itu.

"Wow," seru Kathy.
"Berbaringlah terlentang, aku ingin bisa melihatnya dengan jelas."

Aku tidak bisa menolaknya, aku terlentang sambil memperhatikan Kathy. Dia bergeser mendekati diriku. Sepasang bukit dadanya ikut bergoyang, pemandangan yang menakjubkan sekali. Aku tidak memperhatikan tangannya sampai ketika jari-jarinya mengelus batang penisku dengan lembut."Oh besar sekali, keras, tapi kulitnya lembut sekali." kata Kathy sambil tangannya menjelajahi seluruh bagian penisku, meremas dan mengusap-usapnya dengan lembut.

"Ouchh!" erangku. Sepertinga tubuhku melambung tinggi...
"Benar-benar luar biasa," desis Kathy benar-benar terpesona menyaksikan penisku yang tegang kukuh dan keras. Kurasakan jari-jari Kathy mengocok-kocok batang penisku naik turun dengan penuh gairah. Aku tidak pernah melihat penisku menjadi sebesar itu, sepertinya penisku telah mengembang secara maximum. Mataku tertutup rapat-rapat... Mulutku mendesah-desah tanpa dapat kukendalikan lagi,

"Ooohhh... Aaahhh..." aku benar-benar tidak pernah merasakan senikmat ini.
"Kau senang aku beginikan?" bisik Kathy dengan suara genit.

Gerakan tangannya naik-turun semakin cepat sampai pinggulku terangkat-angkat menahan nikmat dan geli luar biasa. Akhirnya aku tak dapat menahan lagi, dengan diiringi teriakkan nyaringku, spermaku meledak dan menyembur kuat keudara beberapa kali. Inilah untuk pertama kalinya aku mengalami orgasme. Kathy juga berteriak tertahan dan meloncat menjauhiku, gadis ini benar-benar terkejut melihat spermaku yang begitu dasyat menyembur keudara dan sebagian jatuh menimpa tangan, paha dan dadanya.

Beberapa saat aku terkulai lemas. Sepertinya aku sempat tak sadar beberapa detik. Begitu pula Kathy, gadis ini terbengong-bengong melihat kejadian yang benar-benar tak pernah terbayangkan olehnya.

"Apa... Apa yang terjadi??" kata Kathy terbata-bata.
"A... A... Aku tidak tahu. Aku tidak pernah mengalami seperti ini sebelumnya." kataku tergagap-gagap.

Setelah berpikir beberapa saat Kathy berkata pelan.

"Aku tahu. Kau mengalami orgasme." katanya sambil mengusap-usap cairan kental spermaku yang berhamburan kemana-mana.
"Ini adalah sperma. Tapi aku benar-benar tidak menduga proses keluarnya begitu luar biasa."
"Yeah, memang sangat luar biasa. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa dan sulit kugambarkan." kataku.
Kathy tertawa genit.
"Itu karena aku! Aku yang membuatmu sampai orgasme! Tadinya aku khawatir, kau mengerang-erang seperti kesakitan."
"Yeah. Benar-benar luar biasa. Jari-jari tanganmu juga luar biasa" kataku sambil melihat tubuh moleknya yang telanjang bulat. Dan akupun tak ingin membuang tempo lagi.

"Hey. Sekarang gantian aku!! Cepat kamu berbaring" kataku.
"Tapi... Tapi kau pelan-pelan ya??" kata Kathy."Aku takut."
"OK, jangan khawatir, aku tak akan menyakitimu."

Ya Tuhan, inilah hari bersejarahku sebagai seorang laki-laki. Dihadapanku berbaring terlentang sesosok tubuh gadis yang luar biasa cantiknya telanjang bulat. Mataku benar-benar termanjakan dengan pemandangan yang benar-benar menakjubkan.

Pelahan-lahan kuusap cairan spermaku yang menempel di bukit kecil di dada Kathy. Tanganku sampai gemetaran meraba kulit kenyal dan halus di sepasang bukit indah itu. Puttingnya yang kecil jadi mengeras ketika tanganku mengelus-elusnya. Apalagi ketika putting itu kepegang dan kupilin-pilin lembut, Kathy mengerang lembut. Hatiku sampai berdesir mendengar erangan aneh itu. Sepertinya mengandung kekuatan magis yang membangkitkan kembali gairahku.

Kuturunkan tanganku menelusuri perutnya kebawah sampai daerah pangkal pahanya. Kuusap-usap rambut halus pirang disana. Rambut yang panjangnya sekitar 1/4 inci itu sangat lembut. Aku tidak menduga didaerah itu bisa tumbuh rambut. Ujung jariku kususupkan ke celah-celah yang membelah vertikal gundukan kecil di pangkal pahanya. Daerah itu ternyata basah oleh cairan lendir.

"Buka lagi pahamu, aku tidak bisa melihat apa-apa disini."

Ketika Kathy membuka lagi pahanya, tampaklah celah-celah yang berwarna pink yang mengkilat basah oleh cairan lendir.

"Wow!!!..."

Benar-benar pemandangan yang luar biasa, aku tidak pernah membayangkan seperti itu bentuk vagina seorang gadis. Kudekatkan wajahku agar bisa melihat lebih jelas daerah misterius yang sudah lama ingin kulihat. Kucium aroma khas yang segar dan juga cukup harum. Kukita Kathy sangat rajin membersihkan daerah itu. Tapi kembali aku tak bisa melihat apa-apa selain celah vertikal yang tertutup. Dengan hati-hati kususupkan jari-jariku kebibir vertikal yang cukup tebal itu, kurasakan kebasahan dan kehangatan didaerah itu.

Pinggul Kathy terjungkit-jungkit setiap kali kugosok celah-celah itu, bibirnya setiap kali juga mengeluarkan desahan-desahan aneh yang merangsang pendengaran, apalagi ketika ujung jariku menyentuh tonjolan clitorisnya. Sepertinya daerah tersebut sangat sensitif seperti juga sulit penisku, dan Kathy juga merasakan nikmat yang tak kalah bebatnya seperti ketika Kathy mengusap penisku. Aku jadi semakin bersemangat menggerakkan jariku menyusuri celah-celah itu.

Akhirnya mataku melihat lubang kecil berwarna merah muda dibawah tonjolan clitorisnya. Dari lubang itulah cairan bening itu keluar. Lubang itu cuma sebesar ujung jari kelingkingku. Aku yakin itulah yang disebut vagina yang tadi ditunjuk oleh Kathy, dan di buku dikatakan bahwa penis dimasukkan ke lubang itu. Tapi koq begitu kecil? Kumasukkan ujung jariku ke lubang itu, terasa hangat dan ketika kugerak-gerakkan tiba-tiba aku sangat terkejut, sepertinga ujung jariku terhisap oleh lubang itu. Aku jadi penasaran sekali, ketika akan kumasukkan lagi tiba-tiba Kathy membentakku.

"Hey! Apa yang kamu lakukan?!" katanya sambil melompat ketika ujung jariku kumasukkan lebih dalam.
"I just want to see what it feels like.", I said, still pushing. Now, it was past the first knuckle.
"Aku hanya ingin tahu lubang apa itu.", kataku sambil terus mau memasukkan ujung jariku lagi.
"Cut it out!" she was squirming. I kept pushing. She moaned and said again, but more softly,
"Keluarkan cepar keluarkan." kata Kathy panik.

Ujung jariku seperti menabrak suatu dinding dan ketika kudorong lagi.

"Auw.. aduh stop!!" Jerit Kathy kesakitan. Dengan gugup kutarik ujung jariku keluar lubang kecil dan sempit itu.
"Itukan lubang dimana penis dimasukkan bukan??" kataku mencari kepastian.
"Mungkin."

I started pushing my finger into her again,"Does it feel like a penis?"

Aku memulai mendorong lagi jariku ke dalam lubang itu,
"Apakah seperti dimasukkan penis?" tanyaku lagi. Pinggul Kathy kembali menggeliat-geliat.
"Aduuhhh stop, stop please!" Rintih Kathy.

Aku ingat ketika singa jantan memasukkan penisnya kevagina singa betina. Tapi Kathy sepertinya merasa kesakitan dan keenakan sekaligus. Kini jariku kugerakkan keluar masuk. Lubang itu begitu sempit dan ketat menjepit ujung jariku. Cairan lendir semakin banyak keluar. Kulihat Kathy tidak lagi kesakitan, cuman mulutnya tak henti-hentinya mendesis keenakan dan tubuhnya menggeliat-geliat begitu menggairahkan... Sampai tiba-tiba tubuhnya menggigil dan mengejang,

"Aaahhh... Ooohhh," jeritnya nyaring sambil menarik tanganku dari liang itu.
"Apa yang terjadi???" tanyaku keheranan.
"Entah, ahhh." Desah Kathy dengan nafas tersegal-segal.
"Mungkin aku orgasme," bisik Kathy sambil tersenyum manis sekali.
"Ohhh, kupikir memang benar penis harus dimasukkan ke lubang itu," kataku, "Tapi aku tidak yakin lubang itu terlalu kecil untuk ukuran penis."
"Kenapa tidak?" kata Kathy sambil melihat penisku yang mulai membesar dan menegang lagi.
"Penis terlalu besar. Ujung jariku saja sudah sulit masuk, apalagi penis yang ukurannya jauh lebih besar dan panjang."

Kathy meraih kembali penisku.

"Yeah aku tahu maksudmu."

Dia memperhatikan penisku dengan seksama sambil mengusap-usapnya. Sepertinya dia sangat sangat tertarik dan menyukai penisku itu, seperti barang antik yang sangat berharga.

"Jika tidak cukup, paling tidak kita bisa mencobanya untuk meyakinkan samapi sejauh mana." kata Kathy sambil melirik ke arahku, senyuman genis tersungging dibibirnya.
"Apa kau pikir cukup aman?" tanyaku ragu-ragu. Tentunya aku sangat senang melakukannya, tapi aku khawatir Kathy akan kesakitan.
Kathy kembali berbaring terlentang dan pahanya dibuka lebar.
"Yakin. Bila tidak muat dimasukkan ke dalam milikku, maka kita akan mencari cara lainnya. Apapun juga kamu bisa ejakulasi, dan itu tidak akan menbuatku hamil karena tidak masuk ke dalam."

Aku segera menempatkan pinggulku diantara kedua pahanya. Terasa hangat, basah dan lembut. Kugerak-gerakkan ujung penisku untuk menemukan lubang itu, begitu menyentuh lubangnya, kutekan sedikit, kemudian kugerakkan pinggulku sambil terus menekan. Sepasang bukit dadanya mengeras, putingnya menusuk dadaku. Kedua tangannya merangkul leherku. Kami kembali berciuman. Tubuh kamu saling menekan dan menggesek.

Kathy ketawa genit sambil berbisik, "Aku sangat senang kamu ada disini, dalam posisi seperti ini," katanya sambil memelukku dengan mesra sekali.

Kami terus saling menggesek dan menekan, tangan kami juga saling mengelus dan meremas-remas. Nafas kami semakin cepat dan tubuh kami juga semakin panas, peluh kami mulai membasahi tubuh kami. Ini benar-benar luar biasa. Gesekan-gesekan itu demikian nikmatnya. Tapi usaha penisku untuk masuk ke lubang itu selalu gagal.

"Masih belum bisa masuk?" Bisik kathy.
"Coba kutekan agak keras lagi," kuangkat sedikit pinggulku, kemudian kutekan keras, tapi ternyata malah meleset kesamping.
"Uhhh..." desis Kathy.
"Coba kubantu," bisik Kathy sambil tangannya meraih batang penisku, kemudian ditempatkan tepat di gerbang liang vaginanya.
"Tekan!!" kata Kathy.
"Yeah," kataku sambil menekan pinggulku cukup kuat.

Kuangkat sedikit lagi, kembali kutekan lebih keras sambil tangan Kathy mengarahkan penisku. Kurasakan liang itu semakin mengembang dan tiba-tiba sebagian ujung penisku berhasil melesak ke dalam.

"Stop!" teriak Kathy.
"Ohhh..." keluhku, sambil menghentikan gerakanku.

Kepala penisku yang bulat sudah berhasil masuk keliang vagina Kathy. Begitu ketatnya liang itu seperti mengunci ujung penisku.

"Ujung penisku sudah berhasil masuk," bisikku.
"Ya, aku tahu. Aku dapat merasakannya." kata Kathy.

Pelahan kutarik sedikit penisku pelan-pelan, kemudian kutekan lagi dengan tekanan lebih kuat. Begitu kulakukan berulang-ulang sampai ujung penisku tiba-tiba menabrak kuat dinding penghalang disana.

"Ahhh, stop, kita sebaiknya berhenti, ohhh jangan!" kata Kathy terbata-bata.

Meskipun mulutnya mengatakan jangan, tapi kurasakan pelukan Kathy malah semakin erat, dan pinggulnya pun bergerak mengimbangi tusukannku.

"Kita sebaiknya berhenti... Kita, ohhh stop!" rintih Kathy.
"Yeah." kataku, tapi penisku tidak mau berhenti. Tekanan pinggulku makin lama makin kuat sehingga akhirnya...
"Aaahhh... ADUH!!! Ohhh... Aaahh," jeritan Kathy melengking kuat ketika penisku berhasil menembus benteng penghalang itu. Batang penisku tenggelam seluruhnya ke dalam liang yang sudah tidak perawan lagi, sampai bola testicle-ku menekan pangkal pahanya. Jeritan Kathy dan cengkeraman kukunya mencengkeram kuat di pundakku dan pahanya memeluk kuat kuat pinggulku membuatku benar-benar terkejut.

"Aduh! stop, stop!" jerit Kathy.

Kurasakan jepitan liang vagina Kathy yang begitu kuat dan ketat sekali, kurasakan juga denyutan-denyutan dinding liang itu seperti menyedot penisku, dan kurasakan kehangatan disana.

"Kathy. Penisku sudah masuk semua." kataku sambil terengah-engah.
"I can tell. It hurt. A lot."
"Aku bilang stop! Sakit sekali tahu!" bentak Kathy. Kulihat wajahnya merah padam dan air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Maafkan aku Kathy. Aku tidak bisa mengendalikan diriku."
"OK. Bisa kamu tarik keluar sekarang?"
"OK..." Aku cabut penisku pelan-pelan, Kathy merintih, kutekan lagi pelan-pelan dan kembali kutarik lagi sedikit. Kurasakan sesasi gesekan antara penisku dan dinding liang vagina Kathy begitu luar biasa nikmatnya. Tubuhku sampai menggigil menahan geli dan nikmat yang teramat sangat.

"Kathy, sebaiknya jangan dilepas," bisikku.
"Ya, aku tahu..." desah Kathy sambil menggerakkan pinggulnya keriri-kanan mengikuti gerakan pinggulku. Tangan Kathy kembali memelukku erat-erat. Seperti juga aku, sepertinya Kathy juga merasakan sensasi kenikmatan yang sangat luar biasa. Dia ingin menghentikannya, tapi kenikmatan itu sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Dan tiba-tiba kembali tubuh Kathy mengejang sambil mengerang cukup keras, ketika Kathy mencapai orgasmenya yang kedua kali. Kathy sepertinya mengatakan sesuatu kepadaku, tapi tidak jelas, akhirnya ia menggigit pundakku.

Diding liang vaginanya berdenyut-denyut kuat, membuat penisku tersedot-sedot dan sepertinya aku juga tidak kuat lagi menahan diri. Kutekan penisku dalam-dalam dan...

"Aaahhh..." spermaku menyembur kuat berkali-kali didasar liang vagina Kathy.

Entah berapa lama kami terkulai sambil berpelukan, penisku masih tertanam diliang vagina Kathy...

Ketika kami sadar, segera kutarik penisku yang sudah mengecil itu. Kulihat cairan spermaku bersama cairan vagina Kathy berhamburan dimana-mana. Dan cairan itu berwarna merah... Memang benar-benar darah Kathy yang bercampur cairan sperma.

"Ya ampun, Kathy, aku benar-benar melukaimu, maafkan aku Kathy," seruku panik.
"Ohhh tidak!" jerit Kathy sambil melihat ke vaginanya.
"Kamu ejakulasi di dalam lubang vaginaku!! Kau masukkan spermamu di dalam! Aduh, kamu bisa membuatku hamil!!!"

Cepat-cepat kuperiksa vagina Kathy. Tidak kelihatan ada luka disana, tapi darah keluar dari liang vaginanya. Aku yakin, pasti bagian dalam liang vagina itu ada yang luka.

Akhirnya kami memutuskan untuk tidak menceritakan kepada orang lain kalau Kathy sembuh nanti. Kami cuman bisa menunggu untuk melihat apakan Kathy hamil atau tidak. Kami segera berpakaian dan aku segera lari pulang kerumah. Sampai beberapa minggu kami berdua dihinggapi perasaan takut. Dan Kathy pun sepertinya takut untuk menemuiku. Dia selalu menghindar kalau melihatku.

Kami memang tidak pernah menceritakan kejadian itu kepada orang lain, dan kami juga tidak pernah melakukan hubungan sex lagi, tapi kami masih berteman sampai beberapa tahun, sampai akhirnya aku pindah ke Denver. Tapi aku tidak pernah melupakan hari bersejarah yang sangat menakjubkan itu!!!

Hadiah ulang tahun yang mengejutkan

Hubunganku dengan Mei (baca ceriteraku sebelumnya, "Penghibur Hati Yang Sepi") semakin hari semakin akrab. Hari-hari kami terasa indah. Wanita cantik dan seksi itu ternyata sangat liar kalau di atas ranjang. Nafsu seksnya besar dan terus menerus butuh pemuasan. Akupun dengan senang hati melayaninya. Apalagi ia sangat akrab dengan kedua anakku, Anita dan Marko. Mereka sering diajak jalan-jalan dan diberi hadiah. Melihat keakraban mereka aku berpikir, apakah Mei dapat menjadi ibu baru bagi mereka.

"Anak-anak kelihatannya suka denganmu, Mei", kataku satu malam sesudah melewati satu ronde persetubuhan yang panas, "Mereka kelihatannya mau kalau kamu menjadi ibu baru mereka. Bagaimana pendapatmu?"
"Kita jalani saja seperti ini dulu", kata Mei menanggapi, "Aku memang menantikan kata-kata ini. Aku senang kalau diberi kesempatan menjadi ibu bagi Anita dan Marko. Namun lingkungan keluargaku masih agak sulit menerima kamu, maaf, yang bukan keturunan Cina. Tapi kupikir lama-lama mereka juga akan mau. Sabarlah, sayang. Lagi pula tidak banyak bedanyakan. Aku selalu siap untuk kamu kapan saja", lanjutnya.

Aku paham sepenuhnya. Sejak mengenalku kami rutin bertemu untuk hubungan seks. Paling kurang beberapa kali seminggu, kecuali kalau lagi saat menstruasinya. Akhir pekan selalu menjadi kesempatan terindah. Ia mengakui kalau ia ketagihan bersetubuh denganku. Selalu orgasme, begitu katanya. Karena itu ia selalu menantikan saat-saat pertemuan. Aku merasa bangga karena kapan saja aku dapat menikmati tubuh Mei yang cantik dan seksi itu. Menggumuli tubuhnya yang mulus dengan buah dada yang montok dan pantat yang besar itu menjadi kebanggaan tersendiri. Mungkin karena selalu puas bersetubuh denganku, ia menjanjikan hadiah kejutan untuk ulang tahunku.

"Aku ingin memberi hadiah khusus buatmu", katanya empat hari sebelum ulang tahunku.
"Apa itu?" tanyaku.
"Kalau disampaikan sekarang itu bukan kejutan namanya", katanya, "Yakin deh, pasti akan menyenangkan hadiahnya."
"Tapi anak-anak pasti merayakannya pada hari itu", kataku.
"Yah, kita rayakan sehari sesudahnya", katanya, "Untuk itu mulai besok sampai hari itu kita tidak bertemu", lanjutnya.

Aku mengerti. Hadiah khususnya itu ternyata hubungan seks, tapi pasti dengan cara yang khusus. Apa ada pesta berdua dengan cahaya lilin? Dilanjutkan dengan hubungan kelamin yang penuh gelora? Ataukah menginap di satu hotel sambil saling memberi kenikmatan? Terserah dia saja. Toh namanya hadiah.

Ternyata hari-hari menanti hadiah itu sungguh menyiksa. Aku selalu merindukan tubuh montok itu. Aku menelponnya tetapi ia hanya menjawab dengan tertawa-tawa. Ia pasti tahu kalau aku sudah tidak dapat menahan birahiku yang menggelora.

Hari ulang tahunku. Di kantor teman-temanku menyanyikan "Happy Birthday to you" dan ada ucapan selamat. Yang membuatku terkejut adalah kartu ucapan selamat atas adanya "pendamping" baruku, "Congratulations for your new beautiful soul mate!"

"Aku dukung, Mas Ardy", kata Ibu Nadya kepala bagianku.
"Dukung apa, Bu?" tanyaku.
"Alaa.. Mas Ardy ini ada aja", sela Santi yang lincah, "Kan sudah ada pendamping baru. Cantik lagi. Siapa namanya? Kenalin ke kita, dong", godanya.
"Namanya, Mei", kataku karena tak ada pilihan lain, "Tapi belum jelas nih. Jangan dulu deh ucapan selamatnya, nanti keburu bubarkan repot,"

Siang itu di kantor aku tidak dapat berkonsentrasi dengan baik. Aku hanya mereka-reka, pesta seks apa yang disediakan Mei untuk merayakan hari ulang tahunku. Menunggu sehari saja rasanya sangat lama. Akhirnya toh hari yang dinantikan itu tiba. Mei menelpon, jam tujuh sudah harus ada di rumahnya.

Jam tujuh malam itu aku sudah di depan rumahnya. Ternyata pintu pagar tidak dikunci. Ada kertas kecil di pintu minta agar pagar dikunci. Aku menguncinya dan terus ke pintu depan. Ternyata pintu itu sedikit terbuka. Aku masuk. Ruangan depan kosong. Aku terus melangkah ke dalam. Begitu aku masuk ruang tengah, Mei menyongsongku.

"Selamat Ulang Tahun!" serunya.

Aku segera merangkul tubuhnya ke dalam pelukanku. Bibirku mencari bibirnya dan dengan buas melumat bibir itu setelah empat hari tidak merasakannya.

"Uhmm.. Uhmm..", gumamnya gelagapan menghadapi seranganku.

Ia sepertinya mau bicara tetapi aku tak memberinya kesempatan. Lidahku menerobos masuk ke mulutnya dan mempermainkan lidahnya. Tangan kiriku kulingkarkan ke lehernya dan tangan kananku meraih pantatnya. Kutekan tubuhnya ke arahku membuat ia tidak dapat bergerak ke mana-mana. Di saat itulah kudengar suara.

"Ehem..", suara seorang wanita.

Aku terkejut dan melepaskan pelukanku. Aku menoleh. Di atas sofa ruang tengah duduk seorang wanita lain. Aku kaget bukan kepalang. Wanita itu senyum-senyum menatapku salah tingkah. Pastilah wajahku memerah seperti udang rebus.

"Makanya tahan-tahan sedikit", kata Mei sambil tertawa menggoda.

Aku terdiam tidak tahu mau bicara apa.

"Ada yang nonton, tuh", lanjutnya, "Ayo mari aku kenalin. Ini Yen, sepupuku, "
"Yen", kata wanita itu malu-malu sambil menyorongkan tangannya.
"Ardy", sahutku sambil menjabat tangannya.
"Cantik, kan", kata Mei.

Aku memandang lekat wanita itu. Seperti Mei, wanita ini pun keturunan Cina. Ia lebih tinggi dari Mei, sekitar 170 cm. Rambutnya yang panjang hingga menyentuh pinggul dibiarkan tergerai. Ia memakai blouse kuning pucat berleher rendah dengan lengan pendek berenda, dipadu dengan celana sebatas lutut dari bahan denim sebatas lutut. Mataku dengan cepat merayap ke dadanya yang jelas semontok dada Mei. Pinggangnya cukup ramping walau tidak seramping Mei, diimbangi oleh pantatnya yang besar. Betisnya bulat padat. Jelas ia lebih muda dari Mei.

"Aku sudah sering mendengar cerita tentang Kho Ardy dari Ci Mei", kata Yen, "Jadinya penasaran aku, pingin kenalan,"
"Apa kata Mei", pancingku. Yen tersenyum malu-malu.
"Ha ha..", ia tertawa, "Katanya Kho Ardy orangnya baik, sabar, romantis dan.. Hi hi.."
"Hi hi apa", potongku.
"Kuat", katanya tertawa sambil menutup mulutnya.
"Ada aja Mei ini", sahutku agak malu sambil menoleh ke Mei. Tapi dalam hati aku jelas sangat berbangga.
"Kan benar, apa yang aku ceritakan", sahut Mei, "Dan yang paling penting", lanjutnya sambil merangkul bahu Yen, "Kami berdua adalah hadiah ulang tahunmu,"

Aku tertegun tak mampu berkata-kata. Mimpi apa aku semalam? Kedua wanita Cina seksi menawan ini menjadi hadiah ulang tahunku? Keduanya berdiri di hadapanku sambil mengikik. Kupandangi keduanya lurus-lurus dengan mata berbinar. Waooh! Tak dapat kubayangkan seperti apa sensasi di ranjang nanti diapit oleh dua wanita Cina cantik, bahenol dan seksi ini.

"Wah, sudah nafsu nih", goda Mei. Yen tertawa pelan menimpali.
"Abis hadiahnya istimewa begini", sahutku.

Keduanya mendekatiku. Mei merangkulku ketat dan mendaratkan ciumannya bertubi-tubi. Kurasakan padat tubuhnya. Buah dadanya yang montok lembut dan menggairahkan itu menekan dadaku. Kurengkuh pantatnya dan kurapatkan ke tubuhku.

"Selamat Ulang Tahun, sayang", katanya.

Dilepaskannya tubuhku. Yen mendekatiku. Kurangkul ia ke dalam pelukanku. Ia mencium pipiku kiri dan kanan. Buah dadanya yang montok dan kenyal itu menekan dadaku. Tubuh seksi itu bergetar. Denyut jantungnya terasa olehku. Tanganku melingkar ke bongkahan pantatnya yang bulat padat itu dan kurengkuh rapat ke tubuhku. Ia menggeletar dalam pelukanku ketika kudaratkan ciumanku ke bibirnya. Ia menyambut hangat. Kujulurkan lidahku dan menerobosi mulutnya. Lidahku segera disambut oleh permainan lidahnya. Celanaku mulai terasa sesak karena gerakan kemaluanku yang mengeras.

"Sudah.. sudah..", potong Mei, "Nanti diteruskan. Sekarang kita makan dulu, "

Aku melepaskan Yen dari pelukanku walaupun nafsu birahiku mulai meningkat ingin segera dituntaskan. Kami beralih ke ruang makan menikmati hidangan yang sudah tersedia. Kulihat ada sebotol anggur merah. Makam malam terasa sangat indah dalam cahaya lilin. Rasa bangga menyelimuti benakku. Bayangkan! Di tengah ruangan yang romantis dengan hidangan yang enak dalam temaram cahaya lilin, aku duduk menikmati anggur merahku dengan diapit dua wanita cantik bermata sipit nan bahenol dan seksi.

Aku tidak ingin terburu-buru menikmati semua ini walaupun senjata andalanku di bawah sana telah semakin tidak sabar, ingin segera menyatu dengan tubuh-tubuh seksi ini bergiliran. Keduanya pasti tahu dari gerak mataku yang jelalatan, melompat dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun aku tidak ingin memberi kesan liar. Terutama untuk Yen, kesan pertama ini harus indah dan romantis sehingga di masa depan tetap ada kesempatan untuk menggarapnya.

Seperti Mei, Yen juga sudah menjanda sekitar enam bulan. Ditinggal suami yang pergi dengan wanita lain katanya. Usianya 29 tahun, tiga tahun lebih muda dari Mei, sepuluh tahun lebih muda dariku. Dalam hati aku berpikit, kok bisa ya, wanita secantik ini bisa ditinggal suami, minggat dengan wanita lain. Pasti bodoh lelaki itu. Tapi itu bukan persoalanku. Yang jelas ia ada di sini malam ini untukku. Malam ini kesempatan terbuka lebar bagiku untuk menikmati tubuhnya. Perbedaan sepuluh tahun sama sekali tidak ada pengaruhnya untuk urusan ranjang. Waahh.. Betapa beruntungnya aku.

Selesai makan malam, aku diminta menanti di ruang tengah. Keduanya menghilang ke lantai atas. Aku menungguh dengan jantung berdebaran. Lampu-lampu diredupkan. Dan dari lantai atas kulihat keduanya turun dengan membawa kue ulang tahun dihiasi lilin beryala berbentuk angka 39.

"Happy Birthday to you", keduanya bernyanyi, "Happy birthday to you. Happy birthday, Dear Ardy. Happy birthday darling!"

Pemandangan di depanku sungguh-sungguh indah. Sambil memegang kue ulang tahun itu, keduanya ternyata hanya mengenakan BH dan celana dalam. Mei memakai BH dan celana dalam berwarna merah hati, sedangkan Yen mengenakan BH dan celana dalam hitam. Sangat kontras di kulit keduanya yang putih bersih. Buah dada keduanya menyembul dari BH kecil yang hanya menutupi sepertiga buah dada itu. Dalam temaram lampu yang redup kulit keduanya yang putih nampak sangat indah.

Pusar di perut itu nampak menawan. Paha-paha padat itu menopang pinggul yang bundar dan digantungi oleh bongkah-bongkan pantat yang padat dan bulat. Celana dalam kecil yang menutupi pangkal paha menampilkan pemandangan yang sungguh menggairahkan. Kemaluanku mengeras dan berdenyut-denyut, tidak sadar menanti saat nikmat menyatu dengan kedua tubuh menawan itu.

Setelah meletakkan kue dihiasi lilin bernyala itu di depanku, Mei memintaku berdiri. Lalu keduanya melepaskan pakaianku satu per satu. Bajuku, sepatuku, kaos kaki, celanaku, dan kaos dalamku. Yang tertinggal hanyalah celana dalamku yang sudah tidak mampu menyembunyikan kemaluanku yang sudah menggunung. Mei merapat ke sisi kiriku sedangkan Yen ke sisi kananku. Keduanya menggelayut ke dua lenganku sehingga tonjolan buah dada masing-masing menempel erat di lenganku.

"Ayo, lilinnya ditiup dan kuenya dipotong", kata Yen.

Aku duduk diapiti oleh keduanya dengan tubuh menempel erat ke tubuhku. Kutiup lilin itu dan memotong kuenya. Potongan pertama kusuapkan ke mulut Mei dan yang kedua ke mulut Yen. Setelah toast anggur merah, mulailah aku menikmati hadiah ulang tahunku. Aku menyandar di sofa dan kubiarkan kedua wanita cantik itu melakukan apa yang mereka mau. Setelah masing-masing memperoleh ciuman di bibir, mulailah mereka beraksi.

Mula-mula kedua puting susuku dikulum keduanya. Mei mengulum di sebelah kiri dan Yen di sebelah kanan. Lalu masing-masing mulai bergerak ke arahnya sendiri. Mei mulai menelusuri perutku dan mengarahkan jilatan-jilatannya ke bawah, sedangkan Yen mulai merambati dada dan leherku dengan jilatan dan hisapan. Aku menggeliat-geliat menahan rasa nikmat yang mulai menjalari seluruh tubuhku. Tanganku mulai aktif bergerilya. Buah dada keduanya menjadi sasaranku. Kucari pengait BH keduanya dan kulepaskan. Buah dada keduanya menyembul keluar bebas dengan indahnya. Tangan kiriku mencari-cari buah dada Mei dan meremasnya. Sejalan dengan itu kutarik Yen merapat. Dengan segera mulutku mengerkah buah dadanya yang ternyata lebih besar dari punyanya Mei.

"Ooohh.." erang Yen. Ditekannya kepalaku sehingga wajahku terbenam di belahan dadanya yang montok itu.
"Kita tuntaskan di kamar", kata Mei tiba-tiba.

Kurangkul kedua wanita itu pada pinggul masing-masing. Bertiga kami melangkah ke kamar tidur Mei di lantai atas hanya dengan mengenakan celana dalam masing-masing. Keduanya mengikik kecil merasakan kenakalan tanganku yang telah menyeruak ke balik celana dalam mereka masing-masing dan mengusap-usap pantat mereka. Rasanya sudah tidak sabar untuk menenggelamkan diri ke dalam pelukan keduanya secara bergiliran.

Kamar tidur Mei harum dan romantis. Kamar ini telah puluhan kali menjadi saksi pertemuanku penuh birahi dengan Mei. Ranjang lebar ini menjadi saksi bisu jeritan-jeritan kenikmatan Mei dan erangan penuh kenikmatanku. Entah sudah berapa banyak spermaku tercecer di atas ranjang ini bercampur dengan cairan vagina Mei. Dan malam ini kamar ini sekali lagi menjadi saksi sejarah baru diriku, bersetubuh sekaligus dengan dua orang wanita Cina yang cantik, bahenol dan seksi.

Mei dan Yen segera melepaskan celana masing-masing. Kuminta keduanya berdiri berjajar. Dalam cahaya lampu yang sengaja diredupkan kedua tubuh bugil itu nampak sangat indah. Keduanya berputar bak peragawati mempertontonkan tubuh telanjangnya. Keduanya lalu mendekatiku dan merebahkan tubuhku ke atas ranjang. Yen cepat meloroti celana dalamku. Kemaluanku yang besar dan panjang itu segera mencuat tegak di hadapannya.

"Waoo.. Gedenya", seru Yen tertahan.

Jemari Yen yang lentik dan lembut itu segera menggenggam batang kemaluanku. Diremas-remas sebentar dan dielus-elus lembut. Aku mengerang-ngerang kenikmatan. Kuraih tubuh montok Mei dan buah dadanya segera menjadi bulan-bulanan mulutku. Sementara itu Yen mulai mempermainkan lidahnya di seputar pusarku dan semakin mendekati pangkal pahaku. Batang kemaluanku itu ada dalam genggamannya. Tangan kananku meraih buah dada Yen dan meremas-remasnya, sementara tangan kiriku merayap di sela-sela paha Mei. Jari-jariku merambah bulu-bulu kemaluannya yang lebat dan terbenam ke lubang basah kemaluannya.

"Aaacch..", erang Mei sambil menekan kepalaku lebih erat ke dadanya.

Jari-jariku semakin keras mencengkeram buah dada Yen ketika lidahnya yang lincah semakin mendekati batang kemaluanku yang semakin keras dan berdenyut-denyut. Ketika lidahnya semakin lidahnya menyentuh batang kemaluanku aku merasakan sensasi yang hebat dan mulut mungilnya itu dengan segera menelan senjata kebanggaanku itu.

Sementara itu Mei semakin menggelinjang dan kemaluannya semakin basah oleb banjir cairan vaginanya. Sambil terus mengulum kemaluanku Yen melepaskan tanganku yang meremas buah dadanya. Tangan itu dituntun ke arah selangkangannya. Tanganku segera menyapu kemaluannya yang berbulu lebat itu dan jemariku segera tenggelam ke lubang yang sudah basah oleh cairan vaginanya. Puas mengulum kemaluanku Yen minta buah dadanya dikulum. Segera Mei menggantikannya mengulum kemaluanku. Erangan dan lenguhan memenuhi ruangan. Tubuh Yen menggeletar hebat menandakan birahinya makin menggila butuh pelampiasan. Kupikir sudah saatnya menyetubuhi kedua wanita ini. Aku merebahkan keduanya hingga menelentang berjejer.

"Yen duluan", bisik Mei terengah-engah.

Yen telentang dengan mata tertutup dan paha yang sudah terbuka lebar siap disetubuhi. Aku memegang kedua pahanya dan beringsut mendekat. Mei menempelkan kedua buah dadanya di punggungku dan lidahnya bergerilya di seputar leher dan kupingku. Kuarahkan batang kemaluanku yang sudah keras dan tegak. Kuusap-usap di bibir lubang kemaluan Yen. Ia mendesis dan mulai menggelinjang, tidak sabar menanti saat-saat penetrasi. Ujung kemaluanku perlahan-lahan mulai menguak bibir kemaluannya yang telah basah. Mulutnya terbuka dan terdengar keluhan kecil. Aku berhenti sejenak. Ia membuka matanya dan di saat itulah kusentakkan pantatku ke depan.

BLES..!!
"Aaa..", Yen menjerit.

Kemaluanku yang besar dan panjang itu menerobos ke dalam lubang kemaluannya, lancar seperti di jalan tol. Yen menghentak-hentakkan pantatnya ke atas agar kemaluanku dapat menyuruk lebih dalam. Aku berhenti dan membiarkan ia menikmatinya. Nikmat rasanya kemaluanku digigit-gigit oleh dinding vaginanya. Ia mendesis-desis dan mengerang-erang nikmat. Lalu perlahan tetapi pasti aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur. Erangan Yen semakin keras. Buah dadanya bergoncang-goncang hebat seirama dengan genjotanku. Rambutnya yang panjang terserak-serak, membuat ekspresi wajahnya yang menahankan kenikmatan itu menjadi sangat menarik.

Aku mengatur ritme genjotanku agar ia dapat menikmatinya. Aku mempercepat gerakan pantatku. Kenikmatan yang semakin menggila membuat ia mencengkam kedua lenganku. Ketika ia semakin menjerit-jerit, aku memperlambat bahkan menghentikan genjotanku. Ia mendesah-desah kecewa. Di saat ia masih mendesah-desah, kembali aku menyentakkan pantatku dan mengocok dengan cepat. Kembali jeritannya memenuhi ruangan itu.

"Cepat.. Cepat.." gumamnya tidak karu-karuan, "Aku mau keluar.."

Kupercepat tempo genjotanku. Tiba-tiba ia menarik tubuhku hingga rebah sepenuhnya di atas tubuhnya. Kubenamkan wajahku di lehernya mengiringi jeritan kenikmatan yang dilepaskannya.

"Aaahh..", jeritnya.

Tubuh montoknya itu bergetar hebat. Pantatnya dihentak-hentakkannya ke atas. Pahanya terangkat dan membelit pantatku sehingga menyatu sepenuhnya. Aku diam memberikan kesempatan kepadanya untuk menikmati orgasmenya. Tubuhnya bergetar-getar diiringi desah nafas terengah-engah. Rasanya dunia ini dilupakan kalau tidak karena desahan Mei yang berbaring di sebelah kami. Mei ternyata sedang asyik mempermainkan vaginanya sendiri. Kurasa ini saat yang tepat untuk menyetubuhi Mei. Apalagi aku belum orgasme sehingga kemaluanku masih tegak.

"Sekarang giliran Mei", bisikku di telinganya.

Yen mengangguk pelan dan melepaskan pelukannya. Ia menelentang seperti kehabisan tenaga di sebelah Mei. Aku beralih ke Mei. Kutarik tangannya. Ia segera membuka pahanya lebar-lebar. Kemaluannya sudah basah dan merekah, rupanya sudah tak sabar menunggu gilirannya digenjot. Aku merayap mendekatinya. Kemaluanku masih basah dan berkilat-kilat oleh cairan vagina Yen. Kuarahkan ujung kemaluanku ke lubang kemaluannya.

Mei memejamkan matanya sambil memegang kain seprei yang sudah acak-acakan itu, menanti saat-saat sensasional penetrasi batang kemaluanku. Ujung kemaluanku menyentuh bibir vaginanya dan menyeruak di antar bibir-bibir itu mencari jalan masuk. Aku menurunkan pantatku sedikit dan kurasakan kemaluanku mulai memasuki kemaluannya. Mei mulai mendesah-desah. Aku menariknya keluar lagi. Ia mendesah lagi seperti kecewa. Di saat itu aku menyurukkan kemaluanku ke dalam lobang surgawinya.

"Aaa.." Mei menjerit keras.

Matanya membelalak. Kemaluanku kutancapkan dalam-dalam di lubang kemaluannya. Setelah jeritannya berubah menjadi erangan, aku mulai menggerak-gerakkan pantatku maju mundur. Kususupkan tanganku ke bawah lengannya dan merangkul erat bahunya. Mulutku kubenamkan ke leherya yang jenjang. Ia melingkarkan tangannya ke punggungku dan memelukku erat-erat. Pantatnya yang bundar besar itu diputar-putar untuk memperbesar rasa nikmat. Mulutnya terus menerus mengeluarkan desisan, erangan dan jeritan, mengiringi sodokan-sodokan kemaluanku yang semakin menggila. Jepitan dinding vaginanya terasa sangat nikmat.

"Lebih keras.. Lebih keras lagi.." erang Mei.

Aku memompanya semakin bersemangat. Peluh mengucur dari seluruh tubuhku, bercampur dengan keringatnya. Aku mengangkat sedikit dadaku. Mulutku segera menerkam buah dada kirinya yang berguncang-guncang itu. Ia mengerang dan menekan kepalaku ke dadanya. Dari buah dada kiri aku beralih ke kanan. Ia menceracau semakin tak menentu. Pahanya membuka dan menutup. Kecipak cairan vaginanya semakin memperbesar nafsuku.

"Aku mau keluar", katanya terputus-putus.
"Aku juga", sahutku merasakan desakan magma spermaku yang akan memancar.
"Di dalam saja, sayang", bisiknya.

Karena ingin mencapai orgasme bersama-sama, aku meningkatkan kecepatan genjotan kemaluanku. Mei menjerit-jerit semakin keras. Aku menggeram dan menggigit lehernya. Ia merangkulku erat-erat. Kuku-kukunya terasa menembus daging punggungku. Akhirnya oleh satu hentakan keras aku membenamkan kemaluanku dalam-dalam diiringi lolongan panjang Mei membelah udara malam. Pantatnya dihentak-hentakkan ke atas. Pahanya terangkat membelit pinggangku seakan memeras setiap tetes spermaku menyembur ke dalam rahimnya. Kurasakan banjir lahar spermaku deras memancar. Aku letih, Mei juga.

Sekitar sepuluh menit aku diam membiarkan kenikmatan itu mengendur perlahan-lahan. Lalu aku melepaskan diriku dari pelukan Mei dan terhempas ke atas kasur empuk spring-bed Mei, tepat di antara Mei dan Yen. Kedua wanita montok itu seperti dikomando merapat ke arahku. Buah dada keduanya menyentuh dadaku dan paha kiri Mei serta paha kanan Yen sama-sama membelit pahaku. Keduanya menciumku dengan lembut.

"Terima kasih, Kho", kata Yen. Aku hanya mengangguk-angguk kecil.

Setelah beberapa saat beristirahat, kami beralih ke kamar mandi dan membersihkan tubuh. Kedua wanita itu memandikanku. Mereka menyirami tubuhku dengan air hangat dan menggosokkan body foam. Yang menarik, gosokan itu tidak dibuat dengan tangan tetapi dengan buah dada masing-masing. Acara mandi erotik ini jelas memancing nafsu birahiku. Perlahan-lahan kemaluanku mulai bangun lagi. Uh.. Sungguh acara mandi malam yang tak terlupakan.

"Wuii.. Si ujang sudah bangun nih", goda Mei sambil mengelus kemaluanku, "Sesudah ini kita akan mulai ronde kedua", lanjutnya.

Acara mandi selesai dan kami kembali ke ruang tengah lantai bawah. Bertiga kami tidak mengenakan sehelai benangpun. Sepenuhnya bugil. Kupandangi dua wanita Cina yang menawan ini. Mereka lagi menuang anggur. Yen membawa dua gelas, satu diserahkan kepadaku.

"Untuk si jantan yang berulang tahun", kata Mei, "Semoga tetap kuat perkasa,"
"Untuk Mei dan Yen", sahutku, "Semoga tetap seksi dan menawan,"
"Untuk kita bertiga", kata Yen, "Semoga jadi group seks yang kompak,"

Gila! Dunia apa yang sedang aku masuki sekarang ini? Rasanya seperti bermimpi, tetapi ini bukan mimpi. Ini sungguh kenyataan. Mengapa menolak untuk menikmati semua ini. Kedua wanita itu kini merapat ke tubuhku dan memulai aksinya.

"Sekarang kita main di sini saja", kata Mei.

Aku dan Yen tidak menjawab. Setuju saja. Apa sih salahnya bersetubuh di atas karpet lembut ruang tengah ini? Keduanya segera tenggelam dalam aksinya masing-masing. Rabaan dan elusan disertai jilatan dan kecupan menjalari seluruh tubuhku, mengiringi kedua tanganku yang bebas bergerilya di setiap lekuk tubuh keduanya. Pada saat kedua tanganku melingkar ke pantat keduanya dan merasakan betapa montok dan padat pantat keduanya, timbul ideku untuk menyetubuhi keduanya dalam doggy-style. Kemaluanku dengan segera tegang kembali oleh ide menarik ini.

"Ayo, Mei dan Yen", kataku, "Sekarang kalian berlutut di lantai. Aku mau doggy-style, "

Tanpa berkata-kata kedua wanita itu saling memandang dan tertawa mengikik. Lalu keduanya segera berlutut membelakangiku. Keduanya saling bertaut lengan, biar bisa saling membagi kenikmatan mungkin. Pemandangan di depanku sungguh indah. Aku memandang kedua bokong yang besar, putih, mulus dan padat itu. Di antara paha itu nampak gundukan rambut kemaluan masing-masing yang lebat dan hitam. Di sela-sela rambut itu nampak bibir-bibir kemaluan yang merekah merah, siap untuk digenjot bergantian.

"Ayo Kho", kata Yen, "sudah nggak sabar nih!"

Aku mendekati dan mengelus-elus pantat keduanya. Ketika jari-jariku mulai merayapi bibir kemaluan, keduanya mendesis serentak. Jari-jariku menyeruak ke antara bibir-bibir vagina itu dan mempermainkan kedua klitoris. Keduanya serentak menjerit kecil dan mendongak. Sungguh sensasi yang indah. Kemaluanku yang sudah sekeras senapan itu kuarahkan ke bokong Mei. Tanpa kesulitan aku menembus kemaluannya yang telah basah licin itu.

Beberapa menit bermain dengan Mei, aku lalu beralih ke Yen. Ia pun menjerit kecil ketika kemaluanku menerobosi lubang surgawinya. Kukocok-kocok perlahan lalu semakin cepat. Ia mengerang semakin keras tak terkendali. Beberapa menit aku pun beralih ke Mei. Begitu seterusnya, sehingga kedua wanita itu semakin penasaran.

Malam semakin larut, namun untuk kami bertiga waktu tidak lagi penting. Yang penting sekarang ialah bagaimana meraih kenikmatan bersama-sama. Aku mulai merasa letih juga. Maka ingin kuakhiri dulu ronde kedua ini. Aku memegang bokong Mei dan menyodoknya keras-keras. Ia menjerit keras dan terus mengerang-erang tak karuan ketika kemaluanku bergerak lincah keluar masuk kemaluannya. Ketika kulihat ia mencengkram keras karpet aku tahu ia akan keluar. Aku mempercepat gerakanku dan menghentak keras. Mei menjerit keras dan rebah ke atas karpet. Aku mengikutinya dan beberapa saat menindihnya.

Melepaskan diri dari Mei aku beralih ke Yen yang setia menanti. Dengan cepat aku menghujamkan senjata kebanggaanku ke dalam kemaluannya. Seperti Mei ia pun menjerit keras. Rambutnya yang panjang itu kujambak sehingga ia mendongak ke atas sambil terus mengerang. Bunyi pantatnya yang beradu dengan pahaku seakan menjadi irama kenikmatan yang tak ada duanya. Aku pun merasa akan segera orgasme. Rambutnya semakin keras kutarik sehingga ia semakin mendongak. Pantatnya melengkung ke atas dan buah dadanya yang besar itu berguncang-guncang, seirama dengan gerakan pantatku.

"Aaauu, Kho" jeritnya, "Aku mau keluar!"
"Aku juga", balasku.

Serentak dengan jambakan rambutnya, mengiringi jeritan panjangnya, aku menghentakkan pantatku keras-keras. Ia rubuh ke atas karpet ditindih olehku. Di saat itu kurasakan deras spermaku memancar ke dalam rahimnya. Aku letih, juga Mei dan Yen. Aku diam membatu di atas pantat Yen yang montok. Mei merangkak mendekat dan mengelus-elus kepalaku.

Aku bangun. Yen juga. Sempoyongan ia berjalan dan duduk di sofa. Kakinya terbuka lebar dan dapat kulihat leleran spermaku menetes dari vaginanya. Aku menghempaskan tubuhku di samping kirinya. Kurangkul bahunya. Mei mendekat dan duduk di sebelah kiriku. Kedua tanganku merangkul punggung keduanya dan menggapai buah dada kanan Yen dan buah dada kiri Mei. Kugenggam kedua buah dada itu erat-erat.

"Terima kasih Mei, terima kasih Yen", kataku, "Terima kasih untuk kado ulang tahunya, "

Keduanya menatapku, mengangguk dan tertawa gelak-gelak.

"Tidak pernah terpikir dalam hidupku dapat mengumbar nafsu dengan dua wanita Cina yang cantik menawan, bahenol, montok dan seksi", kataku.
"Kho tak usah takut", sahut Mei, "Kami akan siap untuk Kho Ardy kapan saja,"
"Untuk lelaki sekuat Kho Ardy, Yen dan Mei akan siap selalu", timpal Yen.

Sejak peristiwa hadiah ulang tahun itu, aku jadi selalu punya wanita yang siap melayani nafsuku. Kalau Mei lagi menstruasi, Yen pasti siap untukku. Begitu juga sebaliknya. Namun kami juga sering berkumpul bertiga untuk saling berbagi kenikmatan.

Sekali di rumah Mei, larut malam setelah menyetubuhi keduanya secara bergiliran, iseng aku menggoda keduanya.

"Aku sudah punya dua wanita Cina yang cantik dan seksi", kataku, "Kapan dua ini akan bertambah?"
"Kho Ardy pingin tambah lagi", kata Yen di luar dugaanku, "Mudah, Kho. Akan Yen atur. Mau tambah satu atau dua lagi, terserah Kho Ardy aja,"

Aku terkejut dan menoleh ke Mei.

"Nggak usah khawatir", lanjut Mei, "Akan ada saatnya hadiah baru lagi. Tapi harus hemat-hemat tenaganya. Soalnya wanita Cina itu nafsunya gede-gede. Haha.."

Aku terkejut tetapi juga berbangga. Gimana ya rasanya kalau sekali waktu dikerubuti empat wanita cinta yang cantik dan bahenol seperti Mei dan Yen?

"Tapi", kataku terus menggoda, "Kalian nggak nyesal disetubuhi lelaki bukan Cina, apalagi yang berasal dari KTI sepertiku?"
"Ah", renggut Mei manja, "Tentu aja tidak. Hitung-hitung mendukung program pemerintah yakni pembauran,"
"Pembauran ada macam-macam, Kho", lanjut Yen, "Ada yang berbaur dalam pekerjaan, rumah, profesi dan pergaulan. Untuk kita bertiga, yah berbaur kelamin aja,"

TAMAT

Aku, Mbak Linda dan suaminya

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih pada Rumahseks karena telah menampilkan kisah pengalaman pribadi saya. Sebelumnya saya juga sudah mengirimkan kisah saya dengan judul Aku dan 4 wanita dengan alamat e-mail yang lain. Tapi berhubung saya tidak dapat lagi menggunakan e-mail tersebut maka saya membuat e-mail yang baru. Bagi anda yang telah membaca kisah tersebut pasti sudah mengenal wanita saya ini. Selamat mengikuti kisah pengalaman pribadi saya.

Pagi hari itu aku di aku di telepon Mbak Linda. Aku disuruh datang kerumahnya. Katanya ada hal penting yang harus dibicarakan. Aku langsung menyanggupinya. Tapi aku bilang kalau aku hanya bisa datang besok sore hari, karena aku sudah ada janji dengan adiknya si Yuni pada hari ini. Mbak Lindapun setuju dengan usulku itu. Aku lalu berangkat ke rumah Yuni. Sesampainya aku di rumah Yuni, aku langsung saja masuk kedalam rumah karena aku sudah terbiasa dengan keluarganya. Sesampainya aku di dalam rumah, aku tidak mendapati siapa-siapa. Aku langsung saja duduk di ruang tamu.

Tapi aku mendengar ada orang yang sedang mandi. Aku tidak tahu siapa yang sedang mandi itu, jadi aku hanya menunggu saja. Tidak berapa lama aku menunggu tiba-tiba Yuni dan ibunya muncul dari pintu depan.

"Hai Andrie, udah lama kamu datang?" sapa ibu nya Yuni yang biasa kupanggil Tante Siska.
"Iya tante barusan aku datang nih.. Tante dan Yuni darimana?" aku balik bertanya.
"Kami dari mall Andrie.. Capek sekali nih" jawab si Yuni duduk dekat ibu tirinya itu.
"O ya tadi aku mendengar ada orang yang sedang mandi.. siapa ya?" tanyaku.
"O.. pasti Mbak Shinta Andrie.." jawab Yuni lagi.

Tak lama kami pun terdiam. Cukup lama kami terdiam. Diam-diam aku memperhatikan mereka berdua. Yuni dan ibunya hanya tersenyum saja aku perhatikan seperti itu. Aku jadi mulai bernafsu memandangi mereka berdua. Aku lalu mendekati mereka. Setelah berdiri dekat mereka, aku langsung membuka celanaku dan
mengeluarkan kontolku yang sudah mulai tegang.

"Ah.. Andrie, kamu sudah kepingin lagi ya..?" kata tante Siska dengan genitnya.
"Iya tante.. kita mulai lagi yuk.." kataku sambil meremas payudara tante Siska dari balik pakaiannya.
Sementara kepala Yuni kudorong supaya dia memasukkan kontolku kedalam mulutnya. Aku dan keluarga Yuni memang sudah terbiasa melakukan seks bersama2. Karenanya aku langsungsaja memulainya. Yuni langsung mengulum kontolku dengan sangat bernafsu. Aku sangat senang sekali melihat dia mengulum dan menghisapkontolku. Sementara tanganku terus meremas-remas payudara tante Siska dan mulai membuka pakaiannya. Akhirnya tante Siska hanya memakai celana roknya saja.

Tanganku terus meremas-remas payudara tante Siska sementara Yuni sibuk menghisap kontolku. Kemudian kepala Yuni kutarik perlahan dan gantian tante Siska yang memasukkan kontolku kedalam mulutnya. Sungguh sangat enak sekali. Aku juga mulai melepaskan pakaian yang dikenakan Yuni sambil meremas-remas payudaranya kiri dan kanan. Akhirnya Yuni juga hanya mengenakan rok nya saja, tanpa baju. Mereka berdua asyik menghisap kontolku dengan sangat bernafsu dan bergantian dan mereka hanya hanya memakai pakaian bawahnya saja. Tanganku juga meremas-remas payudara mereka bergantian. Agak lama juga mereka menghisap kontolku hingga warnanya kemerahan.

"Tuh Shinta sudah selesai mandi Andrie.." kata ibu si Yuni.
Aku melihat Shinta keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya. Nampak jelas keindahan tubuh Shinta yang dililit handuk itu.
"Hai Andrie sudah lama datangnya?" tanya Shinta dengan riang padaku dan agak kaget dengan yang kami lakukan.
"Ohh.. kalian udah mulai duluan ya?" katanya sedikit kaget.
"Iya Mbak" jawabku sambil tersenyum.
Melihat pemandangan yang ada didepanku itu, aku jadi semakin bernafsu. Aku langsung menghampiri Shinta dengan kontol yang tegang dan mengacung kearahnya. Yuni dan Tante Siska hanya tersenyum saja melihatku.

Sementara Mbak Shinta hanya berdiri saja melihatku mendekatinya. Aku langsung menarik tangannya ke sofa di ruang tamu disamping Yuni dan ibunya duduk. Sesampainya di sofa aku melepaskan handuk yang melilit tubuhnya yang putih mulus hingga tubuhnya yang putih tinggi semampai itupun polos bugil menampakkan keindahannya. Sementara kontolku berdiri tegak dengan warna yang kemerahan. Shinta hanya menjerit kecil dan tertawa saja. Dia membiarkan aku melepaskan handuk yang dipakainya. Aku langsung memeluk tubuhnya yang wangi. Aku segera menciumi payudaranya sambil memeluk tubuhnya dengan berdiri. Aku menghisap payudaranya kiri dan kanan.

Shinta hanya mendesah saja. Sementara itu Yuni dan ibunya hanya memperhatikan saja dengan nafas yang mulai tidak teratur. Yuni dan ibunya hanya memakai pakaian bawah saja. Sementara tangan Shinta mulai melepaskan bajuku, hingga aku juga telanjang bulat. Aku masih asyik menghisap payudara Shinta kiri kanan dan ciumanku berlanjut kebawah. Aku berjongkok. Aku mengangkat kaki kanan Shinta ke pinggir sofa. Aku menjilati vaginanya. Sungguh enak vagina Shinta kalau dijilat. Sementara kontolkupun sudah semakin tegang dan membesar dan makin panjang. Aku masih terus menjilati vagina Shinta dengan sangat bernafsu.

Shinta masih saja merintih-rintih. Aku makin semangat mendengar rintihan Shinta. Tak lama Shinta menarikku keatas. Dan dia pun berjongkok. Lalu dia langsung memasukkan kontolku kedalam mulutnya. Shinta menghisap penisku dalam-dalam dan menghisapnya dengan sangat bernafsu. Sementara Yuni dan ibunya makin semangat menonton kami. Mereka melihat sambil mendekati kami. Shinta masih terus menghisap kontolku dengan sangat bernafsu. Aku sangat senang melihat Shinta seperti itu.

Agak lama aku membiarkan Shinta memasukkan dan mengeluarkan kontolku kedalam mulutnya. Akhirnya akupun tidak tahan lagi. Aku segera menarik Shinta dan membaringkannya ke sofa, tepat disamping Yuni. Aku lalu membuka paha Shinta dan mulai memasukkan kontolku kedalam vaginanya. Shinta menjerit tertahan begitu kontolku masuk menerobos kedalam memeknya.

Ahh.. sungguh sangat enak sekali. Begitu kontolku masuk, langsung memek Shinta memijit-mijit kontolku. aku langsung memasukkan dan mengeluarkan kontolku kedalam memeknya. Shinta hanya menjerit kecil dan mendesah saja. Aku langsung menggenjot dan mulai mempercepat gerakan pinggulku. Shinta hanya makin keras desahannya. Akupun semakin bersemangat aja. Aku semakin mempercepat gerakan pinggulku. Dan tak lama aku merasakan kontolku jadi hangat. Rupanya Shinta sudah keluar. Tapi aku kayaknya masih lama untuk keluar. Kulihat Shinta nampak terengah-engah.

Aku langsung menghampiri ibu si Yuni yaitu tante Siska. Aku langsung meremas payudara tante Siska yang putih dan montok. Aku langsung menciumi payudara tante Siska dan membuka BH nya. Aku menghisap payudara tante Siska bergantian. Tante Siska hanya mendesah saja aku perlakukan begitu. Sementara Yuni menatapku dengan bernafsu.

"Sebentar ya Yuni, sekarang aku menggarap ibumu dulu." kataku pada Yuni.
"Lakukan saja Andrie, aku senang dengan situasi seperti ini." jawab Yuni.
Aku terus menciumi payudara tante Siska dengan bersemangat. Ciumanku makin lama makin kebawah. Akhirnya ciumanku mengarah ke vagina tante Siska. Aku menjilati vagina tante Siska dan memasukkan lidah ku kedalam aginanya. Tante Siska menjerit senang.
"Ahh.. Andrie.. terus sayang.." katanya sambil mendesah.

Aku semakin bersemangat saja. Akhirnya aku duduk di sofa dan memberi isyarat pada tante Siska supaya berdiri membelakangiku. Tante Siska mengerti dan membelakangiku. Perlahan-lahan aku mendudukkan tante Siska di pangkuanku dan mengarahkan kontolku ke vaginanya dari belakang dan sambil duduk.
"Biar aku bantu memasukkan kontolmu kedalam memek ibuku Andrie.." kata Yuni sambil menggenggam kontolku dan mengarahkannya kedalam memek ibunya.
Perlahan-lahan kontolku menerobos memek tante Siska. Tante Siska menjerit tertahan begitu kontolku masuk ke memeknya.

"Ahhh.. Andrie enak sekali sayang.." kata tante Siska dengan desahan yang makin menaikkan nafsu seks ku.
Aku makin bersemangat saja. Perlahan-lahan tante Siska mulai menaik turunkan pantatnya diatas pangkuanku. Dan tanganku juga asyik meremas-remas payudaranya dari belakang. Sementara Yuni dengan serius memperhatikan tepat di depan kontolku yang sudah masuk kedalam memek ibunya. Sekali-kali waktu tante Siska menaikkan pantatnya, Yuni menjilati batang kontolku. Begitu seterusnya. Gerakan pantat tante Siska mulai cepat. Dan makin lama makin cepat. Dan kelihatan kelincahan pantat tante Siska naik turun diatas pangkuanku. Kadang-kadang dia memutar2 pantatnya.

Sekali waktu kontolku terlepas dari memek tante Siska. Waktu terlepas itu Yuni segera menyambar kontolku dan mengulum-ngulum nyadengan sangat bernafsu. Kemudian memasukkan kembali kedalam memek ibunya. Tanganku tetap tidak berhenti meremas-remas payudara tante Siska. Kadang-kadang aku menghisap payudara tante Siska dari belakang.
"Ahhh.. Andrie.. kamu pingin menghisap susuku ya..?" kata tante Siska.
"Kalau begitu aku ubah posisiku ya.. sayanghh.." kata tante Siska sambil melepaskan kontolku dari memeknya dan berbalik menghadap ke depanku.
Kemudian dia kembali memasukkan kontolku kedalam memeknya.
"Ayo sayang.. kita lanjutkan lagi.." katanya.
Kemudian kembali tante Siska menaik turunkan pantatnya diatas pangkuanku. Sementara aku dapat bebas menghisap payudaranya dan meremas-remas payudaranya bergantian.

Tante Siska merintih-rintih diatas pangkuanku. Pantatnya makin lama makin cepat turun naik sehingga kontolku yang sudah masuk kedalam memeknya menimbulkan bunyi. Agak lama juga tante Siska menaik turunkan pantatnya hingga kemudian..
"Andrie.. akusudah mau keluar.. sayanghh.. Kamu gimana..?" katanya.
"Keluarkan saja tante.. aku masih agak lama nih.." kataku sambil menciumi payudaranya dan menghisapnya bergantian.
Sementara tanganku tidak berhenti meremas-remas payudaranya yang putih montok. Tak lama kemudian tante Siska memeluk tubuhku dengan kencang. Kepalaku dibenamkannya dalam-dalam ke payudaranya.
"Ahhh.. Andrie.. sayanghhh.. aku sudah keluar.." katanya dengan tubuh yang melemah.

Sementara aku masih jauh untuk keluar. Memang aku tidak bisa cepat keluar kalau hanya main dengan satu orang wanita saja. Kemudian tante Siska mencabut kontolku dari memeknya.
"Andrie.. sekarang giliran Yuni yang kamu garap.." katanya sambil menghisap kontolku yang masih tegang.
Aku kemudian bergerak kearah Yuni dan menyuruhnya untuk menungging. Yunipun mengerti dengan tujuanku. Dia menungging dengan posisi kaki tegak. Sementara tangannya memegang sandaran sofa. Tante Siska dan Mbak Shinta hanya duduk dengan nafas yang masih terengah-engah. Perlahan-lahan aku memasukkan kontolku kedalam memek Yuni dari belakang sambil berdiri.

"Ahhh.. enak Andrie.." kata Yuni.
Kemudian setelah posisinya pas, aku memaju mundurkan pantatku sambil memegang pantat Yuni dan meremas-remas nya. Makin lama gerakan ku makin cepat dan Yuni merintih rintih dengan suaranya yang makin bikin aku bersemangat.
"Ah.. ahhh.. ahh.. Andrie.. enak sayang.." katanya.

Aku tidak peduli dengan suara Yuni malah makin mempercepat gerakan pantatku. Aku lalu meraih payudara Yuni sehingga dia berada pada posisi membelakangiku sambil berdiri. Kaki kirinya kunaikkan keatas pinggir sofa. Kemudian kembali aku menggenjotnya dari belakang sambil tanganku tidak berhenti meremas-remas payudaranya yang montok. Yuni hanya merintih-rintih saja. Sekitar sepuluh menit, aku mulai merasakan tanda-tanda akan keluar.

"Yuni.. aku sudah mau keluar nih.. kamu bagaimana sayang..?" kataku sambil terus menggenjot pantatnya.
"Aku juga hampir keluar Andrie.. kalau kamu mau keluar diluar memekku saja ya sayang.. karena aku belum minum pil KB nih.." katanya.
Tapi ternyata tubuh Yuni sudah mulai menegang.
"Ahh.. Andrie.. aku keluar duluan aghh.." katanya dan ternyata kakinya tidak mampu untuk berdiri sehingga dia terduduk dan kontolku tercabut dari memeknya.
"Aku juga sudah mau keluar ahh.. aku sudah mau keluar juga.." kataku.

Tante Siska dan Mbak Shinta yang dari tadi hanya melihat saja buru-buru mendekat dan mengarahkan kepalanya kekontolku. Yuni juga mendekatkan kepalanya kekontolku. Akhirnya aku keluar juga. Sambil memegang kontolku, aku mengarahkan air maniku kemulut tante Siska, Mbak Shinta dan Yuni yang sudah berjongkok didepan kontolku. Mereka membuka mulutnya lebar-lebar hingga air maniku masuk kedalam mulut ketiganya. Lumayan banyak juga air maniku keluar hari itu. Mereka kelihatan senang melihat air maniku banyak keluar dan mereka menelan spermaku, kemudian mereka bergantian mengulum kontolku sekaligus membersihkan sisa sperma yang masih menempel di kontolku.

"Ahhh.. enak sekkali.." kataku sambil duduk diatas sofa.
Tante Siska duduk disebelah kiriku dan Mbak Shinta duduk di sebelah kananku sementara Yuni duduk di pangkuanku. Kami sama -sama menarik nafas panjang.
"Ahhh.. seru sekali ya.." kata Mbak Shinta.
"Iya Andrie memang luar biasa .." kata tante Siska.
Sementara Yuni hanya menggenggam kontolku yang walaupun sudah keluar tapi masih tetap tegang.
"Iya.. aku lemas nih.." jawabku.
Mereka bertiga hanya tersenyum saja. Lama kami terdiam.

"Tadi pagi aku ditelpon Mbak Linda.. ada apa ya..?dia menyuruhku untuk datang kerumahnya." kataku memberitahukan tentang telepon dari Mbak Linda.
"Kapan kamu disuruh kesana Andrie..?" tanya Yuni
"Aku bilang kalau aku bisa datang besok sore." jawabku.
"Ya udah datang aja besok. Mungkin Mbak Linda kangen sama kamu" jawab Yuni lagi.
Aku tersenyum saja mendengarnya.
"Oya tadi ibu sama Yuni beli makanan. Kita makan aja yuk. Lapar nih." kata ibu Yuni.

Akhirnya kami berempat berjalan menuju keruang makan dengan telanjang bulat. Kontolku sudah tidak tegang lagi berayun-ayun kekiri dan kanan waktu melangkah. Tante Siska, Mbak Shinta dan Yuni hanya tersenyum saja melihat kontolku. Kami berempat makan diruang makan dengan telanjang bulat.

Setelah makan kami duduk-duduk santai di meja makan. Hari itu seperti biasa aku tidak diperbolehkan pulang tapi harus menginap disana. Setelah makan kami meneruskan lagi permainan kami di kamar tante Siska yang agak luas. Aku terus mengentot Yuni, ibunya dan Mbak Shinta bergantian dan bermacam gaya. Akhirnya karena kecapekan kami tertidur di kamar tante Siska. Malamnya kami teruskan lagi permainan kami hingga kami kembali tertidur dan bangun pagi hari.

Keesokan harinya aku pulang ke rumah. Sesampainya aku dirumah aku melanjutkan tidurku sampai siang hari. Setelah bangun tidur aku langsung makan siang dan membersihkan rumahku. Tak lama aku mendapat telepon lagi. Rupanya Mbak Linda lagi yang meneleponku.
"Hai Andrie.. Gimana kemarin rame nggak dirumah Yuni?" kata Mbak Linda memulai pembicaraan.
"Iya.. Mbak aku capek sekali nih.." jawabku.
"Memangnya ada apa Mbak menyuruhku datang kesana?" tanyaku.

"Begini Andrie.. suami Mbak Mas Hadi ingin bertemu denganmu. Kamu dulu udah Mbak kenalkan dengan Mas Hadi kan?" jawab Mbak Linda.
"Tapi ada masalah apa Mbak?" tanyaku penasaran.
"Mbak juga tidak tahu.. karena itu kamu nanti sore datang ke sini ya?" jawabnya.
"Iya deh Mbak nanti sore aku kesana." jawabku dan akhirnya kami menutup telepon.

Dalam hati aku penasaran, "Ada apa kok Mas Hadi suaminya Mbak Linda tiba-tiba ingin bertemu denganku? Apa mungkin dia tahu kalau aku sudah meniduri isterinya?"
Aku hanya menerka-nerka saja tapi aku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Akhirnya aku memutuskan kalau toh nanti Mas Hadi tahu aku telah meniduri isterinya dan marah kepadaku aku siap menerima resikonya.
"Paling-paling dia hanya memaki-maki dan memukul aku saja" kataku dalam hati.

Sore harinya aku berangkat kerumah Mbak Linda sendirian. Sesampainya disana ternyata Mbak Linda dan suaminya Mas Hadi sudah menungguku di ruang tamu. Mas Hadi umurnya kurang lebih 30 tahun.
"Hai Andrie.. ayo masuk" kata Mbak Linda mempersilahkan aku masuk kerumahnya.
Sementara Mbak Linda keluar dan mengunci pintu pagar dan kemudian juga mengunci pintu rumahnya dari dalam. Dia juga menutup dan mengunci jendela. Dan terakhir Mbak Linda menyalakan AC dan menghidupkan lampu ruang depan sehingga rumahnya menjadi terang. Aku tidak tahu apa maksudnya seperti itu. Bukankah aku aku masih dirumahnya?Tapi aku bersikap tenang seperti tidak ada apa-apa. Akhirnya Mbak Linda duduk disamping Mas Hadi.

"Mbak linda dan Mas hadi cuma berdua saja dirumah?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Iya pembantu Mbak pulang kampung, jadi tinggal kami berdua saja dirumah." jawab Mbak Linda.
Setelah itu kami pun berbincang-bincang tentang berbagai hal. Tapi anehnya Mas Hadi sedikit sekali bicaranya. Dia terus saja memperhatikan aku dari ujung rambut hingga kekaki. Aku menjadi salah tingkah di pelototin begitu.
"Ada apa Mbak memanggil saya kemari? katanya ada hal penting. Bisa di jelaskan Mbak?" tanyaku.
"Begini Andrie.. Mas Hadi yang ingin bicara denganmu. Silahkan Mas katanya mau bicara dengan Andrie. Tuh dia udah datang." kata Mbak Linda dengan kepala menunduk.

Aku merasa heran dengan sikap Mbak Linda yang tiba-tiba berubah. Mas Hadi hanya mendehem saja
"Hem.. aku mau bertanya padamu Andrie. Kuharap kamu menjawabnya dengan jujur dan jantan." kata Mas Hadi memulai pembicaraan.
Tiba-tiba aku merasa grogi juga. Jangan-jangan dia sudah tahu kalau aku sudah meniduri isterinya kataku dalam hati. Tapi sebelum berangkat kesini tadi aku sudah memutuskan menerima resiko apapun juga. Jadi aku tidak takut, toh memang aku yang salah. Aku memberanikan diriku.
"Ya Mas, Mas mau bertanya apa? semuanya akan kujawab." kataku.

"Aku bertanya, apa benar kamu sudah tidur dengan isteriku Linda?" kata Mas Hadi dengan suara yang tegas dan keras.
Walaupun aku sudah mengira dia akan menanyakan itu, tapi tetap saja aku menjadi gugup. Tapi walaupun gugup aku harus menjelaskan apa adanya dan semuanya, tekadku dalam hati.
"Iya Mas.. karena itu saya minta maaf sama Mas. Kalau Mas jadi marah saya siap menerima hukuman apapun dari Mas." jawabku dengan suara pelan.

"Sudah berapa kali kamu tidur dengannya?" tanya Mas Hadi lagi.
"Sudah tidak terhitung lagi Mas.. sering." jawabku dengan kepala yang menunduk.
Diam-diam aku melirik kearah Mbak Linda dan dia juga hanya menunduk saja. Aku jadi semakin ketakutan. Dalam hati aku berpikir jangan-jangan Mas Hadi akan membunuhku. Lama kami terdiam.
"Apa kamu merasa bersalah melakukan itu Andrie..?" tanya Mas Hadi lagi.
"Iya Mas.. saya merasa bersalah pada Mas." jawabku.
"Terus sekarang apa kamu merasa takut?" tanya Mas Hadi lagi.
"Iya.. Mas.." jawabku dengan suara semakin pelan.

Tiba-tiba hal yang tidak terduga terjadi. Tiba-tiba Mas Hadi tertawa.
"Ha.. ha.. ha.. Andrie.. Andrie.. kamu jadi ketakutan seperti itu jadi kelihatan lucu.. ha.. ha.. ha.." kata Mas Hadi terbahak-bahak.
Aku jadi kebingungan dengan situasi yang jadi berubah seperti itu. Aku melihat Mbak Linda. Ternyata sama saja, dia ikut tertawa seperti suaminya. Lama mereka tertawa berdua. Aku jadi makin tidak mengerti.
"Ada apa Mas kok malah tertawa..?" tanyaku dengan nada heran.
Mereka malah makin keras tertawanya. Akhirnya aku biarkan saja mereka tertawa dengan wajah kebingungan.

Setelah agak lama barulah Mas Hadi dan Mbak Linda berhenti tertawa.
"Begini Andrie.. kamu jangan ketakutan seperti itu. Aku sebenarnya tidak marah. Tapi hanya ingin lihat reaksimu saja." kata Mas Hadi.
Tentu saja aku jadi heran.
"Aku akan marah sekali kalau kamu tadi berbohong. Ternyata kamu tidak berbohong. Aku anggap kamu cukup jantan untuk mengakui semua perbuatanmu. Karena itu aku tidak marah." jawab Mas Hadi sambil tersenyum.
"Benar Mas Hadi tidak marah?" tanyaku untuk meyakinkan diriku.
Mas Hadi hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

Akhirnya aku menarik nafas lega. Mbak Linda hanya tersenyum saja melihatku. Aku juga mulai tersenyum.
"Terus selanjutnya apa Mas?" tanyaku penasaran.
"Begini Andrie, Mbak Lindamu ini sebenarnya nafsu seksnya tinggi. Aku sendiri jarang sekali bisa memuaskan nafsu seksnya itu. Karena itu dia biasa menggunakan alat ini."jawab Mas Hadi terus terang sambil memperlihatkan semacam alat kontol-kontolan plastik kepadaku.
"Tapi belakangan ini aku lihat dia sudah jarang menggunakan alat ini dan ini yang membuatku jadi penasaran. Akhirnya dia kutanyai terus dan diapun mengaku kalau dia sudah tidak menggunakan alat ini." kata Mas Hadi lagi.

"Dia juga sudah mengaku kalau dia sudah sering tidur denganmu." kata Mas hadi menjelaskan.
"Jadi sebenarnya aku senang dia sudah tidak menggunakan alat ini, karena bagiku alat ini bisa merusak vaginanya sendiri. Jadi kesimpulannya kamu kuperbolehkan tidur dengan Linda selagi dia mau. OK?" kata Mas Hadi sambil tersenyum.
"Kamu bebas berbuat apa saja dengannya walaupun di dekatku. Aku ingin lihat dia dipuaskan oleh orang beneran bukan dengan mainan seperti ini." kata Mas Hadi sambil melemparkan kontol-kontolan itu ke tempat sampah.

"Tapi satu hal Andrie, kamu boleh main dengan wanita manapun tapi tidak boleh dengan wanita WTS. Sekali saja kamu melanggarnya kamu tidak boleh lagi mendekati Linda. Kamu mengerti?" kata Mas Hadi lagi.
"Iya Mas, saya mengerti. Saya berjanji tidak akan main dengan WTS." jawabku.
Mas Hadi dan Mbak Linda tersenyum.
"Nah sekarang kamu sudah welcome disini. Kamu bebas masuk dan melakukan apa saja disini. Tapi suatu waktu nanti aku juga ingin meniduri pacarmu si Yuni. OK?" kata Mas Hadi lagi.
"Ya Mas terserah Mas saja." jawabku. Aku benar-benar merasa lega dan tenang. Kemudian aku memperhatikan Mbak Linda.

Mbak Linda hanya tersenyum kepadaku. Aku jadi ingat dengan perkataan Mas Hadi barusan. Aku sudah diberi kesempatan sebebas-bebasnya dengan isterinya walaupun dia ada disini. Perlahan-lahan kontolku mulai berdiri. Lalu aku mendekat kearah Mbak Linda dan duduk disampingnya. Mbak Lindapun duduk merapat ke arahku. Sementara Mas Hadi hanya tersenyum memandangi kami. Aku langsung saja mencium bibir Mbak Linda dihadapan suaminya sendiri. Mbak Lindapun membalas ciumanku. Lalu aku membuka baju kaos yang dipakai Mbak Linda hingga dia hanya memakai BH saja.

BH itupun langsung kucopot didepan Mas Hadi. Maka terpampanglah di hadapanku payudara Mbak Linda yang putih, montok dengan puting payudara yang berwarna merah muda. Aku langsung menciumi payudaranya dan bergantian kiri kanan. Aku menghisap payudara Mbak Linda dengan sangat bernafsu. Mbak Linda hanya merintih-rintih saja. Sementara Mas Hadi masih saja melihati kami. Kemudian Mbak Linda membuka resleting celanaku dan mengeluarkan kontolku yang sudah mulai tegang. Aku membiarkan saja Mbak Linda membuka celanaku dihadapan suaminya. Kontolku masih belum begitu tegang tapi kelihatan sekali besarnya.
"Woww.. Andrie.. kontolmu mulai tegang ya.." kata Mbak Linda sambil membiarkan tanganku bermain di payudaranya yang putih dan montok.
Kemudian dia mendekatkan mulutnya kekontolku dan menghisapnya dalam-dalam.

"Ahhh.. enak sekali Mbak " kataku dengan mendesah.
Mbak Linda masih terus mengulum kontolku dan tangankupun tidak berhenti meremas-remas payudaranya. Mas Hadi hanya membiarkan kami main berdua. Mbak Linda masih terus menghisap-hisap kontolku dengan sangat bernafsu. Akupun masih terus menikmatinya. Dan tidak lama kemudian aku merasakan sudah mau keluar. Memang Mbak Linda sangat ahli dalam menghisap-isap kontolku, sehingga aku jadi merasa cepat keluar. Kontolku makin lama makin tegang dan membesar.
Mbak Linda sangat senang sekali melihatnya. Dan tidak lama kemudian
"Ahhh.. Mbak aku sudah mau keluar.." kataku.
"Keluarkan saja dimulutku Andrie.." kata Mbak Linda sambil mengeluarkan kontolku dari mulutnya kemudian memasukkannya kembali dan menghisapnya. Dan benar saja akupun keluar.

Kupegang kepala Mbak Linda dan memuntahkan cairan spermaku kedalam mulutnya. Mbak Lindapun membiarkan saja aku menumpahlkan maniku dimulutnya. Akhirnya Mbak Linda melepaskan kontolku dari
mulutnya dengan sperma yang menetes dibibirnya. Dia menjilat sisa sperma yang menetes dibibirnya kemudian menelan semuanya.
Kemudian dia kembali mengulum-ngulum kontolku dan membersihkan sisa sperma yang menempel dikontolku. Aku hanya menarik nafas panjang dengan mata terpejam.
"Ahhh.. enak sekali.. Mbak" kataku.
Sementara Mbak Linda juga duduk menyandarkan dirinya dipangkuanku dan membiarkan payudaranya terbuka lebar. Aku juga membiarkan kontolku terbuka dihadapan Mas Hadi. Lama kami terdiam dengan nafas yang masih terengah-engah.

Kemudian Mas Hadi berkata,
"Gimana Andrie..?enak?" katanya sambil tersenyum padaku.
"Iya Mas.. sedotan Mbak Linda sungguh sangat enak sekali.." jawabku.
Mbak Linda hanya memegangi kontolku dan sesekali meremas-remasnya. Kemudian Mas Hadi berkata,
"Andrie aku minta tolong padamu ya.. kamu bisa pakai handycam?"
"Bisa Mas, memangnya untuk apa?" tanyaku.
Mas Hadi tidak menjawab pertanyaanku malah dia berkata, "Linda, sekarang kamu pakai lagi bajumu yang rapi dan kamu Andrie, pakai lagi celanamu."

Mbak Linda menurut saja, sementara Mas Hadi berjalan menuju lemari yang diruang tengah dan mengambil handycam dari dalam lemari. Kemudian Mas Hadi kembali keruang tamu. Aku juga sudah mengancingkan celanaku .
"Ayo kita kekamar. Linda bawa si Andrie kekamar." kata Mas Hadi sambil berjalan menuju kamar tidur.
Mbak linda juga berjalan kekamar sambil menarik tanganku. Aku menurut saja.
Sesampainya dikamar, Mas Hadi menghidupkan lampu kamar hingga kamarpun jadi terang benderang.
"Begini Andrie, aku minta kamu merekam aku lagi main dengan Linda. Kamu harus bisa mengambil gambarnya dari tempat-tempat yang bagus. OK?" kata Mas hadi menjelaskan.
Aku hanya mengangguk saja. Aku mengerti dengan tujuan Mas Hadi dengan handycam tersebut.
"Gimana Linda kamu udah siap?" tanya Mas Hadi.
Mbak Linda hanya mengangguk saja.

"Kamu Andrie sudah siap?" tanya Mas Hadi lagi.
Aku juga mengangguk saja. Kemudian Mas Hadi menarik tangan Mbak Linda ke tempat tidur.
"Sekarang Andrie." kata Mas Hadi memberi perintah padaku.
Aku langsung menghidupkan handycam dan menyorot mereka berdua. Mas Hadi langsung mencium bibir Mbak Linda dengan bernafsu. Mbak Linda juga membalasnya. Sementara tangan Mas Hadi meremas-remas payudara Mbak Linda dan perlahan-lahan dia melepaskan pakaian yang dipakai Mbak Linda. Hingga akhirnya Mbak Linda hanya pakai BH saja dan itupun langsung dicopot oleh Mas Hadi. Mas Hadi terus menciumi leher Mbak Linda yang putih mulus.

Mbak Linda memang mempunyai tubuh yang sangat seksi. Siapapun pasti akan tergiur melihat tubuh Mbak Linda. Aku merasa bersyukur Mas Hadi mau isterinya kutiduri, walaupun imbalannya nanti dia akan meniduri pacarku si Yuni dihadapanku. Ya.. nggak apa-apa lah kataku dalam hati. Ini pengalaman yang mengasyikkan bagiku kataku lagi. Mas Hadi masih terus meremas-remas payudara Mbak Linda. Kemudian dia mulai menciumui payudara Mbak Linda kiri dan kanan. Aku terus merekam apa yang mereka lakukan. Kadang-kadang aku merekam sambil mendekati mereka. Tapi mereka tidak peduli dengan yang aku lakukan.

Mas Hadi masih terus menciumi payudara Mbak Linda dan menghisap-hisap puting payudaranya. Mbak Linda hanya mendesah-desah saja. Kemudian Mas Hadi mulai mencopot rok yang dipakai Mbak Linda, hingga dia hanya pakai celana dalam saja. CD Mbak Linda itupun juga copot, hingga Mbak Linda benar-benar bugil. Mas Hadi merebahkan tubuh Mbak Linda di tempat tidur dan menciumi paha Mbak Linda yang putih mulus. Aku mengarahkan kameraku menyusuri tubuh Mbak Linda yang sangat indah, terutama dibagian vaginanya yang sepertinya habis dicukur. Lama aku menyoroti vagina Mbak Linda. Mas Hadi membuka vagina Mbak Linda dan memberi isyarat supaya aku menyorot memek Mbak Linda. Aku mengerti dengan apa yang aku kerjakan.

Kemudian Mas Hadi mulai menjilat-jilat memek Mbak Linda dengan sangat bernafsu. Mbak Linda hanya merintih-rintih saja. Lama Mas Hadi menjilati memek Mbak Linda. Akhirnya Mbak Linda bangun dan mulai membuka pakaian Mas Hadi. Hingga Mas Hadi juga berada dalam keadaan bugil. Ternyata kontol Mas Hadi jauh lebih kecil dari punyaku. Aku masih terus asyik merekam mereka. Kemudian Mbak Linda menciumi kontol Mas Hadi dan memasukkannya kedalam mulutnya. Memang kontol Mas Hadi sangat kecil, walaupun tegang tetap saja kecil. Pantas saja Mbak Linda tidak pernah merasa puas kalau main dengan Mas Hadi. Mbak Linda masih terus menghisap kontol Mas Hadi. Mas Hadi hanya merem melek saja matanya.

Mbak Linda masih terus asyik mengulum dan menghisap kontol Mas Hadi. Tak lama Mas Hadi kembali merebahkan Mbak Linda dan menyuruhnya supaya telentang. Kemudian Mas Hadi menyuruhku mendekat. Perlahan-lahan Mas Hadi mulai memasukkan kontolnya yang sudah tegang ke memek Mbak Linda. Mbak Linda hanya merintih dan makin mengangkangkan kakinya. Akhirnya kontol Mas Hadi masuk kedalam memek Mbak Linda. Dan dia mulai menaik turunkan pantatnya. Mbak Linda juga mengimbangi gerakan Mas Hadi dari bawah. Makin lama gerakan pantat Mas Hadi makin cepat. Dan rintihan Mbak Lindapun juga makin keras terdengar. Akhirnya tubuh Mas Hadi menegang dan dia membenamkan kontolnya dalam-dalam kedalam memek Mbak Linda.
"Ahhh.. enaknya.."kata Mas Hadi.
Sementara Mbak Linda hanya mendesah saja. Tapi sepertinya Mbak Linda masih lama untuk keluar.

Kemudian Mas hadi berkata, "Sekarang giliranmu Andrie, sini biar aku yang merekam." katanya sambil mencabut kontolnya dari memek Mbak Linda.
Aku lalu menyerahkan handycam pada Mas Hadi dan mendekati Mbak Linda. Mas Hadi mulai merekam yang aku perbuat. Aku langsung saja menindih tubuh Mbak Linda yang putih molek. Mbak Lindapun membuka tangannya dan memelukku. Aku langsung menciumi bibir Mbak Linda. Mbak Linda juga membalas ciumanku. Lama kami berciuman. Sementara Mas Hadi masih asyik merekam aku dan isterinya yang sedang bergumul. Aku masih terus menciumi bibir Mbak Linda. Kemudian ciumanku kuarahkan kelehernya yang putih. Mbak Linda menggelinjang dengan manjanya. Aku terus menciumi lehernya dan kemudian turun ke payudaranya.
Payudara Mbak Linda habis aku ciumi. Puting payudaranya aku hisap bergantian. Mbak Linda hanya merintih-rintih saja. Mas Hadi juga makin semangat merekam yang kulakukan pada isterinya. Aku terus saja meremas dan menghisap puting payudara Mbak Linda. Kemudian akupun mulai membuka seluruh pakaianku hingga bugil seperti Mbak Linda dan Mas Hadi. Mbak Linda mendekatkan kepalanya kekontolku dan mulai menghisapnya dengan kepala maju mundur. Aku menikmati saja kuluman bibir Mbak Linda pada kontolku. Kupegang kepala Mbak Linda dan membantunyadengan memaju mundurkan pantatku. Mas Hadi terus merekam adegan kontolku dihisap isterinya.

Aku mulai tidak sabar, dan kusuruh Mbak Linda supaya nungging. Mbak Linda pun menungging. Kelihatan seluruh lekuk lekuk tubuh ramping dan mulus milik Mbak Linda yang bikin nafsuku semakin naik. Kutepuk pantat Mbak Linda dan meremas pantatnya. Mbak Linda menjerit kecil. Aku lalu mengarahkan kontolku kedalam memeknya dari belakang. Dan kontolkupun akhirnya menerobos memek Mbak Linda.
"Aww.. enak Andrie.." kata Mbak Linda dengan desahan yang menggairahkan.
Aku mulai memaju mundurkan pantatku. Mbak Linda pun makin keras rintihannya. Kulihat Mas Hadi masih asyik merekam semua yang kulakukan pada isterinya.

Tapi rupanya kontol Mas Hadi sudah mulai tegang lagi. Dia mengambil kaki kamera handycam dan memasang handycam di tempat kaki kamera itu. Kemudian dia mendekati aku dan Mbak Linda. Dia menyodorkan kontolnya yang sudah tegang kemulut Mbak Linda. Mbak Lindapun langsung mengulumnya. Jadi sementara aku mengentot Mbak Linda dari belakang, dia mengulum kontol suaminya. Aku terus memaju mundurkan pantatku dan sesekali aku meremas-rema payudara Mbak Linda. Memang memek Mbak Linda seperti terasa memijit-mijit kontolku. Lama situasi seperti itu berlangsung. Sementara adegan tsb terus direkam oleh handycam yang dipasang Mas Hadi pada kaki kamera. Mbak Linda terus saja menghisap kontol suaminya, sementara aku terus mengentot memeknya dari belakang.

Tak lama aku merasa sudah mulai keluar.
"Mbak aku merasa mau keluar nih.." kataku.
"Mbak juga.. Andrie.. merasa mau keluar.." kata Mbak Linda.
"Aku juga sudah mau keluar .." kata Mas Hadi.
"Aku keluarkan dimana Mbak?" tanyaku.
"Didalam memek Mbak saja Andrie.." kata Mbak Linda diantara rintihannya.
Tiba-tiba Mas Hadi mengerang.
"Aghhh.. aku keluar .." katanya sambil memegang kepala Mbak Linda dan membenamkan kontolnya kemulut Mbak Linda.
Akhirnya Mas Hadi keluar juga dengan sperma nya masuk seluruhnya kemulut Mbak Linda. Dan tak lama Mbak Linda pun juga keluar dengan tubuhnya menegang dan kontol Mas Hadi masih di mulutnya. Akupun sudah merasa mau keluar juga. Kupeluk erat-erat pinggang Mbak Linda yang ramping dan membenamkan kontolku dalam-dalam kedalam memeknya dari belakang.
"Agghh.. Mbak.. aku juga keluar.." rintihku sambil membenamkan dan menumpahkan cairan spermaku kedalam memek Mbak Linda.

Mbak Linda merintih-rintih. Kemudian kami bertiga terkulai lemas. Mas Hadi berbaring dipinggir tempat tidur, Mbak Linda ditengah dan aku dipinggir satu lagi. Lama kami terdiam. Kemudian Mas Hadi mematikan handycamnya.
"Bagaimana Linda?enak nggak tubuhmu dimasukin dua kontol sekaligus?" tanya Mas Hadi pada Mbak Linda.
"Enak sekali Mas.. aku jadi capek nih.." jawab Mbak Linda.
"Kalau aku baru kali ini Mas ngentotin isteri orang, sungguh pengalaman yang sangat mengasyikkan." kataku.
"Mungkin ini pertama kali bagi kamu ya Andrie, tapi nanti kamu bisa ngentot dengan bebas dengan cewek-cewek yang aku perkenalkan padamu. Dan yang lebih penting lagi aku dan kamu akan ngentotin si Yuni bersama-sama. Ya kan Linda?" kata Mas Hadi.
Mbak Linda hanya tersenyum saja mendengar kata suaminya itu.

"Mas Hadi ini sering ngentot dengan isteri teman-temannya Andrie, tapi aku tidak diperbolehkannya ngentot dengan teman-temannya. Dia curang nih. Kalau kalian mau ngentotin si Yuni bersama-sama terserah saja, asal jangan memaksa dia" kata Mbak Linda sambil tersenyum.
Aku hanya tersenyum saja dan tanganku tidak berhenti meremas-remas payudara Mbak Linda dihadapan Mas Hadi.

"Kamu nanti akan kuajak ke rumah temanku Andrie. Disana kamu boleh ngentot dengan wanita manapun dirumah itu." kata Mas Hadi lagi.
Dalam hati aku berpikir, rupanya suami isteri ini sudah biasa selingkuh terang-terangan. Dan itu tidak menjadi masalah dalam keluarga mereka. Ternyata mereka menganut seks bebas. Yang penting mereka melakukannya dengan suka sama suka. Nafsu seksku langsung naik lagi. Tiba-tiba telepon rumah Mbak Linda berbunyi. Mas Hadi berjalan dengan telanjang bulat menuju ke tempat telepon.

Sementara kontolku sudah mulai tegang lagi. Mbak Linda sangat senang memperhatikan kontolku yang mulai tegang. Aku langsung menindih tubuh Mbak Linda yang wangi. Tak lama Mas Hadi kembali kekamar.
"Telpon dari mana Mas?" tanya Mbak Linda.
"Itu telepon dari Sonya, katanya dia mau kesini. Dia bilang kalau suaminya tugas keluar kota." jawab Mas Hadi.
"Siapa Sonya Mbak Linda?" tanyaku.
"Sonya itu adik Mas Hadi jadi iparnya Mbak Linda." jawab Mbak Linda sambil meremas-remas kontolku.
"O begitu.." jawabku.
Mas hadi melirik kekontolku dan berkata, "Wah.. udah bangun lagi Andrie.. kalau kamu mau menggarap Linda.. silakan saja . Aku masih capek.. dengkulku lemas nih.." kata Mas Hadi.

Mendengar itu aku langsung saja menciumi payudara Mbak Linda dan langsung memasukkan kontolku ke memeknya dari atas.
Mbak Linda menjerit kecil, "Aww.. enak Andrie.." katanya.
Aku terus menggenjot memek Mbak Linda, sementara Mas Hadi hanya memperhatikan saja aku setubuhi isterinya. Agak lama kami main seperti itu hingga akhirnya aku dan Mbak Linda merasa mau keluar. Akhirnya puncak birahi kami jumpai juga. Aku kembali menyemprotkan spermaku kedalam memek Mbak Linda. Dan tubuh kami yang tadi tegang akhirnya melemah. Kontolku masih berada dalam memek Mbak Linda. Kadang kadang kontolku kugerakkandalam memeknya.
"Aww.. Andrie.. geli.." kata Mbak Linda.
Mas Hadi hanya tersenyum mendengarnya.

Akhirnya Mbak Linda bangun dan mencabut kontolku dari memeknya. Kemudian dia mengulum kontolku dan membersihkan cairan sperma yang menempel di kontolku hingga bersih. Kemudian dia berkata,
"Ayo pakai pakaian, si Sonya nanti akan datang, jadi kita makan dulu."
Kamipun berpakaian dan menuju ruang makan. Kami lalu makan bersama. Setelah makan, kemudian kami pindah keruang tamu dan menyetel TV.
"Kita nonton adegan tadi yuk" ajak Mas Hadi.
Kami pun menonton adegan ngentot kami tadi melalui handycam yang dihubungkan ke TV.

Sungguh sangat seru sekali waktu melihat aku ngentot dengan Mbak Linda di dalam video. Waktu kami menonton itu mendadak ada bel berbunyi.
"Nah.. pasti Sonya yang datang" kata Mas Hadi sambil membuka pintu depan dan kemudian membuka pintu pagar.
Kemudian dia kembali mengunci pintu pagar dan mengajak Sonya masuk kedalam rumah. Sonya langsung masuk kedalam rumah.
Mbak Linda bertanya pada sonya, "Memangnya suamimu berapa hari tugas keluar kota Sonya?"
"Kira-kira dua minggu Mbak." jawab Sonya.
"Andrie kenalkan ini adik Mas Hadi, namanya Sonya, umurnya mungkin sama dengan kamu." kata Mas hadi memperkenalkan.

Aku langsung berjabat tangan dengan Sonya. Sonya sangat cantik dengan tubuh ramping, tinggi semampai, rambut hitam panjang sebahu dan kulitnya sangat putih. Lebih putih dari kulit Mbak Linda. payudaranya lumayan besar tapi lebih kecil dibanding payudara Mbak Linda. Suaminya seorang pengusaha dan sedang keluar kota. Sementara TV yang berisi adegan kami tadi masih nyala.
"Hai kalian main rame-rame tadi ya..?" kata Sonya sambil duduk di sofa dan dengan serius dia memperhatikan adegan aku ngentotin Mbak Linda dari belakang dan Mas Hadi dari depan.

Nampak nafasnya mulai naik turun. Tapi tiba-tiba Mas Hadi langsung menarik tubuh adiknya dan berdiri.
"Sonya aku pingin menggarap kamu lagi." kata Mas Hadi.
Sonya hanya menerima saja perlakuan kakaknya. Aku agak kaget juga melihat Mas Hadi mau menyetubuhi adiknya di depan isterinya sendiri.
"Jangan heran Andrie.. perawan Sonya ini aku yang mengambilnya dulu" kata Mas Hadi seperti mengerti dengan pikiranku.
"Aku dan sonya sudah sering tidur bareng dengan Linda disini. Suami Sonya ini temanku sendiri. Nanti kamu juga boleh berbuat apa saja dengan Sonya disini." kata Mas Hadi lagi.
Aku hanya dapat meneguk ludah saja.

Sementara adegan ngentot kami di TV sudah selesai dan Mbak Linda langsung mematikan TV-nya. Sekarang aku dan Mbak Linda memperhatikan Mas Hadi sedang menggerayangi adiknya. Mas Hadi menciumi bibir Sonya yang merah tanpa lipstik. Memang Sonya memiliki tubuh yang sempurna dan menggairahkan. Mereka masih asyik berciuman. Tiba-tiba Mas Hadi menyuruh Sonya jongkok di depannya. Sonyapun menurut. Dia jongkok didepan Mas Hadi dan mulai membuka celana kakaknya. Setelah celana Mas Hadi terlepas Sonya langsung mengulum kontol kakaknya. Mas Hadi hanya merem melek saja merasakan kontolnya dihisap adiknya.

Sonya masih terus menghisap kontol Mas Hadi dengan bersemangat. Hingga akhirnya Mas Hadi memegang kepala adiknya dan membenamkan kontolnya kemulut Sonya. Sperma Mas Hadi keluar didalam mulut Sonya. Kemudian Mas Hadi menarik kontolnya. Kulihat Mbak Linda mendekati Sonya dan Mas Hadi. Sonya kemudian memberikan sperma Mas Hadi yang ada dimulutnya kemulut Mbak Linda. Mbak Linda menerima sperma dari Sonya. Kemudian mereka berdua saling berciuman. Aku heran juga ternyata Mbak Linda juga suka dengan wanita alias lesbi. Lama mereka berdua saling berciuman.

Kemudian Mas Hadi berkata,
"Andrie kalau kamu mau meniduri Sonya silahkan saja."
Kulihat Sonya hanya tersenyum saja mendengar kata-kata kakaknya. Aku memang sangat pingin merasakan tubuh Sonya. Tidak menunggu lama akupun mendekati Sonya. Mas Hadi dan Mbak Linda kembali duduk di sofa.
"Kami capek sekali Andrie.." kata Mbak Linda dan Mas Hadi.
Setelah dekat dengan Sonya aku langsung memeluk tubuhnya. Sonya pun menerima pelukanku.
"Mari sayang.. kita berkenalan dulu.." katanya sambil mencium bibirku.
Akupun menyambut ciuman bibir Sonya. Kami lalu berciuman dengan sangat bernafsu. Kemudian ciumanku kuarahkan keleher Sonya yang putih bersih.

Sonya hanya memejamkan matanya saja dan merintih-rintih.
"Ahh.. sayang teruskan.." katanya.
Aku lalu meremas-remas payudara Sonya dari luar pakaiannya.
Terasa payudaranya sangat empuk. Tak sabar aku langsung membuka pakaian yang dikenakan Sonya. Sonya pun membiarkan apa yang aku lakukan padanya. Setelah baju luarnya kubuka aku mulai membuka kaus yang dipakainya hingga hanya memakai BH saja. Gila.. ternyata Sonya itu kulitnya putih payudara. Bersih. Aku terkagum-kagum memandangi tubuhnya. Lalu aku mulai membuka BH yang dipakainya. Dan kelihatan lah seluruh payudara Sonya yang sangat putih, ukuran sedang dengan puting payudara yang berwarna merah jambu.

Aku tidak berhenti sampai disitu. Aku langsung melepaskan rok yang dipakai Sonya hingga dia hanya memakai CD saja . Tapi CD itupun langsung kutanggalkan, hingga Sonya benar-benar bugil. Sekarang aku bisa memandangi tubuh Sonya yang bugil putih payudara dan bersih, ramping seksi dan tinggi semampai. Kelihatan tubuh Sonya sangat sempurna.
"Aku berjanji seluruh tubuhmu akan kujilat habis sayang.." kataku pada sonya.
Sonya hanya tersenyum saja.
"Silahkan saja Andrie.." jawabnya.
Aku melihat ternyata Sonya juga habis mencukur bulu memeknya, sehingga memeknya kelihatan dengan sangat jelas berwarna putih juga.

Ahhh sungguh sangat menggiurkan tubuh Sonya ini kataku dalam hati. Ternyata diam-diam Mas Hadi merekam adegan kami tadi dari awal. Tapi aku tidak peduli malah aku tambah semangat. Sonya langsung melepaskan seluruh pakaianku hingga aku juga berada dalam keadaan bugil. Kontolku mengacung tegak kearahnya. Sonya kelihatan sangat senang sekali. Aku langsung menggendong tubuh Sonya dan membawanya kekamar Mas Hadi. Mas Hadi dan Mbak Linda mengikuti kami dan tidak berhenti merekam apa yang aku lakukan.

Sesampainya di kamar Mas Hadi aku langsung merebahkan tubuh Sonyaditempat tidur. Sonyapun berbaring dengan posisi mengangkang hingga kelihatan seluruh memeknya. Mas Hadi mendekati selangkangan Sonya untuk merekam memek Sonya yang indah itu. Sonya membiarkan saja apa yang terjadi. Aku langsung menciumi payudara Sonya dengan bergantian. Aku hisap puting payudaranya yang berwarna merah muda itu. Sonya hanya merintih-rintih saja. Lama aku menciumi dan menghisap payudara Sonya. Kemudian ciumanku turun kearah pahanya. Semuanya sudah habis kujilat. Sampai akhirnya bibirku sampai di vagina Sonya. Aku menjilati vaginanya, kudengar Sonya menjerit-jerit kecil. Aku makin bersemangat menghisap vaginanya. Setelah agak lama aku menjilati vaginanya, Sonya mulai duduk dan mengarahkan kepalanya ke kontolku.

Sonya langsung mengulum kontolku. Dia memasukkan dan mengeluarkan kontolku didalam mulutnya. Sekali waktu dia menjilati kontolku sampai ke zakar. Sungguh sangat enak sekali. Aku jadi tidak sabar pingin merasakan memek Sonya yang indah. Mas Hadi masih terus merekam perbuatan kami. Aku lalu membaringkan tubuh Sonya dan dia pun tidur telentang dengan kakinya yang terbuka. Tidak menunggu lama aku memasukkan kontolku kedalam memeknya. Mas Hadi merekamnya dari jarak yang sangat dekat. Ternyata memek Sonya sangat sempit. Mungkin dia tidak pernah merasakan kontol sebesar punyaku masuk kememeknya.

Agak lama aku berusaha memasukkan kontolku kedalam memek Sonya. Mas hadi masih merekam dengan sangat bersemangat. Sementara Sonya merintih-rintih saja. Akhirnya kontolkupun masuk kedalam memek Sonya. Blesss..
Sonya berteriak kecil, "Awww.. Andrie.. enak sekali.." katanya.
Aku terus membenamkan kontolku kedalam memek Sonya hingga terbenam seluruhnya. Sonya memeluk tubuhku dengan kencang. Kemudian aku menaikkan pantatku dan menurunkan lagi. Begitu gerakan yang aku perbuat terus menerus. Lama-lama Sonya sudah terbiasa. Dia mulai mengimbangi permainanku dari bawah. Aku sangat senang sekali dengan goyang pinggulnya.

Kemudian aku mengajaknya merubah gaya kami. Aku duduk di pinggir tempat tidur dengan kaki kelantai. Sonya mengerti maksudku. Diapun berdiri membelakangiku dan perlahan-lahan dia memasukkan kontolku yang sudah membesar sempurna kedalam memeknya. Mas Hadi berdiri di depan kami dan mengarahkan kameranya ke vagina Sonya. Tapi aku dan Sonya tidak peduli. Dia terus berusaha memasukkan kontolku yang besar kedalam memeknya. Akhirnya kontolku masuk juga.
Sonya kembali menjerit kecil, "Ahhh.. enak nya.." kata Sonya.
Kemudian dia mulai menaikkan pantatnya. Mas Hadi masih terus merekam kontolku yang keluar masuk kedalam memek Sonya.

Sonya masih menaikkan pantatnya dan menurunkan lagi. Sementara tanganku asyik meremas-remas payudara Sonya. Sekali waktu aku menghisap payudara Sonya dari belakang. Sonya sengaja memberikan payudaranya untuk dihisap padaku. Sambil menaik turunkan pantatnya aku terus menghisap payudara Sonya kiri dan kanan. Mbak Linda hanya memperhatikan saja disamping Mas Hadi yang terus asyik merekam aku dan adiknya ngentot. Lama kami memakai gaya seperti itu. Kelihatan pinggul dan pantat Sonya yang lincah bergoyang2 di pangkuanku. Tanganku terus saja meremas payudaranya. Hingga akhirnya aku sudah merasa mau keluar. Tapi bersamaan dengan aku tiba2 tubuh Sonya menegang.
"Ahhh.. Andrie.. aku keluar duluan.." katanya
"Aku juga Sonya.." kataku dengan tanganku meremas payudaranya agak kencang.

Aku membenamkan kontolku dalam-dalam ke memeknya.
"Aghhh.. enak sekali Sonya" kataku.
Kemudian aku tidak sanggup lagi duduk hingga aku terbaring dengan tubuh Sonya diatasku. Sementara kontolku masih terbenam dalam memeknya. Nafas kami terengah-engah. Akhirnya kontolku pun tercabut dari memek Sonya, tapi masih tetap tegang. Tiba-tiba aku merasakan ada yang menghisap kontolku. Ternyata Mbak Linda yang menghisap kontolku dan membersihkan sisa sperma yang menempel di sana. Mas Hadi masih terus merekam adegan itu. Kemudian setelah membersihkan kontolku, Mbak Linda kulihat menjilati memek Sonya. Dia menjilati sisa sperma yang juga menempel dimemek Sonya. Sonya membuka lebar-lebar kakinya dan membiarkan Mbak Linda menjilati memeknya.

Mbak Linda terus menjilati memek Sonya. Dan kulihat Sonya sudah mulai bersemangat lagi. Dia melayani Mbak Linda. Dia mulai membuka pakaian Mbak Linda hingga bugil. Mereka berdua kembali berciuman. Mas Hadi masih terus merekamnya. Aku hanya memperhatikan mereka berdua. Baru kali ini aku melihat wanita lesbi yang sedang main di hadapanku. Biasanya aku hanya melihat di VCD saja. Aku masih asyik menonton kedua wanita cantik ini. Mereka berdua masih saja asyik saling berciuman. Kemudian mereka merubah gaya jadi 69. Mbak Linda dan Sonya saling menjilati memek lawannya masing-masing. Mas Hadi masih terus merekam adegan tersebut.

Melihat hal itu aku jadi bernafsu lagi. Aku mendekati Mbak Linda dan Sonya dan menyuruhnya berbaring sejajar. Kontolku sudah benar-benar tegang lagi. Yang pertama ku garap adalah Sonya dulu. Aku kembali memasukkan kontolku kedalam memeknya. Kontolku langsung masuk kedalam memek Sonya dan aku mulai menaik turunkan pantatku. Kemudian aku mencabut kontolku dan pindah ke Mbak Linda dan memasukkan kontolku kedalam memeknya. Begitulah bergantian aku melakukan seperti itu. Mas Hadi sendiri masih terus merekam kami. Setelah agak lama aku melakukan seperti itu, waktu aku mengentot Mbak Linda, kulihat Mbak Linda sudah menunjukkan tanda-tanda mau keluar.

Dan benar saja Mbak Linda akhirnya keluar. Aku langsung pindah ke Sonya dan memasukkan kontolku kedalam memeknya. Aku terus menggenjot Sonya hingga akhirnya tubuhnya menegang tanda mau keluar. Bersamaan dengan itu aku juga mau keluar. Aku segera mencabut kontolku dan mengocoknya diwajah Mbak Linda dan Sonya. Akhirnya spermakupun muncrat menyiram wajah mereka berdua. Mereka membuka mulutnya lebar-lebar, sebagian spermaku masuk kedalam mulut mereka dan sebagian lagi mampir diwajah mereka. Mbak Linda dan Sonya menelan sperma yang masuk kemulut mereka dan saling menjilat sperma yang mengenai wajah mereka masing-masing. Mas Hadi masih terus mengambil adegan tersebut. Sementara aku sudah terkulai lemas.

Begitu juga dengan Mbak Linda dan Sonya. Mereka merebahkan tubuhnya dikiri kananku. Kami sama-sama menarik nafas dalam.
"Wah.. seru sekali ya..?" kata Sonya.
Mas Hadi lalu mematikan handycamnya dan langsung membuka seluruh pakaiannya.

Ternyata kontol Mas Hadi sudah tegang dari tadi. Dia langsung menindih Sonya dan disambut adiknya dengan membuka kedua pahanya. Tanpa pemanasan lagi Mas Hadi langsung memasukkan kontolnya ke memek adiknya dan memaju-mundurkan pantatnya. Sementara mulut Mas Hadi asyik menghisap payudara Sonya kiri kanan. Sonyapun begitu meladeni kakaknya dengan tetap bersemangat.
"Ahh.. Mas.. terus Mas.." katanya manja.

Tak lama kemudian tubuh Mas Hadi dan Sonya sama-sama tegang. Mas Hadi membenamkan pantatnya dalam-dalam kememek sonya. Sonya pun tampak menegang dan memeluk kakaknya dengan erat.
"Ahhh Mas aku mau keluar.." katanya.
Akhirnya mereka sama-sama terengah-engah dan Mas Hadi terbaring disamping Sonya. Akhirnya kamipun terdiam.
"Ahh.. sungguh enak sekali ya Andrie.." kata Mbak Linda.
"Ya Mbak luar biasa." jawabku.
"Kamu nggak usah pulang Andrie.. tidur disini saja.." kata Mbak linda lagi.
Akhirnya akupun tidak diperbolehkan pulang dan harus menginap malam itu. Malam itu kembali kami main bergantian.

Sementara hasil rekaman dari handycam kami simpan sebagai kenang-kenangan. Hanya orang yang pernah tidur dengan kami saja yang pernah melihat hasil rekaman tersebut. Rekaman yang dibuat oleh Mas Hadi tidak boleh di gandakan karenanya hanya terdiri dari satu kaset saja. Akhirnya pada hari itu aku bisa dengan puas meniduri Mbak Linda didepan suaminya dan meniduri Sonya, adiknya sendiri. Tapi aku tidak pernah puas meniduri Sonya karena tubuhnya yang benar-benar sempurna. Akhirnya aku diajak Sonya ke apartemennya dan kami kembali melakukan hubungan seks kami dengan sebebas-bebasnya, sampai suami Sonya pulang kesana. Aku bisa menikmati tubuh Sonya sepuas-puasnya. Walaupun suami Sonya tahu aku telah meniduri isterinya, dia tidak marah karena dia tahu kalau aku juga telah diijinkan Mas Hadi meniduri adiknya

Dan kira-kira 2 minggu setelah itu, Mas Hadi memintaku melalui telepon, agar mengajak Yuni datang kerumahnya. Aku langsung menyanggupinya. Aku langsung menelpon Yuni dan menympaikan hal tersebut. Ternyata Yuni juga tidak keberatan ditiduri kakak iparnya. Aku tidak ambil pusing dengan yang akan terjadi, walapun pacarku nanti akan ditiduri Mas Hadi dihadapanku. Bagiku selagi masih suka sama suka aku bisa menerimanya.

Pada hari Sabtu, aku dan Yuni pergi kerumah Mas Hadi. Yuni memakai baju warna merah, sehingga kulitnya kelihatan lebih putih. Sesampainya disana kami disambut Mbak Linda dan Mas Hadi. Mereka lalu mengajak kami makan malam bersama-sama. Setelah makan, kami lalu keruang tamu dan mengobrol tentang berbagai hal. Mas Hadi duduk disamping Mbak Linda. Sedangkan aku duduk di samping Yuni. Waktu itu jam telah menunjukkan pukul 8.30 malam. Tiba-tiba Mas Hadi mendekati Yuni yang duduk di sampingku.

Tanpa menunggu reaksi Yuni, Mas Hadi langsung saja duduk disamping Yuni.
"Andrie, sekarang giliranku ya?" kata Mas Hadi sambil tersenyum padaku.
Mas Hadi langsung saja meremas-remas payudara Yuni dan menggerayangi tubuhnya.
Yuni hanya menyandarkan tubuhnya ketubuhku dan membiarkan tangan Mas Hadi meremas-remas payudaranya. Sementara Mbak Linda hanya tersenyum saja melihat suaminya mulai menggerayangi tubuh adiknya.
"Nah.. Mas Hadi sudah mulai lagi ya.." kata Mbak Linda sambil tersenyum.
"Yuni sekarang giliranku menidurimu ya, karena kamu sudah tahu kan, Andrie juga sudah meniduri isteriku." kata Mas Hadi sambil tersenyum.
"Silahkan saja Mas, aku juga pingin merasakan kontol Mas Hadi" jawab Yuni juga tersenyum.
Yuni membiarkan Mas Hadi memasukkan tangannya kedalam baju Yuni. Malah Yuni semakin bersandar pada tubuhku dan seakan-akan menyodorkan payudaranya untuk diremas Mas Hadi. Melihat itu Mas Hadi kelihatan semakin bernafsu. Mas Hadi langsung membuka baju Yuni. Ternyata Yuni dari rumah sengaja tidak memakai BH, sehingga langsung kelihatan payudaranya yang indah.

Mas Hadi langsung menciumi bibir Yuni di hadapanku. Yunipun membalas ciuman kakak iparnya. Awalnya aku merasa cemburu juga pacarku digituin dihadapanku. Tapi lama-lama aku jadi terbiasa juga dan menikmati apa yang kulihat ini. Yuni dan Mas Hadi masih terus berciuman dan saling melumat bibir dihadapanku. Sementara Mbak Linda hanya tersenyum menyaksikan adegan tersebut. Yuni sudah setengah bugil. Sekarang Mas Hadi mulai menciumi payudara Yuni. Yuni membiarkan saja payudaranya diciumi dan dihisap kiri kanan. Kemudian Mas Hadi mulai melepaskan celana panjang yang di pakai Yuni, hingga dia hanya memakai celana dalam saja. Tapi celana dalamnya juga langsung dilepas Mas Hadi, hingga Yuni benar-benar bugil.

"Wah.. tubuhmu benar-benar indah Yuni.. Sebenarnya sudah lama aku ingin meniduri kamu." kata Mas Hadi dengan penuh nafsu.
Mas Hadi lalu menjilati memek Yuni. Yuni hanya menjerit senang
"Aww.. enak Mas.. terus.." katanya.
Aku yang melihat adegan tersebut jadi terangsang juga. Tanganku mulai meremas-remas payudara Yuni dari belakang. Jadi sementara Mas Hadi menjilati memeknya dari depan aku meremas-remas payudaranya dari belakang. Mbak Linda masih duduk ditempatnya dan sepertinya dia juga sudah mulai terangsang. Tapi dia kelihatannya masih ingin melihat dulu.
"Yuni, katamu dulu ingin dimasuki kontol cowok 2 orang sekaligus, sekarang kesempatanmu ya.." kata Mbak Linda.
"Ya Mbak.. gimana sih rasanya ya.. sekarang Mbak diam dulu disana ya.." kata Yuni dengan mata yang terpejam dan nafas terengah-engah.

Tanganku masih terus meremas-remas payudara Yuni sementara Mas hadi masih asyik menjilati memek Yuni. Kemudian Mas Hadi menanggalkan seluruh pakaiannya hingga benar-benar bugil seperti Yuni. Mas Hadi lalu menyodorkan kontolnya ke Yuni. Yuni langsung mengulum kontol kakak iparnya. Mas Hadi hanya merem melek saja.
"Ahh.. enak Yun.." kata Mas Hadi.
Aku juga sudah tidak tahan lagi. Aku langsung berdiri dan membuka pakaianku hingga bugil. Sementara Yuni sekarang bersandar di sofa sambil menghisap kontol Mas Hadi. Kemudian aku langsung menyodorkan kontolku ke mulut Yuni. Yuni menyambutnya dan menghisapnya bergantian dengan kontol Mas Hadi.

Akhirnya Mas Hadi mulai menindih tubuh Yuni dan memasukkan kontolnya kedalam memek Yuni. Yuni hanya menjerit kecil saja.
"Aww.. enak Mas.." katanya lagi.
Mas Hadi mulai memaju-mundurkan pantatnya dan Yuni semakin mengangkangkan kakinya. Sementara mulutnya asyik mengulum kontolku yang semakin tegang. Mas hadi masih terus menggoyang Yuni dari atas dan Yuni masih terus mengulum-ngulum kontolku dengan bersemangat. Kemudian Mas Hadi menyuruh Yuni menungging. Yuni pun menurutinya. Mas Hadi lalu memasukkan kontolnya dari belakang dan Yuni kembali memasukkan kontolku kedalam mulutnya. Persis adegan waktu aku meniduri Mbak Linda dihadapan suaminya dulu. Tak lama tubuh Mas Hadi kelihatan menegang tanda dia mau orgasme. Benar saja Mas Hadi membenamkan kontolnya dalam-dalam kedalam memek Yuni. Akupun serasa mau keluar juga akibat kontolku dihisap oleh Yuni. Bersamaan dengan itu Yunipun kelihatan juga mau orgasme. Tubuhnya menegang. Aku lalu memegangi kepala Yuni dan membenamkan kontolku kedalam mulutnya. Akhirnya Mas Hadi, aku dan Yuni keluar secara bersamaan.

Kami terduduk di sofa. Yuni dan Mas Hadi tersandar di sofa. Begitu juga denganku. Mbak Linda yang dari tadi melihat saja mulai mendekati Mas Hadi dan mengulum sisia sperma yang menempel di penisnya. Setelah itu Mbak Linda mengulum kontolku dan membersihkan sisa sperma yang menmpel dikontolku dan menelan semua sperma yang telah dijilatnya tadi. Kemudian dia jongkok dihadapan Yuni yang duduk mengangkang dengan mata terpejam. Mbak Linda kemudian juga menjilati memek Yuni yang penuh dengan sperma.

Kulihat Yuni agak kaget dengan yang dilakukan kakaknya.
"Ahh.. Mbak ngapain Mbak..?" kata Yuni lagi.
Tapi Mbak Linda tidak mengacuhkan Yuni, dia tetap saja menjilati memek adiknya itu. Akhirnya mungkin karena enak, Yuni membiarkan saja memeknya dijilati kakaknya. Aku dan Mas Hadi hanya memperhatikan adegan itu. Lama-lama kontolku dan kontol Mas Hadi tegang lagi.

Aku langsung menggerayangi tubuh Mbak Linda yang sedang menjilati memek adiknya. Aku lalu membuka seluruh pakaian Mbak Linda hingga bugil. Kemudian aku menyodorkan kontolku yang sudah tegang ke mulut Mbak Linda dan Mbak Linda menghisap-hisap kontolku. Sementara itu Mas Hadi duduk di sofa dan menyuruh Yuni duduk di pangkuannya. Yuni lalu mengangkangkan kakinya dan mengarahkan kontol Mas Hadi kedalam memeknya. Aku jadi tidak sabar ingin kembali merasakan memek Mbak Linda.

Aku duduk disamping Mas Hadi dan menyuruh Mbak Linda melakukan hal yang sama dengan Yuni. Mbak Linda mengangkangkan kakinya dan memasukkan kontolku kedalam memeknya. Akhirnya kami melakukan hubungan seks dengan duduk berdampingan. Aku terus menciumi dan menghisap payudara Mbak Linda. Begitu juga dengan Mas Hadi masih asyik menghisap payudara Yuni bergantian kiri kanan. Lama kami melakukan hal tersebut.
"Mas kita gantian yuk.." kata Yuni pada Mas Hadi.
Mas hadi hanya mengangguk saja dan melepaskan kontolnya dari memek Yuni. Aku juga melakukan hal yang sama. Mbak Linda mulai melakukan hal tadi dengan suaminya, begitu juga aku dengan Yuni.

Agak lama juga kami melakukan gaya tersebut. Kami bisa saling melihat pasangan lain dengan goyangan pinggul yang makin merangsang. Tak lama kamipun mulai merasakan tanda-tanda mau keluar. Dan akhirnya kamipun keluar hampir bersamaan. Kamipun terkulai lemas di sofa.

Demikianlah, pada waktu itu aku juga bisa kembali meniduri Yuni dan Mbak Linda bergantian. Begitu juga dengan Mas Hadi, juga meniduri Yuni dan Mbak Linda bergantian. Dan sekali waktu aku juga mengajak Yuni ke rumah Sonya. Disana aku juga bisa menikmati tubuh Yuni dan Sonya sekaligus.


Tamat